Rabu. Bukan lompatan. Hanya malam yang habis. Mandi. Air di bahu tidak mencuci warung. Sepatu datar. Dapur hidup. Mama nasi, teh, radar. “Balas?” “Tidak ngebut.” “Search?” “Tidak.” “Packing?” “Tidak.” “Skip?” “Tidak.” “Jenuh?” “Belum.” “Gaun?” “Masih di lemari. Ditutup. Belum.” “Bagus. Angka. Jangan stasiun. Mama jaga mata. Kau jaga kolom. Sore kita lihat lemari. Jangan dijual marah. Jangan dipakai ngebut. Lihat, tutup, makan. Mama cabut katalog kalau jari gatal toko. Mama cabut wifi kalau jari gatal altar. Mama tanya perut, bukan kain.”
Papa koran, “File. Kasur. Kerja. Jangan kabur. Jangan muka warung. Jangan muka gaun. Papa dengar lemari. Papa tidak dengar rundown. Papa capek orang yang jual marah supaya kelihatan sudah selesai. Papa tidak capek hidup. Lanjutkan yang itu. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Bukan gedung. Kalimat sama.”
“Siap, Pa. Siap, Ma.” Gue suap, telur, acar. Hangat. Ojek. Panas. Lobby. Satpam. Lift. Rekan plot, “Serial? Gaun, warung, tahun depan?” “Tidak. Deadline. Jangan lemari. Jangan toko.” File. Kopi pahit. Setiap ingin ketik jemput, gue ketik rumus. Setiap ingin search, gue cek tanggal dua kali. Jam sepuluh: “Udah makan?” Pantry lima suap, enam. “Udah. File. Sore lemari. Lihat. Tutup. Bukan upgrade. Bukan jual marah. Jangan telepon.” “Siap. Audit. Malam. Saya nggak jemput. Saya nggak bawa kotak. Tangan kosong. Jenuh, omong. Saya belum. Kalimat sama.” Papa angguk dari jauh. Siang file. Kolom. Sore pulang wajar. Rumah, cuci tangan, Mama perut, piring. “Makan. Baru kamar. Mama tidak tanya gaun. Mama tanya perut. Kalau piring kosong, Mama kira kamu packing ke toko.” Nasi. Hangat. Cukup. Nyata. Bukan lari.
***
Kamar sore, bukan novel, AC, tas kerja di kursi. Mama duduk di tepi kasur, tidak menyerbu, telinga nyala. Gue buka lemari gaun, melihat kain yang dulu hampir jadi rundown, tidak memakai, tidak memotret, tidak membawa ke pagar. Dada naik. Bukan tiket. Ini milik dulu yang tidak gue buang, tidak gue pakai sebagai janji kawin, tidak gue lempar ke tahun depan, tidak gue jual marah supaya kelihatan sudah move on. Lihat. Tutup. Makan. Aturan Mama. Aturan Papa. Aturan gue.
“Mama tidak minta kamu pakai,” kata Mama pelan. “Mama tidak minta kamu jual. Mama minta kamu jangan ngebut. Kalau suatu hari kamu mau kasih, kasih tenang, bukan marah. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Bukan gedung. Gaun ini bukan tiket. Gaun ini kain. Ditutup. Cukup.”
“Siap, Ma. Saya lihat. Saya tutup. Saya nggak jual marah. Saya nggak pakai ke warung. Saya nggak foto. Bukan tahun ini. Kalimat sama. Jenuh, belum. Kalau iya, omong. Bukan diam di lemari.” Gue masukkan, tutup lemari, cuci tangan seolah tangan bisa membawa altar ke dapur, lalu mengeringkan. Bukan. Lemari butuh tutup, bukan pidato. Laci gelang tetap tertutup. Dua tutup. Cukup.
