Ia menjanda. Menjadi seorang ibu tunggal di masa muda. Usianya baru menginjak delapan belas tahun. Tapi, ia harus menjadi dewasa sebelum waktunya. Kini suaminya telah mati, meninggalkan wanita itu dengan anak lelakinya yang baru berusia dua tahun. Sedang lucu-lucunya. Sejak saat itu, Nyai menjadi seseorang yang benar-benar pendiam. Tidak banyak bicara seperti saat ia kecil dulu yang rajin bertanya tentang ini dan itu. Ia juga lebih sering terlihat murung, memandang ke luar jendela kayu, melamunkan sesuatu, entah apa.
Sampai di suatu hari, setahun selepas kepergian suaminya yang terbilang tiba-tiba itu, Nyai bertemu lagi dengan seseorang. Ada seorang lelaki. Seorang pegawai di salah satu badan usaha milik negara yang kebetulan adalah seorang teman dari anak tetangga di seberang rumah oran