Ocean sedang duduk sendirian di taman belakang rumah. Biasanya hari Sabtu dia masuk kerja hanya setengah hari. Kebiasaannya saat akhir pekan setelah menikah adalah mengunjungi rumah orang tuanya, tetapi hari ini adalah pengecualian. Ocean memilih untuk berada di rumah, berniat menunggu Satrio pulang kerja.
Semalam Satrio pulang larut dan tampak sedang marah. Ocean tidak mengerti apa yang diributkan oleh Satrio hingga berkata tajam seperti itu. Untuk pertama kali dalam pernikahannya, Ocean merasa sangat terasing. Meskipun suka menyindir, biasanya Satrio masih ramah dan berusaha membuatnya nyaman dan itu tidak terjadi akhir-akhir ini.
Ocean menyandarkan punggungnya di kursi taman yang terbuat dari rotan. Bentuk bundar kursi yang sedang dia duduki membuat Ocean merasa nyaman menikmati angin sepoi-sepoi yang menyapanya. Di sampingnya ada es tebu yang semalam dibawakan oleh Satrio serta bolu kukus dengan taburan keju dan diletakan di atas meja.
Memejamkan matanya, Ocean menikmati kesejukan di siang itu. Taman di belakang rumah ini adalah satu-satunya tempat kesukaannya di rumah Satrio. Rumah Satrio dan akan selalu begitu karena Ocean merasa tidak pernah disambut sejak kedatangannya.
Memang benar Ocean menginginkan pernikahan sementara dengan Satrio. Kemudian apa? Dia hanya berpikir bahwa kehidupannya yang sederhana bersama orang tuanya masih lebih membahagiakan daripada kehidupan mewah yang Satrio berikan. Ocean mengatakan semuanya karena dia tidak ingin terikat dalam pernikahan tanpa cinta.
Keberadaannya di sisi Satrio hanyalah ganti dari kesembuhan bapaknya. Bagaimanapun Ocean berusaha saat itu, biaya rumah sakit bapaknya masihlah terlalu mahal untuknya. Menjual rumah juga bukan merupakan solusi yang baik, belum lagi biaya kuliah adiknya yang tidak murah.
"Cean ...." Sebuah panggilan dari dalam rumah membuat Ocean membuka mata.
"Ya, Sam." Bergegas dia bangkit dari duduknya dan berniat masuk ke rumah.
"Di situ aja." Satrio sudah muncul terlebih dulu dan duduk di kursi sebelah Ocean. Matanya terpejam dan Ocean membiarkan hal itu.
Duduk di samping Satrio, dulu adalah hal yang sangat Ocean sukai. Mungkin sampai sekarang pun masih seperti itu. Hanya saja apa yang ada di dalam hatinya tidak bisa dikeluarkan begitu saja. Bukan karena terlalu sakit, tetapi terlalu menyedihkan. Pernikahannya dengan Satrio hanya mempunyai satu tujuan, yaitu menyenangkan bapak Ocean yang saat itu sedang sakit.
Setahun yang lalu tiba-tiba Ocean mendapati bapaknya sakit. Untung saja Ocean mengetahui hal itu dan melakukan pengobatan secara rutin. Namun, ternyata semua itu tidak terlalu menolong karena pada akhirnya penyakit bapaknya kambuh. Ocean melarikan bapaknya ke rumah sakit dan saat itulah dia bertemu kembali dengan Satrio.
Masih Satrio yang ramah dan mempesona seperti 6 tahun silam. Masih Satrio yang tidak pernah gagal memikat hati bapak dan ibunya bahkan hanya dengan sebuah senyuman.
Begitu bapaknya sadar dan melihat Satrio kembali maka saat itu semua dimulai. Keterkejutan Ocean tidak diperhatikan oleh pria yang notabene adalah bapak kandungnya sendiri. Dalam keterbatasannya berkomunikasi, bapaknya meminta Ocean untuk menikah dan Satrio menyetujuinya begitu saja.
"Sebelum menjalani operasi, bapak hanya mau kamu menikah, Cean," pinta bapaknya. "Kalaupun bapak nggak selamat nanti, maka sudah ada yang bertanggung jawab atas kamu dan bapak bisa pergi dengan ikhlas."
Mudah saja bagi ibu Ocean untuk menghubungi rekan kerja bapaknya sebagai saksi pernikahan dari pihaknya. Teman Satrio pun datang begitu saja seolah semua memang sudah direncanakan. Kemudian semuanya terjadi dalam waktu yang begitu singkat dan dari sana Ocean merasa mimpi buruknya dimulai.
"Cean ...." Sentuhan di lengannya menyadarkan Ocean dari lamunannya.
"Kenapa?" Ocean menuangkan es tebu ke gelas dan Satrio lebih dulu mengambil dan meneguknya.
"Kamu masak apa tadi?" tanya Satrio setelah meletakkan gelasnya kembali.
Ocean menuang kembali es tebu kemudian meletakkan botolnya. "Rendang sama sayur rebus dan sambal," ujarnya setelah meneguk minumannya.
"Aku lapar." Satrio langsung bangkit dan masuk ke dalam terlebih dulu.
