MASA SEKARANG
"Seorang CEO Aaron Loony telah berhasil membangun sekolah untuk anak tidak mampu. Beliau telah memotong pita dan memotong tumpeng sebagai tanda sekolah telah dimulai. " Seorang pewarta sedang menyiarkan berita untuk konsumsi publik.
"Tuan Aaron, akhirnya sekolah yang anda bangun selama satu tahun telah berhasil anda resmikan. Bagaimana perasaan anda? " Tanya Wartawan.
"Maaf dan terimakasih. " Aaron yang terkenal dingin dan tak tersentuh siapapun telah berlalu dan tak menjelaskan apapun lagi.
Ia membuka pintu mobil tapi ia kembali menatap sebuah gedung yang membuatnya bangga.
"Ancika School. "
Aaron membelah jalanan dengan mobilnya menuju kesebuah tempat dimana ia akan merasa tenang dan damai saat ada disana.
Ia parkirkan mobilnya disana lalu ia segera mengambil bunga. Sebuah Bucket bunga mawar merah kesukaan seseorang telah ia genggam ditangannya.
Senyumnya mengembang bahkan senyum itu tak ada yang pernah melihatnya.
"Hai, kau sudah lama menunggu? " Tanya Aaron.
Ia letakkan bucket bunga itu disebuah pusara yang sering ia datangi. "Ancika Marlena Loony. "
Satu tahun yang lalu
Sepasang kekasih yang belum halal sedang menikmati malam mereka disebuah apartemen.
Mereka tak menggubris apapun yang ada disekitar mereka bahkan beberapa kali ponsel mereka berbunyipun mereka tak peduli.
"Yaaahhh baby. " Luna seorang selebgram yang sedang menahan gejolak dari kegiatan mereka.
Ia terus meracau sebagai gambaran rasa yang ia dapatkan.
Ia meremat seprai sebagai penyaluran rasa yang tak bisa dibayangkan.
Aaron yang sedang bergoyangpun lama-lama goyangannya semakin kencang.
Miliknya terasa berkedut saat lahar kental itu menyembur diperut Luna.
Aaron yang kelelahan ambruk di kasur, matanya sambil terpejam dan mereka terlelap sampai pagi.
Di unit lain sebuah keluarga yang sangat harmonis sedang mengatur jodoh untuk anak perempuan pertama mereka.
Ancika Marlena, gadis berusia dua puluh lima tahun yang berusaha dijodohkan dengan pria pilihan ayahnya.
Andre SkhoLado , pria yang sangat tegas tapi sangat menyayangi keluarganya.
Andre dan istrinya sudah berada di kota selama beberapa hari untuk mencarikan jodoh untuk Cika.
"Ayah ini kopinya. " Ucap Cika. Gadis yang berpenampilan sederhana dan memakai kaca mata.
Andre selalu berambisi untuk membuat Cika pintar karena baginya orang pintar akan selalu sukses.
"Kau mau kemana? " Tanya Andre.
"Ke kantor dong ayah, kemana lagi? " Balas tanya Cika.
"Sebentar lagi keluarga Rio akan datang , dan kami akan membicarakan hari baiknya. " Ucap Andre.
Sudah delapan pria yang berusaha dijodohkan dengan Cika tapi mereka semuanya memutuskan untuk mundur dengan berbagai alasan.
Ponsel Andre berbunyi seketika Andre langsung mengangkatnya.
"Ha ya Haris, ya ya. Oke, ya baiklah. " Wajah Andre yang tadinya bahagia berubah menjadi sedih.
Cika sudah tahu apa yang dibicarakan Andre dan temannya pasti pihak laki-laki kembali menolak Cika.
"Tidak, tidak bisa. Cika harus menikah , kalau Cika tak juga menemukan calon suaminya bagaimana dengan aku ayah? Aku dan Putra juga mau menikah? " Protes Icha adik Cika.
"Sabar sayang kamu tidak bisa melangkahi kakakmu, dia harus menikah lebih dulu. " Jelas Ratih, ibu Cika dan Icha.
