“Naha? Abah sareng Nyai teh kasieunan bandana seep ku anak incu? Emang ngarumpulkeun banda teh jang naon ari sanes jang anak incu mah?”
Tidak pernah terpikirkan sebelumnya, kata kata itu meluncur begitu saja dari bibir Enjang kepada perempuan yang telah melahirkannya beberapa puluh tahun lalu. Sejak kecil, Enjang terkenal anak yang penurut. Tidak banyak membangkang dan senang membantu orang tua. Tidak juga bengal atau nakal seperti anak anak lain kebanyakan. Contohnya ketika musim layangan peteng raksasa yang saat itu memerlukan uang yang lumayan, ditambah semua anak merengek pada orang tuanya, hanya Enjang yang tidak demikian. Ia hanya menunggu Abah membelikan. Jika tidak dibelikan, ia tidak akan merengek-rengek.
“Setelah sekian lama, Nyai. Apa pernah Enjang meminta sesuatu kepada Nya