“Nadia!” Suara berat menghiasi gendang telinga perempuan si punya nama itu.
Gadis itu menoleh mendapati lelaki jangkung setengah berlari ke arahnya, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun gadis itu menunggu di trotoar jalan
“Nadia kan? Maaf ini bukumu ketinggalan diangkot” kata pemuda itu menjelaskan kejadian.
Pemuda itu langsung pergi dengan menyerahkan buku berwarna coklat tua dengan tulisan ‘Nadia Ulfa’ timbul bergliter warna krem dibagian pojok kiri bawah buku itu, belum Nadia mengucapkan terima kasih karena buku jadwal hariannya hadiah dari ayahnya saat ulang tahun ke 17 tahun hampir saja hilang tak berbekas.
Hari ini adalah hari pertama ospek, Nadia menggunakan baju putih berbahan katun dan rok hitam dibawah lutut dengan rambut dikuncir kuda untuk menghindari gerah, pasti kegiatan hari ini aneh-aneh jadilah Nadia mengenakan pakaian senyaman mungkin.
Kegiatan ospek hampir saja selesai namun masih ada satu tugas lagi sebelum pulang, wajah Nadia sudah sangat lusuh waktu juga sudah menunjukkan jam 17.20 di arloji digital kecil warna hitam dipergelangan tangan Nadia.
“Baik, selembar kertas sudah dibagikan. Silakan dikerjakan tugasnya sebelum jam enam sore, kalau tidak selesai tidak boleh pulang” imbuh seorang pemuda yang katanya ketua BEM yang menanggungjawabi proses ospek ini.
Kertas selembar sudah berada ditangan mungil Nadia dibaca kata perkata yang ada disana hanya ada dua tugas yang pertama hitung ubin yang ada di ruang aula yang kedua cari tahu identitas dan tanda tangan ketua entepreunership. Dan itu dikerjakan sendirian.
“Kok gak ngotak yang ngasih tugas yaaa” gerutu Nadia dalam hati
“Waktu dimulai dari sekarang” semua mahasiswa baru berhamburan di lapangan luas kampus, ada yg bertanya sama teman sejawatnya tugasnya sama atau tidak, ada yang langsung berlari ke lokasi karena sudah tahu apa yang harus dikerjakan. Namun Nadia masih diposisi yang sama tak bergerak sama sekali.
Salah satu panitia melihat keanehan Nadia dan langsung menghampirinya “apa ada masalah nona” kata pemuda yang memiliki hidung bangir itu menyapa Nadia
“Maaf kak, apa tidak bisa ganti tugas saya” jawabnya enteng
“Kenapa, apa yang buat kamu keberatan dengan tugasnya”
“Saya tidak keberatan, namun saya harus kerja lagi. Waktunya tidak sempat apalagi harus menghitung ubin aula yang sebesar itu” kata Nadia menjelaskan
“Maaf nggak bisa, kamu kan bisa izin kerja untuk hari ini saja” sangat diluar nalar apa katanya
“Baik kak” ucap Nadia menyerah.
Nadia setengah berlari menyelesaikan tugas pertama, ternyata tidak hanya dia yang ditugaskan menghitung ubin ada 3 mahasiswa yg saat ini sibuk nunduk menghitung benda yang dipijak itu.
Fokus Nadia tidak terganggu sama sekali, dan langsung siap dalam hitungan 3 menit saja.
Nadia bertanya kesana kemari tentang tugas yang kedua, kebetulan tidak ada yang sama dengan tugasnya. Nadia putar otak harus cari dimana ketua entepreunership itu, ruangan juga tidak punya, katanya kakak angkatan organisasi itu sering menumpang ruangan majalah untuk rapat atau kegiatan lain, kalau tidak salah namanya Alfa Samudra.
“Organisasi apa itu yang tak punya ruangan sendiri” pikir Nadia kesal
Nadia kembali bertanya pada salah satu pemuda yang duduk di salah satu kursi besi panjang yang sedang sibuk dengan buku dan laptopnya, sepertinya sedang sibuk mengerjakan tugas.
