Anna yang sudah kecapean menyiapkan semua itu malah diabaikan boss nya begitu saja.
"Sudahlah, lagian gue udah laper banget," gumannya sambil berjalan keluar dari ruangan itu.
Anna yang kelaparan tak sabar untuk ke kantin. Di sana ada kantin perusahaan dan ada Clara juga. Si gendut temannya itu sedang menikmati kentang goreng dengan lahap.
"Kenapa, lo? Kayak orang putus cinta ajah." Ledek Clara.
"Hmm, iyah." Anna menarik nafas dalam-dalam. Membuangnya dengan kasar. "Darren mo nikah Clar," ujar Anna.
Clara terbelalak "What? Pacar SMA lo itu, kan?"
"Iyah." Jawab Anna singkat.
"Are you serious? Berarti bener dong, yang di gosipin anak-anak barusan. Duh kurang ajar tu orang, lo harus bales, Anna. Lalu balesnya gimana ya? Lo, kan ngak punya pacar selain dia," tutur Clara tak henti.
"Gue harus gimana lagi? Itu sudah jadi pilihannya. Mungkin Tuhan punya rencana lain buat gue. Cukup buat gue ngebahagiain keluarga terutama nyokap," ucapnya lirih. Pipinya memerah panas sesekali dia menatap langit-langit. Menahan buliran-buliran bening yang sudah menumpuk di pelupuk mata.
"Gue pengen curhat ke nyokap gue soal ini, gue jadi pengen pulang," ucap Anna. Dia masih menikmati makan siangnya. Terlihat begitu tegar di mata Clara namun sangat hancur di dalam sana.
Clara mengelus-ngelus pundak temannya itu. "Sabar, Anna. Gue janji bakal selalu ada buat, Lo. Semoga si b******k itu kena karmannya." Ungkap Clara yang kesel dengan keputusan Darren.
Ponsel Anna bergetar di saku kemeja kanannya. Segera dia menjawabnya.
"Hallo, pa. Ada di kantor .. . APAA!" Clara yang kaget dengan teriakan Anna, tak sengaja kentangnya pun ikut terhempas oleh tangannya sendiri. Sementara Anna yang bergegas pergi, tak menghiraukan Clara yang duduk diam dan bingung dibuatnya.
***
Stevan POV
Aku sudah siap. Aku ingin terlihat sempurna di mata mereka, agar bisa menghadle semuanya. Walaupun aku masih direktur baru aku yakin, aku bisa. Jika aku menjadi direktur utama, Perusahaan akan semakin jaya dan aku akan mengembangkannya hingga Eropa. Ingat, Steve. Ini kesempatan emas untukmu, persetan dengan Alice, dia hanya anak angkat papa. Akulah satu-satunya pewaris tunggal. Sekalipun dia dapat, dia hanya akan menerima 5%, dari seluruh harta kekayaan papa. Hahahahahaha.
Walaupun masih baru soal perusahaan aku yakin bisa memimpinnya dengan baik. Bahkan sekalipun Alice harus ikut campur, aku juga tak punya pilihan selain menyingkirkan benalu busuk itu. Ponselku berdering, mungkin itu dari papa.
"Halo, Paa." Jawabku.
"Steve, papa tunggu kamu di kantor sekarang. Tak ada alasan untuk berlama-lama." Kata papa di balik telpon. Sepertinya, papa tidak pernah main-main dengan ucapannya. Jika dia sudah berkata A aku tak bisa merubahnya menjadi B.
"Baik, Pa. Aku lagi siap-siap." Ujarku.
"Sekarang, Stevan!" Teriak dari seberang sana.
"Iya, Pa. Sege- "Belum sempat aku menjawabnya, papa malah mematikan ponselnya.. Aku harus pergi. Jika tidak, menjadi direktur impianku akan batal jika aku berulah lagi. Belum tiba di parkiran, ponselku terus berdering. Sepertinya itu papa. Haruskah aku secepat kilat?
Segera aku masuk ke mobil sport milikku. Mobil ini ku kendarai di acara-acara penting saja, terutama hal sepenting ini, menjadi direktur utama. Ku tancap gas tanpa melihat jarumnya berada pada titik berapa. Bahkan di lampu merah sekalipun, aku menorobosnya. Siapa yang tak kenal mobil seorang Stevan Hans Wilson. Kalau saja berani menangkapku, kalian akan mengalami kesialan seumur hidup. Ponsel terus berdering. Papa pikir apa aku tidak benar-benar ke kantor? Aku melirik ponsel di genggamanku. Banyak sekali pesan melalui w******p. Jika tak k*****a satu per satu, papa akan marah lagi. Sesekali ku melirik ponsel, dan juga melihat ke depan.
"Waktumu 5 menit Stevan. Jika tidak, semua akan Papa batalkan." Pesan dari papa.
Duuuhhh.. gimana nih? Sepertinya aku harus lebih cepat. Tak sengaja hanphoneku jatuh ke bawah. Kecepatanku mencapai 120 km perjam. Jika aku berhenti, aku makin lama saja. Ku coba meraihnya dengan kaki tapi tak bisa. Ku coba lagi dengan tangan kiri, tangan kanan memegang kemudi. Tapi bukanlah handphone yang ku dapat, malah ku tak sengaja menginjak pedal gas mobil dengan kuat. Mobil tak bisa ku kendalikan. Berlari ke kiri dan ke kanan. Daann..
Brraaakkkkk ... Astagah! Apa lagi sih? Arrggghhhkk ... Aku harus buru-buru. Sialan!
