Senin. Bukan lompatan. Hanya malam yang habis. Mandi. Air di bahu tidak mencuci talenan. Sepatu datar. Nasi. Dapur hidup. Mama radar. “Makan. Kantor jangan jadi lari. Jangan packing file di kepala sampai perut kosong. Mama cabut wifi kalau jari gatal stasiun. Mama cabut nasi kotak kalau kamu kira skip makan itu prestasi. Kalau angka salah, omong. Jangan packing. Jangan altar. Jangan jadi korban di kolom.” Papa koran, “File. Muka boleh lelah. Angka jangan. Kasur. Kerja. Jangan kabur. Jangan stasiun. Jangan muka liburan. Jangan muka tahun depan. Jangan muka salah jadi tiket. Papa di lantai yang sama. Kalimat sama. Jenuh, omong. Bukan diam di pantry. Salah, omong. Bukan packing.”
“Siap, Pa. Siap, Ma. Angka. Kalau salah, omong. Bukan gedung. Nasi dulu.” Gue suap, telur, acar. Hangat. Ojek. Panas. Lobby, satpam, “Selamat pagi, Nona.” Lift. Meja administrasi, bukan pewaris, bukan cuti, bukan menantu.
Rekan sudah siap yogurt dan plot. “Senin, serial? Masak, kalimat Papa, skip, tahun depan, salah angka?” Gue letakkan tas. “Kerja. Makan. Deadline. Jangan serial. Jangan skip. Jangan pewaris. Kalau salah, omong. Bukan altar. Tahun ini makan. Bukan gedung. Bukan tol. Kalimat sama. Jenuh, omong. Belum.”
Jam sembilan file. Kepala kurang, bukan kosong. Kopi pantry pahit, sadar, bukan enak. Setiap ingin ketik jemput, gue ketik rumus. Setiap ingin search Kavin, gue cek tanggal dua kali. Setiap ingin skip, gue buka kotak Mama, lalu menutupnya sampai jam sepuluh. Laci meja tidak berisi cincin. Laci meja berisi pulpen, karet, dan satu permen yang sudah keras. Itu cukup. Kantor tidak boleh jadi stasiun kedua, tidak boleh jadi alasan packing karena kolom.
Jam sepuluh: “Udah makan?” Gue di pantry, lima suap nasi kotak Mama, enam. Rekan, “Satu lagi. Bos kira sakit.” Lalu gue lihat kolom lagi di meja. Satu angka tidak nyambung. Dada naik. Bukan tiket. Kepala mau ngebut: salah, packing, stasiun, IGD, search, jenuh yang dipaksa jadi perang, Osaka, gaun, aula. Aturan: omong. Jangan packing. Makan sudah. Angka. Jangan katalog. “Udah. File. Ada yang tidak nyambung. Saya omong ke Papa. Jangan telepon. Jangan serial. Saya nggak skip. Saya nggak packing. Kalimat sama.” “Siap. Audit. Saya molor, saya omong. Saya nggak jemput. Salah, omong. Bukan stasiun. Kalimat sama. Jenuh, omong. Saya belum. Bukan tol.”
Papa lewat partisi, muka utuh, bukan muka liburan. “Muka. Ada yang salah?” “Satu kolom. Saya belum beres. Saya nggak skip. Saya nggak packing. Saya omong.” “Bagus. Duduk. Betulkan. Jangan ngebut jadi orang yang kalah di toilet. Jangan kabur ke stasiun. Angka. Kasur. Kerja. Salah itu kerja. Bukan tiket altar. Kalimat sama. Pulang wajar. Makan sudah. Lanjutkan.”
Siang gue betulkan, pelan, bukan pahlawan, bukan korban. Rekan gagal serial. “Lo pucat. Lo mau resign? Lo mau kawin?” “Tidak. Deadline. Jangan plot. Jangan aula.” Folder rapi sebelum jam dinding jadi perintah lari. Papa angguk dari jauh. “Muka utuh. Beres. Jangan sombong. Lulus satu salah bukan lulus kawin. Pulang wajar. Kasur. Kalimat sama.”