"Sampai kapan bu? Lihat saja penampilannya, bagaimana akan ada lelaki yang menyukainya. " Icha langsung masuk ke kamar.
Cika tak tersinggung dengan ucapan adiknya meskipun hatinya terasa sakit sekali.
"Icha." Pekik Andre.
Cika yang akan berangkat bekerjapun diantar Andre sampai ke lobi apartemen. Sayangnya lift sedang rusak dan mereka harus melewati tangga darurat.
"Ayah kembali saja, Cika sendiri saja ayah. " Ucap Cika.
Saat menuruni anak tangga Andre dan Cika melihat sepasang kekasih yang sedang b******u di tangga darurat.
"Dasar tak punya malu, melakukannya di tempat umum. Tak punya etika. " Umpat Andre.
Aaron dan Luna hanya diam saja dan meneruskan kemesraan mereka. Tapi seketika Aaron sedikit terpana dengan kecantikan Cika.
"Ya sudah ya ayah Cika berangkat dulu. " Ucap Cika.
Cika bekerja di kantor sebagai kepala divisi. Didikan sang ayah dan ambisinya memang membuatnya sukses dan berhasil meraih cita-citanya.
Namun terkadang kepintaran Cika banyak dimanfaatkan oleh orang lain.
"Heh cewek cupu, kerjakan ini. Siang nanti harus ada di meja pak Toni. "
"Sorry Nad, aku juga sedang sibuk. " Tolak Cika.
"Hei kau mulai berani ya. Cepat kerjakan atau.. "
"Atau apa Nadia? Laporannya sudah selesai? " Tanya Toni.
"Belum pak. " Tatapan Nadia tajam ke arah Cika. Ia kesal karena ketahuan oleh Toni.
"Pagi Cika. " Sapa Toni.
Mereka dulunya satu sekolah dan saat SMA Cika sangat mengagumi Toni.
"Pagi Toni. " Cika mulai gugup dan gemetaran setiap Toni mendekatinya.
"Bagaimana harimu? Ayahmu masih berusaha menjodohkanmu? " Tanya Toni.
Cika menganggukkan kepalanya. "Ini sudah kesembilan pria dan jika sekali lagi ada pria menolakku maka aku akan meraih Muri. "
Toni dan Cika saling tertawa .
"Ayah ingin lelaki lulusan UI dengan predikat D3, memang mudah mencarinya, tapi mereka tak mudah menerimaku. " Ucap Cika.
"Sabar saja, lelaki itu pasti akan ada, entah kapan dan dimana masih misteri. " Tangan Toni yang diletakkan dilengan Cika membuat Cika semakin gemetar.
Apalagi tatapan Toni dan ucapannya yang sangat lembut. Ingin sekali Cika melompat kegirangan.
"Sok kegatelan, memangnya siapa yang mau sama cewek cupu macam kamu? " Celetuk teman kerja Cika setelah Toni pergi.
Cika hanya diam, ia malas berdebat dengan siapapun dan itu yang membuatnya terlihat lemah.
Cika berkeinginan membangun sebuah sekolah untuk anak-anak yang kurang mampu.
Semenjak tinggal di kota ia banyak bertemu dengan anak-anak yang putus sekolah bahkan sudah bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari yang mendesak.
Ia menulis semua keinginannya dan ia buat daftar untuk ia penuhi satu persatu. Bahkan ia menulis kesehariannya di buku harian .
Tiba-tiba alarm ponselnya berbunyi. Menandakan jika ia harus minum obat.
"Cika, kau baik-baik saja? " Tanya Maudy, satu-satunya teman yang baik padanya.
"Aku hanya flu saja. " Jawab Cika.
"Kau sepertinya sering sekali Flu, kau sering minum es? " Tanya Maudy.
"Cuaca sedang tak bersahabat, banyak debu dimana-mana. " Jelas Cika.
Maudy setuju tentang hal itu.