Bendera kuning berkibar di depan gang rumah kami. Orang-orang berkumpul dan berlalu lalang. Kebanyakan dari mereka memasang wajah yang dipenuhi dengan air mata dan rasa kehilangan. Sebenarnya, aku tidak berharap bahwa mereka mengerumuni rumahku. Tidak, semua orang mungkin tidak menginginkannya.
Semuanya terasa berputar, di hutan ini setelah semua yang telah dilalui, kilas balik, adegan demi adegan mulai bermunculan di kepala. Aku merasa pusing. Semuanya terlihat saling berebut tempat untuk menguasai kepalaku.
Dua orang yang aku cintai sepanjang hidup terbujur kaku dengan luka yang tersebar di tubuh. Raga yang sejak tadi kupandangi itu sudah tidak bernyawa lagi. Aku bahkan sudah kehabisan kata-kata. Tidak lagi berteriak, menentang kehendak Tuhan yang rupanya lebih mencintai mereka. Tapi,