Gue ketik ke Mas Rillo: “Angka sempat salah. Saya omong. Saya betulkan. Saya nggak packing. Warung jangan nunggu. Pagar malam kalau Mama izinin, tiga puluh menit. Kalau nggak, video. Saya nggak skip. Saya nggak ke stasiun. Jenuh, omong. Saya belum. Kalimat sama. Bukan tol.”
“Siap. Makasih nggak diem. Makasih nggak packing. Saya makan jam enam. Pagar jam delapan. Macet, saya omong. Siapa di mobil: saya. Salah, omong. Bukan stasiun. Tahun ini makan. Kalimat sama.”
Sore lobby, tidak ada yang jemput. Ojek. Samping kosong, tidak sakit. Rumah, Mama perut, piring. “Makan. Mama tidak tanya kolom. Mama tanya perut. Kalau piring kosong, Mama kira kamu packing karena salah.” Nasi. Hangat. Papa pulang, angguk. “Beres. Muka utuh. Salah, omong. Bagus. Kasur. Jangan ngebut jadi istri. Jadi orang yang makan dulu. Kalimat sama.” Chat Inara: “Mas gue cerita angka. Lo jangan injek. Lo jangan packing. Aldo charger. Nat tidur.” Gue: “Nasi. Betul. Pagar malam. Pelan. Bukan paket.” Mama, “Pergi nanti. Sekarang piring.” Cukup. Nyata.
***
Jam delapan bel. Ia basah, muka lelah, tangan kosong. “Maaf. File. Saya omong. Saya makan jam enam. Saya nggak nunggu kamu lapar. Terima kasih udah makan dulu. Terima kasih nggak packing. Salah, Ina cerita. Omong. Bukan stasiun. Siapa di mobil: saya. Jenuh, omong. Saya belum. Kalimat sama. Bukan tol.” Papa persilakan, kopi, bukan sidang. Mama dari dapur, telinga nyala.
“Hari ini salah, omong, beres. Besok angka. Jangan ngebut file sampai lupa orang di mobil,” kata Papa pelan. “Nengok yang telat lebih baik daripada nunggu yang diem. Papa capek altar. Papa capek packing karena kolom. Papa tidak capek hidup. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Kalimat sama. Jangan sombong.”
“Siap, Pak. Saya dengar. Saya omong. Tahun ini bukan gedung. Salah, omong. Bukan packing. Bukan tol.”
Mama tupperware. “Malam. Dua-duanya. Jangan telat makan. Kolom bukan altar.” Di pagar, angin, anjing, kelingking. “Ini salah. Kita omong. Bukan IGD. Bukan stasiun. Bukan packing.” “Bukan IGD. Siapa di mobil: saya. Kalau berubah, omong. Kalimat sama.” Gue tutup pagar. Dada penuh. Bukan sesak. Lulus Senin yang salah. Bukan lulus kawin.
Kamar. Gaun tertutup. Laci tertutup. Tas kerja di sudut. Diary kepala: Senin. Angka salah. Omong. Betul. Bukan packing. Bukan stasiun. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Bukan gedung. Kalimat sama. Jenuh, belum. Foto Saka di grup, laci hati, tidak altar. Pesan: “Selamat malam. Udah makan. Janji, bukan tagihan. Jangan skip. Jangan search. Siapa di mobil: saya. Salah, omong. Bukan packing.” Gue miring ke dinding. Tidak packing. Tidak buka katalog. Tidur sebelum salah jadi tiket, sebelum file jadi lari, sebelum dua kalender jadi dusta, sebelum kolom jadi altar. Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti. Senin lunas angka dan nasi. Dada belum sombong. Anjing. Kulkas. Gelap sopan. Napas. Syukur. Tidur. Kasur. Pulang. Hidup. Bukan lari. Kalimat sama.