Chat: “Udah makan? Saya molor, omong. Warung jam tujuh kalau kamu mau. Kalau nggak, rumah, tiga puluh menit, bukan pidato. Tangan kosong.” Gue ketik di dapur: “Warung. Saya makan dulu. Saya buka lemari. Saya tutup. Bukan jual marah. Bukan pakai. Saya omong di sana. Bukan di stasiun. Tahun ini makan. Kalimat sama.” “Siap. Makasih nggak diem. Saya nggak bawa apa-apa. Saya nggak ambil laci Ina. Tangan kosong. Siapa di mobil: saya. Jenuh, omong. Saya belum.” Mama, “Pergi. Makan. Jangan nunggu kosong. Jangan bawa muka gaun sebagai perang. Jangan bawa kain.” “Siap, Ma. Kain di lemari. Saya ke warung.” Foyer. Jantung naik, bukan tiket. Warung. Neon. Nasi. Aturan.
Warung neon, meja dua, es teh, kipas, motor. Gue pesan, makan, bukan korban lemari. Ia datang dasi longgar, maaf, duduk, pesan. “Maaf. File. Saya omong. Kamu makan. Bagus. Lemari. Saya dengar. Saya nggak bawa kotak. Saya nggak minta kamu pakai. Tahun ini makan. Bukan upgrade. Bukan jual marah. Tahun depan omong. Bukan toko. Kalimat sama.”
“Bagus. Nasi saya hampir habis. Pesan. Kita nengok. Saya lihat gaun. Saya tutup. Saya tidak pakai ke sini. Saya tidak foto. Dulu peron. Sekarang warung. Beda. Saya mau yang ini. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Omong bukan toko. Kalau suatu hari saya mau kasih, kasih tenang. Bukan diam-diam. Bukan kejutan di meja. Bukan tahun ini. Jenuh, belum. Kalau iya, omong.”
Ia tidak pidato. Ia makan, nengok, es teh basah. “Saya takut jenuh versi lemari. Makanya saya ke sini. Maaf chat gampang. Dateng basah lebih susah. Saya pilih yang susah. Saya bukan Kavin versi audit. Saya molor, saya omong, saya dateng. Kalau kamu gatal, omong. Jangan packing. Jangan stasiun. Jangan IGD. Gaun dulu cukup ditutup. Saya nggak upgrade diam-diam. Saya nggak masuk toko karena lemari kebuka.”
Gue nengok. Bukan etalase. Bukan toko. Bukan altar. Warung. “Kalau besok lemari lagi, omong. Saya nggak ke stasiun. Saya nasi. Saya nanya udah makan. Mas nanya saya masih di mobil atau nggak. Jangan search. Jangan skip. Jangan upgrade. Jangan diam. Kalimat sama.”
“Siap. Siapa di mobil: saya. Kalau berubah, omong.” Kelingking konyol. Bukan cincin. Bayar, belah, keluar. Ia antar ojek sampai pagar, tidak masuk, izin Mama. “Selamat malam. Udah makan, iya. Janji, bukan tagihan. Besok angka. Jangan lemari jadi altar. Saya juga jangan. Tahun ini makan.”
Rumah, Mama perut. “Kenapa telat?” “Audit. Saya makan dulu. Dia nyusul. Omong. Lemari. Tutup. Bukan stasiun.” Mama angguk, piring sisa. Papa koran, “Kasur. Angka besok. Papa dengar lemari. Papa tidak dengar rundown. Bagus. Jangan sombong. Lulus satu gaun bukan lulus kawin. Kalimat sama.” Gue cuci muka, gaun tertutup, laci tertutup, diary: Rabu. Lemari. Lihat. Tutup. Warung. Omong. Foto Saka. Pesan sudah. Gue miring. Tidur sebelum lemari jadi altar, sebelum kain jadi tiket, sebelum dua kalender jadi dusta. Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti. Rabu lunas lemari yang ditutup. Dada belum sombong. Anjing. Kulkas. Syukur. Tidur. Kasur. Pulang.