Tepat di depan supermarket sepertinya mobilku menabrak sesuatu. Apa itu? Ku rasa aku menabrak seseorang.
"Aduuuhh! Ngapain sih harus di mobil, gue!" Menggenggam tanganku kuat dan memukul keras kemudi berkali-kali. Hingga tanganku agak sedikit memar. Orang-orang di sekitar mulai berdatangan, dan aku melarikan diri. Aku panik dan seolah tak peduli. Akan ada asistenku yang akan mengurusnya. Masih ada urusanku yang lebih penting dari manusia itu. Entalah, jika aku kejam aku tak peduli. Bagiku menjadi direktur utama di perusahaan lebih penting daripada nyawa orang itu.
Kenapa Dion belum tiba? Apa ada yang mengejarku? Aku melirik kaca spion ternyata aman. Lagi pula mobilku cukup cepat jika dibandingkan dengan mobil murah mereka. Aku akan bertanggung jawab. Mm bukan, tapi Dion asistenku. Dia yang selalu membereskan semua masalahku. Dion memang handal dan patut menerima gaji yang sepadan. Tapi kemana dia? Sudah 10 menit aku menunggunya. Ku coba menghubungi papa dan ia segera menjawab panggilanku.
"Halo, Pa. Mingkin aku agak terlambat. Ada kecelakaan di depan supermarket yang pernah kita singgahi. Aku menabrak seseorang. Tak tau pasti siapa dia, yang jelas dia wanita separuh baya."
"Apa lagi ini, Steve? Kebodohan apa lagi ini? Kenapa kau selalu seceroboh ini? Sengaja papa pindahkan kau ke sini, agar kau akan merubah sikap ugal-ugalanmu. Belum 2 minggu kau sudah berulah lagi!" Ayah terdengar begitu marah. Tapi aku tak peduli. Aku tak peduli dengan nyawa wanita tua ini. Pastinya, aku harus segera ke kantor. Jika tidak semua akan gagal.
"Tapi, Pa. Karena Papa sering menelpon, ponselku jatuh ke bawah pedal gas mobil. Dan ini yang terjadi." Jawabku kesal. Pliis paa, mengertilah. Walau hanya sedikit. Tapi itu tidak mungkin.
"Pokoknya papa sudah bilang, Stevan. Papa angkat tangan jika kamu berulah lagi." Apaan? Apa papa sudah tak peduli lagi denganku. Dia mematikan handphone nya lagi dan lagi. Ku membuang nafas kasar. Sementara Dion belum juga menghubungiku. Kemana dia? Semua gara-gara papa. Jika dia tidak menelponku berulang-ulang, ini tak akan terjadi.
Dion pun datang dan syukurlah. Tapi darimana saja anak ini? Kenapa lama sekali. Aku turun dari mobilku dan memukulinya, hingga bibirnya keluar sedikit darah.
"Kemana saja, kau? Aku membayarmu mahal agar kau selalu stay jika ku perlukan."
"Maaf, Pak! Saya di minta pak Willson untuk mempersiapkan ruangan anda." Jawabnya takut. Aku meliriknya dingin sedikit menyelidiki. Sepertinya dia tidak bohong.
"Urus wanita yang kutabrak tadi di Supermarket dekat sini. Lalu kau ke kantor."
"Saya sudah mengurusnya, Pak. Kebetulan saya lewat Supermarket itu dan menyelidiki tempat kejadian. Tak ada satupun camera cctv disana."
"Bagus! Siapa yang memberi tahumu?" Tanya ku kepada Dion.
"Saya melihat mobil bapak dikerjar warga." Ucapnya menunduk.
"Baiklah. Bawa wanita itu ke rumah sakit!" Perintahku.
"Tapi, Pak. Wanita itu sudah meninggal dunia. Karena tak ada pertolongan pertama saat kecelakaan." Bentaknya.
Aku geram dengan alasan yang tak ingin ku dengar. Ku remas dan ku angkat kerah kamejanya. "Maksudmu, aku yang harus menguburnya? ... AKU TAK PEDULI! LAKUKAN SAJA PERINTAHKU! Hubungi saja keluarganya dan berikan imbalan yang besar." Aku mulai geram pada Dion. Apa dia sudah tak mengenaliku? Aku bisa saja membunuh seluruh keluarga wanita tua itu, 0jika aku mau. Bagiku orang miskin dan orang jelata sangat tidak berguna.
"Baik, Pak. Saya akan mengurusnya." Jawab Dion.
"Ingat, Dion. Berikan uang dalam jumlah yang besar pada keluarganya, agar mereka tidak mempermasalahkan kasus ini dan aku tak ingin media tau."
"Baik, Pak." Dion mengangguk dan bergegas ke rumah sakit. Mungkin jenazah wanita itu sudah tiba di rumah sakit.
Aku menghubungi papa lagi dengan percaya diri, aku akan meyakinkannya. Karena semuanya telah beres.
"Halo, Pa. Aku sudah mengurusnya. Maksudku, Dion yang akan mengurus wanita itu." Bujuk ku ke papa.
"Tidak! apapun yang terjadi kamu harus ikut." Ucapan papa membuat ku muak. Ahrrg! Maksud papa apa lagi? Ikut kemana? Papa malah mematikan telponnya. Dan hanya mengirim pesan.
"Ikut Papa ke Rumah Sakit. Dion akan mengirim alamatnya."
Hanya itu? Astagah. Apa papa benar-benar sudah tak peduli lagi denganku.
***