Ocean menyusul dan dengan cekatan menyiapkan makan untuk Satrio. Suaminya itu makan dengan lahap tanpa menanyakan Ocean sudah makan atau belum. Ocean tidak mempermasalahkan hal itu mengingat dia sendiri yang mengatakan bahwa mereka hanya menikah untuk sementara.
Ocean kembali ke taman belakang dan duduk sambil menikmati bolu kukus buatannya. Jemarinya sibuk menyentuh layar ponselnya dan sesekali dia tersenyum membaca grup chat-nya dengan teman-temannya semasa kuliah. Beberapa di antara mereka membicarakan tentang usaha baru dan ada juga yang sedang membicarakan kebiasaan suaminya yang kadang bisa sangat menggelikan.
"Ocean, kamu ada di rumah, kan? Buka pintu dong, aku ada di depan rumahmu."
Ocean membaca pesan dari Athena dan bergegas melangkah ke depan. Dibukanya pintu dan dia langsung mendapatkan sebuah pelukan hangat. Ocean membalas pelukan Athena sama hangatnya dan mempersilakan temannya itu masuk.
"Gimana? Nyaman nggak tinggal di sini?" Athena langsung memulai pembicaraan tanpa sungkan.
Ocean menarik tangan Athena dan mengajaknya duduk di sofa ruang tamu. "Nyaman nggak nyaman ya harus nyaman dong, kan rumahnya."
Athena tertawa merdu. "Jawaban apa itu? Rumahmu ini masih sama seperti saat aku datang ke sini dengan suamiku. Tampak kaku dan belum ada sentuhan perempuan sama sekali."
"Hey, Bayiku, kenapa siang-siang kemari? Mana pria penyuka jantung yang jadi teman tidurmu?" Satrio tiba-tiba muncul dan langsung menyapa Athena.
Athena berdecak, "Aku ke sini nggak mau ngunjungi kamu, Mas Sat, tapi ngunjungin temanku."
Satrio tergelak dan langsung duduk di salah satu kursi. "Temanmu itu istriku," ujarnya, "kalau-kalau kamu lupa."
"Istri dari mana?" olok Athena. "Sampai sekarang kamu nggak ajak main ke rumahku. Lama-lama apa yang dibilang Ael sama Mas Al itu bener, kamu sesat."
Berdebatnya Satrio dan Athena membuat Ocean mempunyai waktu untuk masuk ke dalam dan mengambil minuman dan bolu kukus buatannya. Dengan sebuah nampan dia membawa seteko es lemon dan sepiring bolu kukus.
"Cean repot banget, tapi aku mau langsung icip bolunya, ya. Nggak tau kenapa kok langsung pengen rasanya." Athena langsung mengambil sepotong bolu begitu ocean meletakkannya di meja.
"Astaga, pelan-pelan makannya." Ocean ngeri melihat kecepatan Athena makan.
"Nggak diberi makan, ya, sama Raphael?" goda Satrio.
"Diam, Mas Sat," kata Athena, "Cean kue ini enak banget, aku belum pernah makan yang seenak ini."
"Aku bikin banyak, bawa aja kalau pulang nanti."
Athena menuang segelas es lemon dan meneguknya cepat. "Bener, ya, Cean? Beberapa hari ini aku gak enak makan. Nggak tau ini tiba-tiba langsung pengen makan kue buatanmu."
"Kayaknya hari Senin harus berkunjung ke obgyn, deh. Aku tunggu, ya, Bayiku."
Mata Athena membola, "Eh ... apa iya, tapi kan ...."
"Ada suaminya kok heran, yang nggak ada suaminya aja banyak yang bisa hamil masa ...."
"Mulut, Mas Sat, heran Ocean betah sama mulutmu yang nggak bisa dikondisikan begitu," gerutu Athena. "Cean ayo kita ke halaman belakang saja, aku nggak suka ada yang nguping obrolan kita." Athena bangkit dan menggandeng tangan Ocean lalu mengajaknya ke halaman belakang.
"Jangan diam saja, Cean." Ujar Athena sesampainya mereka di halaman belakang rumah.
Masih ada es tebu dan bolu yang tadi tidak dibawa masuk oleh Ocean. Ocean bisa melihat mata berbinar Athena begitu melihat kue itu juga ada di sini. Sebuah kesenangan tersendiri bagi Ocean ketika ada orang lain yang menyukai hasil kreatifitasnya sepanjang pagi.
"Apa?" Ocean tidak mengerti.
"Jangan mau ditindas Mas Satrio. Aku tau kalian ada masalah, tapi berusahalah untuk menjadi lebih tangguh. Jika perlu teman ngobrol, kamu bisa datang ke aku. Sebagai teman, tentu saja."
Ocean menoleh dan tersenyum ke arah Athena. "Iya ...pasti aku akan bilang kalau udah merasa nggak sanggup."
Ocean menghargai Athena yang tidak membahas masalahnya lebih lanjut. Teman barunya ini benar-benar sensitif menurutnya. Ada rasa jengah dalam hati Ocean. Jika orang lain saja bisa begitu peka, mengapa Satrio tidak bisa begitu? Rasanya ada hal-hal yang harus diperjelas untuk membuatnya lebih nyaman di rumah Satrio sampai tiba saatnya dia pergi dan kembali ke rumah bapaknya.