“Maaf kak, mau nanya kakak tau gak, posisi ketua entepreunership dimana”
“Kenapa?” Kata pemuda berbaju kotak-kotak berwarna merah bercampur hitam itu.
“Eeeh tunggu, kakak yang tadi ngasih buku ku kan, yang ketinggalan diangkot?” Nadia mengatur napas sejenak “waaahh kebetulan kk, saya lupa bilang terima kasih, terima kasih ya kak” belum ada jawaban Nadia masih terus ngoceh “kan gini kak, aku lagi cari kak Alfa Samudra katanya dia ketua entepreunership jadi mau nanya-nanya sekalian minta tandatangan kak”
“Hmm terus” kata Pemuda berkulit putih itu.
“Saya cape banget lo kak, cari dia kesana kemari tapi gak ada yang tau, lagian pun aneh ya ada gitu organisasi gak punya ruangan khusus, strukturalnya gak jelas, katanya pembina nya juga gak ada, kok bisa jalan ya organisasi yang kek begitu” Oceh Nadia yang tidak ada titiknya.
“Jadi kakak tau gak kak Alfa itu dimana?”
Pemuda itu tidak berbicara sama sekali, namun dia mengeluarkan Kartu Tanda Mahasiswa dan ditunjukkan ke gadis bermata coklat yang menghina organisasi nya itu.
Sontak Nadia kaget matanya berubah menjadi bulat dan mulutnya menganga beberapa diameter “Kak Alfa?” Panggilnya sambil menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga.
“Ya kenapa?” Alfa memasukkan barang-barang nya kedalam ransel hitam nya. Dan beranjak pergi
“Kak….., kak….., tolong kak. Saya ada kerja lagi harus pulang cepat. Saya wawancara kakak sebentar yaaa”
“Saya sibuk” jawabnya singkat dan berjalan santai dengan kaki jangkung nya itu.
Nadia inisiatif langsung merogo kantong roknya dan menemukan benda pipih layar sentuh yang biasa disebut ponsel pintar itu.
Nadia menyamai langkah Alfa dan berlari mendahuluinya langsung membuka fitur kamera dan
Jepret
Sontak alis Alfa menaik sedikit “apa-apaan kamu!”
“Maaf kak tapi ini untuk kesejahteraan rakyat” ucap Nadia berlari menjauhi pemuda mata elang itu.
Ternyata banyak teman seangkatan nya yang belum selesai dengan tugasnya, namun banyak juga yang sudah mengemasi barang untuk lanjut pulang. Nadia memberikan kertas tugas itu ke panitia
“Loh tugas yang kedua mana? Kok gak ada” Dandi yang bingung karena kolom nomor dua masih bersih tanpa coretan
“Maaf kak, Kak Alfa nya gak mau di wawancara, ini dia buktinya” Nadia menunjukkan layar ponselnya dan terpampang lah wajah maskulin Alfa yang sedikit buram. “Dia katanya juga mau pulang, katanya capek kak” bohong Nadia, agar diluluskan dari tugas-tugas aneh itu.
Dandi mengeluarkan ponsel nya dan menelpon salah satu kontak di ponsel pintarnya. Dan tersambung “halo fa, ada salah satu mahasiswa yang mau wawancara lo, lo dimana sekarang”
“Pulang” imbuh Alfa singkat, “suruh dia kerumah gue” lanjutnya
“Ada masalah apa, broo?”
“Dah lagi diangkot ni, Dah ya” Alfa memutuskan sambungan sepihak
Tangan Nadia terasa dingin takut bohong nya ketahuan, dan lagi-lagi dia memikirkan kerja paruh waktunya, “kk sudah ya, saya mau kerja” ucapnya enteng
“Cari Alfa sampai rumahnya. Besok jangan masuk lagi kalau kamu tidak berhasil mewawancarai Alfa”
“Tapi saya tidak tahu rumah Kak Alfa, kak”
“Saya tidak mau tau, itu urusan kamu” Dandi pun berangsur pergi.
Nadia masih mematung
Dimana lah rumah manusia sok cool itu