Beberapa hari ini aku belum bertemu dengan Rey. Waktu itu setelah makan, dia mengantarku pulang. Sebelum pamit dia memintaku untuk memikirkan tawarannya. Aku sudah memikirkannya, tapi belum memutuskan. Semua tergantung syarat dan ketentuan yang akan kuajukan padanya, disetujui atau tidak. Notifikasi ponselku berbunyi, menandakan pesan masuk.
Rey: Makan malam,yuk. Aku jemput ya.
Aku: Oke. Ada yang mau aku sampaikan juga.
Pasti Rey sudah tidak sabar mendengar jawabanku. Aku juga tidak sabar lihat ekspresinya saat tahu syarat dan ketentuan yang kubuat. Hanya membayangkan wajahnya yang terkaget-kaget, membuatku tersenyum geli.
"Kenapa senyum-senyum sendiri? Diajakin nge-date sama cowok?" tiba-tiba suara Rania mengejutkanku. Dia lalu duduk di sampingku. Saat ini aku berada di pantry. Menunggu para karyawan pulang. Setelah itu baru para office girl sepertiku ini bisa melanjutkan tugasnya.
"Nope, sebentar lagi gue dapat rejeki nomplok." Makin kulebarkan senyumku. Teman kerjaku ini kadar materialistisnya hampir sama denganku. Kalau sudah mendengar hal yang berhubungan dengan uang, jiwa miskinnya seperti meronta-ronta.
"Dari mana? Dapat undian berhadiah? Atau menang judi online? Atau jangan-jangan dapat uang dari sugar daddy ya?"
"Jangan ngawur. Gue dapat pekerjaan sampingan. Lagi pula mana ada sugar daddy yang mau sama office girl seperti kita, Ran. Mereka juga pilih-pilih kali."
"Pekerjaan sampingan apa? Jadi pacar gadungannya temen lo lagi?"
Aku tertawa mendengar pertanyaan Rania. Beberapa kali aku bercerita padanya, saat aku dibayar oleh Rey untuk jadi pacar pura-pura. "Ya, semacam itulah." Untuk kali ini aku belum bisa cerita ke Rania. Mungkin nanti.
"Gue jadi penasaran, tampang teman lo itu seperti apa. Pasti cakep banget. Gonta ganti cewek sudah kayak ganti celana dalam saja."
Rania memang belum pernah bertemu dengan Rey. Aku juga tidak pernah menceritakan Rey secara detail padanya. "Banget. Nggak hanya good looking tapi juga good rekening."
"Busyet. Kalau begitu kenapa nggak lo pacari aja dia?"
"Nggak mungkin banget kan, pacaran sama teman sendiri, Ran."
"Kenalin ke gue aja kalau gitu. Siapa tahu dia bakal tergoda sama mojang priangan yang terkenal cantik-cantik, macam gue gini."
"Boleh deh. Nanti gue kenalin. Yang penting yakin aja dulu, malu belakangan. Iya nggak?" Aku bersiap lari sambil menahan tawa, ketika Rania berusaha menimpukku dengan serbet yang tersampir di bahunya.
* * *
"Lama banget sih," kata Rey begitu aku masuk ke dalam mobilnya. Aroma parfum Rey langsung masuk indera penciumanku. Segar.
"Sori, ada beberapa karyawan lembur. Tadi aku sudah kirim pesan kan kalau terlambat, nggak usah dijemput."
Rey tidak menjawab. Dia langsung mengemudikan mobilnya. Mungkin ngambek karena terlalu lama menungguku. Aku terlambat dua jam dari jadwal janjian kami.
"Makanya cari pekerjaan yang lain, Ta. Betah banget jadi office girl. Pekerjaan yang lebih layak, jam kerjanya teratur, jadi nggak sampai pulang malam-malam kayak gini."
Ingin rasanya aku menyumpal mulut Rey dengan kaos kaki yang tidak dicuci satu minggu. Kalau kata-katanya sampai didengar orang yang seprofesi denganku pasti mereka akan tersinggung. Dikira mencari pekerjaan itu gampang. Rey mana pernah bersusah payah mencari pekerjaan dengan kapasitas pendidikan yang tidak tinggi. Mana tahu dia rasanya ditolak lamaran pekerjaannya, bahkan saat baru saja menyerahkan berkas. Namun aku hanya diam saja. Rey dalam mode seperti ini sedang menumpahkan kekesalannya. Tidak perlu didebat.
"Kenapa? Marah?" tanya Rey sambil menyentil dahiku pelan.
