Aku terbangun dari tidur panjangku dengan mata yang mengerjap berat untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retinaku.
Aku melirik sekitar tempat ku berbaring. Putih, hanya warna itu yang dapat tertangkap oleh mataku.
Dimana ini?
Aroma obat seketika menusuk hidungku. Dengan itu, aku langsung tahu bahwa sekarang aku sedang berada dirumah sakit.
Aku benci ini! Aku tak suka rumah sakit! Aku juga benci aroma obat!
Aku berusaha menggerakkan anggota tubuhku, tapi tak bisa. Seluruh badanku terasa kaku dan sulit bergerak. Seketika perasaan waswas muncul dibenakku.
Apa aku lumpuh?
Seingatku terakhir kali aku sedang berada di dalam mobil bersama dengan suamiku. Tiba-tiba saja perut besarku mulas dan rok yang aku kenakan menjadi basah.
*Flashback ON
"Akhhh...!" Jeritku, refleks tangan kiriku langsung memegang perut buncitku dan tangan kanan meremas jok mobil yang sedang kududuki.
"Kamu kenapa?" Suamiku langsung menoleh kearahku dan menjulurkan tangan kirinya untuk menggapai perutku sedang tangan kanannya masih setia memegang kemudi.
"Sa-kit mas, hufft.. Perutku mulas, hufft.. Se.. Se-pertinya a-ku ak-an mela-hir-kan, hufft.. hufft.." Aku menjawab dengan nada patah patah mengatur pernapasanku untuk mengurangi rasa mulas diperutku.
"APA? Tapi HPL nya kan seminggu lagi sayang." Air muka suamiku sudah mulai gelisah, dia menatapku bergantian dengan kondisi jalanan yang ada didepannya.
"Ta..pi sak-it mas, hufft.. hufft..!"
"Iya iya kita langsung kerumah sakit ya sayang." Tangan kiri suamiku mengelus puncak kepalaku bergantian dengan perut buncitku.
"Sabar ya, sebentar lagi kita sam..."
'TIIINN!'
'BRUKK'
*Flashback Off
Mengingat keadaan terakhir ku aku langsung berusaha mengangkat kepalaku untuk melihat perutku.
Sulit.
Leherku kaku tak bisa bergerak, hanya mataku yang bisa aku gerakan.
Aku berusaha melirik sekuat tenaga untuk melihat kondisi perutku, RATA! Perutku sudah rata.
Apa yang terjadi? Dimana anakku?
Aku ingin sekali berbicara dan berteriak, tapi mulutku pun sulit untuk bergerak. Aku hanya bisa menangis dan menangis.
Apa aku benar-benar lumpuh? Apa aku akan menjadi mayat hidup yang hanya bisa menggerakan bola mataku? Dimana suami dan anakku? Bagaimana keadaan mereka?
Tiba-tiba suara derit pintu tertangkap di gendang telingaku.
Seorang perawat cantik yang kuperkirakan berusia duapuluh tahunan berjalan menghampiri pembaringanku, aku hanya bisa meliriknya.
Perawat itu terlihat kaget bercampur bahagia setelah melihat kondisiku.
"Anda sudah sadar nyonya?" Suster itu langsung menekan tombol yang berada disamping ranjangku untuk memanggil dokter.
Aku berusaha membuka mulutku untuk berbicara pada suster itu, setelah berusaha sekuat tenaga akhirnya aku bisa membuka mulutku, tapi tak ada suara yang berhasil keluar dari sana.
Apa ini? Apa aku juga bisu?
Melihat mulutku yang terbuka berusaha untuk berbicara dan mataku yang sudah mengeluarkan air mata, suster itu sepertinya mengerti apa yang ada dipikiranku.
"Anda tidak perlu khawatir nyonya." Suster itu tersenyum padaku
Bagaimana aku tidak khawatir, tubuhku tak bisa bergerak, aku lumpuh.
"Anda tidak lumpuh, tubuh anda memang belum bisa digerakkan, itu suatu hal yang wajar." Mataku langsung melotot kearahnya.
Wajar katanya? Aku lumpuh dan itu suatu hal yang wajar pikir suster itu? Apa dia sudah tidak waras?
Mengapa? Dan kenapa aku bisa berakhir seperti ini? Apa karena kecelakaan itu?
Aku ingin sekali tertawa dan menangis disaat yang bersamaan.
Lagi, suster itu melemparkan senyum manisnya padaku. Aku muak melihat senyum nya itu, kenapa dia tidak berbicara langsung pada intinya. Kenapa dan mengapa aku bisa lumpuh?
"Anda baru saja tersadar dari koma anda, jadi hal wajar bila tubuh anda masih terasa kaku dan sulit untuk digerakkan."
KOMA? AKU KOMA?
"Ya, anda mengalami koma selama 7 tahun nyonya. Tapi anda tidak perlu khawatir, anda tidak lumpuh. Anda akan bisa bergerak leluasa seperti sediakala setelah anda menjalani teraphi."
7 Tahun? Aku tak sadarkan diri selama 7 tahun?
Lalu, bagaimana nasib anakku? Dimana dia? Apa dia selamat?
Dan dimana suamiku? Kenapa dia tak ada disekitar ku? Apa dia sedang bekerja?
Ya, suamiku pasti sedang bekerja.
Aku melirik jendela di ruang rawatku. Sepertinya ini sudah akan memasuki sore hari. Aku hanya harus bersabar menunggu sampai suamiku keluar dari kantor dan menemuiku malam ini.
Ya, benar. Aku hanya harus bersabar sampai suamiku tiba.
To Be Continue