Kami sudah duduk berempat. Teh Kinar belum mengatakan apapun selain ekspresi wajahnya yang terlihat muram. Rendi mengacungkan toples yang ia ingin kembalikan pada Teh Kinar yang kebetulan malah bertemu dengan mereka di bawah pohon mangga.
“Ini, Teh Kinar. Saya niatnya mau mengembalikan ini ke rumah. Tapi, ternyata Teh Kinar malah lebih dulu mendatangi saya di sini.”
Rendi akhirnya membuka pembicaraan di antara kami berempat. Sementara itu, belum ada yang berani bertanya tentang ekspresi wajah yang ditampilkan Teh Kinar. Awalnya kami berpikir bahwa Teh Kinar sedang ada masalah pribadi yang tidak bisa ia ceritakan kepada kami. Ia hanya ingin berbagi rasa sedih daripada harus memendamnya seorang diri. Tapi, rupanya, tanpa kami bertanya pun Teh Kinar menceritakannya pada kami. Menurutnya, k