"Buat apa? Emang kenyataannya begitu. Coba aja kamu berani ngomong kayak gitu di depan teman-teman kerjaku. Bisa habis kamu lawan ras terkuat di bumi ini."
Rey hanya berdecak, kemudian fokus menyetir. Rey membelokkan mobilnya di salah satu kafe yang menurutku lebih mirip club malam. Tempat parkirnya terlihat penuh, pasti ramai sekali pengunjungnya. Untung aku tadi sempat mengganti seragam kebanggaanku dengan pakaian yang lebih layak. Di akhir pekan seperti ini, banyak orang yang ingin mencari hiburan. Sekedar menghilangkan kepenatan setelah seminggu sibuk bekerja.
"Ini kafe biasa, Cinta. Cuma kalau tengah malam, di bagian dalam kafe ini ada diskotik. Kita bisa lanjut sampai pagi kalau kamu mau."
Rey menyeringai saat melihatku memutar bola mata. Aku tahu Rey hanya meledekku. Aku paling anti pergi clubing, apalagi minum minuman beralkohol. Rey sudah pasti tahu itu.
"Aku sengaja pilih tempat ini, karena obrolan kita pasti bakalan panjang. Cuma ini kafe yang buka sampai larut malam."
"Kamu nggak usah khawatir soal Vano, karena aku sudah menelponnya. Sudah kupesankan gofood juga." Rey melanjutkan saat aku baru mau mengatakan soal Vano.
Kami memilih tempat duduk di sudut ruangan agar lebih leluasa dalam berbicara. "Jadi apa yang mau kamu sampaikan?" tanya Rey begitu pramusaji kafe selesai mencatat pesanan kami. "Sudah ambil keputusan?"
Aku menggeleng. "Ini baca dulu syarat dan ketentuannya. Kalau kamu setuju, oke aku terima tawaran kamu." Aku menyodorkan selembar kertas pada Rey. Dia mengerutkan kening saat menerima.
Syarat dan Ketentuan Bisnis
1. Pihak 1 bertanggung jawab atas segala tindakan bisnis.
2. Pihak 1 wajib melindungi pihak 2 atas segala dampak yang ditimbulkan bisnis ini.
3. Pihak 1 yang mengusahakan semua tindakan untuk mencapai keberhasilan bisnis, pihak 2 hanya terima beres.
4. Pihak 1 wajib memberi kompensasi pada pihak 2, terlepas dari berhasil atau tidaknya bisnis yang wajib diberikan di muka.
5. Pihak 1 dan pihak 2 tidak saling mencampuri masalah pribadi.
6. Jika bisnis berjalan lancar akan dibuat kontrak kerja sama lebih lanjut.
Ekspresi Rey berubah-ubah saat membaca kalimat-kalimat yang kutulis. Awalnya terlihat terkejut, kemudian tersenyum sejenis senyum yang meremehkan. Lalu tiba-tiba dahinya mengkerut. Aku memang sengaja membuatnya jadi pihak yang susah agar berpikir ulang untuk melanjutkan rencananya ini. Setelah meletakkan kertas di meja dia bertanya, "pihak satu siapa?"
"Jelas kamu, Rey."
"Poin 3 memberatkan banget di aku, Ta. Mana bisa aku usaha sendiri tanpa bantuan kamu. Buat apa kerja sama ini kalau kamu nggak terlibat?"
"Aku jelas terlibat Rey, maksudku kamu yang susun segala rencananya aku tinggal action aja."
Rey menyugar rambutnya, lalu bersedekap. Sebelum melanjutkan obrolan, kami menunggu pelayan yang menyajikan pesanan kami pergi. "Oke. Kali ini berapa yang kamu minta?"
Aku bersiap menjatuhkan bom. Aku tidak pernah meminta kompensasi "bisnis" kami sebesar ini. "Dua ratus juta."
Aku mengamati wajah Rey. Tidak ada raut terkejut sama sekali. Memang bagi dia uang sejumlah itu tidak ada artinya. Tapi memurutku nominal ini sudah tidak masuk akal.
"Oke, deal."
Kenapa malah aku yang terkejut? Semudah itu Rey menyetujui. "Kamu nggak keberatan dengan nominal segitu?"
Rey menggeleng. "Sedikit terkejut sih. Aku kira kamu bakal minta lebih banyak. Bagaimanapun juga, bisnis kali ini akan menyita banyak ruang privasi kamu."
"Tahu begitu aku minta yang lebih banyak lagi." Aku mulai bersungut-sungut. Rey benar. Sebenarnya uang sebesar itu tidak sebanding dengan kepentingan pribadiku yang akan terbelenggu.
"Masih bisa dirubah kok, Ta. Berapapun yang kamu minta aku pasti setuju." Rey berkata dengan santai sambil meneguk minumannya. "Tapi tunggu, uang sebanyak itu mau buat apa? Selama kenal kamu, aku tahu kamu bukan cewek yang neko-neko soal gaya hidup."
"Poin nomor lima, tidak boleh mencampuri urusan pribadi."
Rey mendengus. "Biasanya juga aku tahu masalah pribadi kamu dari A-Z." Kemudian tangannya menyuapkan potongan kue keju saat aku memanyunkan bibirku.
"Pantesan nggak balas chat di grup. Lagi berduaan disini orangnya."
Aku menoleh ke arah suara yang ternyata Fathan yang kemudian duduk bergabung di meja kami, disusul Bisma dan Darrel. Ketiganya adalah teman Rey.
"Mana sempat cek HP kalau udah ada cewek cantik di depannya. Mana lagi suap-suapan pula." Bisma yang biasanya paling kalem ikut protes. Kulihat Rey segera membuka ponselnya. Sepertinya membuka chat yang terlewat dari teman-temannya.
"Udah jelas kayak gini masih juga nggak mau ngaku lo. Udah jadian sono, keburu disamber orang baru tahu rasa lo." Aku melihat ke arah Darrel yang baru saja bicara sambil meninju lengan Rey. Diantara mereka bertiga aku paling mengenal Darrel karena kami dulu juga satu sekolah waktu SMA. Dia juga yang paling sering menggodaku dan Rey yang katanya terjebak friendzone.
"Rel, jangan mulai deh. Kami nggak suap-suapan. Malah lebih tepatnya Rey menyumpal mulutku." Aku berusaha meluruskan keadaan.
"Apa Ta? Menyumpal mulut? Pakai apa? Kenapa pikiranku jadi traveling ya." Fathan mulai tertawa sambil menyikut lengan Rey. Aku bingung, apa yang dia tertawakan. Apa ada yang salah dengan diksi yang kugunakan?
"Lo semua nggak perlu khawatir. Kami memang udah jadian. Tunggu aja, undangan bakal sampai di rumah kalian." Seketika aku melotot ke arah Rey. Apa bisnis itu sudah harus dimulai saat ini juga? Apa kami juga harus bermain peran di depan teman-temannya. Dasar Rey b******k. Bukannya harus briefing dulu sebelum mulai.
Tidak beda jauh denganku, ketiga teman Rey sepertinya juga terkejut. "Lo serius? Cinta, ini beneran?" Darrel yang pertama kali menyuarakan rasa ketidakpercayaannya. Dia menatapku dan Rey bergantian.
"Cinta, saranku pikirkan ulang keputusanmu. Kamu tahu sendiri kan Rey brengseknya kayak apa." Nasihat Bisma memang benar. Kalau ini bukan pura-pura, tentu aku akan berpikir seribu kali untuk menikah dengan Rey.
"Iya, Ta. Selama ini lo udah direpotkan dengan kelakuan Rey. Apa lo mau seumur hidup dapat tekanan dari Rey?" lanjut Darrel. Padahal selama ini dia yang selalu menjodoh-jodohkan kami.
Sebelum menjawab, kudengar Rey berdecak. "Bingung sama lo semua. Waktu temenan, disuruh jadian. Giliran udah jadian pada nggak percaya."
"Gue percaya kok, apalagi Cinta udah kena sumpalan lo." Lagi-lagi Fathan menertawakan perkataannya sendiri. Menurutku memang Fathan ini yang paling tidak terfilter bicaranya.
Semakin lama obrolan mereka semaki absurd. Sudah saatnya aku harus pamit duluan. Mereka mungkin akan melanjutkannya sampai pagi.
"Gue antar Cinta dulu. Kalian masuk aja, nanti gue nyusul." Rey pamit pada teman-temannya. Aku pun juga ikut pamit.
"Cinta, jangan lupa pikir lagi keputusannya," kata Bisma saat aku akan beranjak pergi.
"Iya, Mas. Aku pamit pulang dulu ya, Mas Bisma, Mas Fathan, Darrel," jawabku sambil tersenyum. Demi kesopanan aku memang memanggil Bisma dan Fathan dengan embel-embel "Mas" karena kami jarang sekali bertemu kalau tidak kebetulan seperti ini. Aku sadar diri, tidak mungkin aku masuk ke dalam circle pergaulan mereka.
Setelah pamit Rey menggandengku keluar kafe. Totalitas sekali dia dalam memainkan perannya. Setelah ini harus kuperjelas, tugas dan wewenang apa saja yang ada dalam bisnis ini.