Rissa meneguk ludah susah payah, pikiran tentang selamat dari keadaan menegangkan tadi nyatanya salah besar. Ia malah mendatangkan masalah baru yang lebih menyeramkan dan sekarang Rissa hanya mampu merutuki kebodohannya yang bisa tanpa berpikir panjang mengikuti sandiwara yang dibuat pria asing yang sampai kini tidak Rissa kenal.
Tangan Rissa sedikit bergetar saat mengambil handphone-nya yang kembali berdering, menampilkan panggilan masuk dari ayahnya. Rissa menggigit bibir bawahnya takut, tanpa sadar deru napasnya sudah memburu dan berhasil menarik perhatian pria asing yang sejak tadi mengawasi suara-suara di luar.
“Assalamualaikum, Yah,” cicit Rissa teramat pelan.
“Pulang! Bawa dia!” Tanpa menjawab salam dan tanpa basa-basi, ayah Rissa langsung melontarkan perintah dengan nada tak bersahabat. Membuat Rissa yang mendengarnya semakin menggigit bibir bawahnya takut.
“I..iya.” Rissa menjawab pelan, lalu panggilan terputus begitu saja, menyisakan Rissa yang rasanya sudah tidak sanggup berdiri. Ia terduduk lemas, bayangan ayah dan ibunya yang tengah marah berhasil membuat tenggorokannya perih.
“Ada apa?” Pertanyaan dengan suara datar itu berhasil membuat Rissa menoleh, tiba-tiba ia ingin sekali menampar atau bahkan meneriaki pria asing yang dengan tidak tahu dirinya membuatnya mendapat masalah.
“Lo siapa sih? Kenapa bisa masuk kamar gue sembarangan? Main ngaku suami segala. Lo pikir dengan ngaku gitu, semuanya selesai? Sayangnya lo salah besar, sekarang malah nambah masalah buat gue!”
Rissa benar-benar ingin marah dengan pria asing di depannya itu, ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya setelah ini. Pria itu bisa saja langsung pergi, tapi dia? Tidak ada kata selamat sebelum menghadapi kedua orang tuanya di Bandung yang sekarang mungkin sudah siap menyambutnya dengan kemarahan.
Pria di depan Rissa menghembuskan napas pelan, setelah mendengar deretan kalimat itu, rasanya ia baru menyadari tindakan bodohnya tadi. Tapi semua sudah terjadi, menyesal tidak akan pernah memperbaiki apapun, “Kita ke rumah orang tua kamu.” Sekali lagi keputusan ia ambil. Tanpa pikir panjang karena menurutnya tidak ada waktu berpikir untuk keadaan seperti ini.
Rissa menatapnya tak percaya, apa ia tidak memikirkan bagaimana tanggapan orang tuanya nanti? Kebodohan macam apa itu.
“Sebodoh itu?” Ujar Rissa langsung, orang tuanya memang meminta ia datang bersama pria itu, tapi mendengar kalimat serupa dari mulut si pria yang entah siapa namanya terasa lebih gila.
“Gak usah,” sahut Rissa, ia memang berniat menghadapi orang tuanya seorang diri, agar lebih mudah menjelaskan semuanya dari hati-hati.
“Dimana rumah kamu?”
“Udah gak usah, mending lo keluar dari sini.” Rissa berujar pelan, walaupun ingin rasanya Rissa mencaci, tapi ia memilih mengalah. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya ia menghadapi orang tuanya nanti.
Rissa menarik napas dalam saat handphone-nya kembali berdering, “Assalamualaikum, Yah. Besok pagi Ara berangkat ya, Yah.”
Tidak ada pilihan lain saat ini, bagaimanapun kekacauan yang Rissa rasakan, besok pagi ia harus tetap mendatangi kedua orang tuanya, “Keluar,” ucap Rissa pelan, ia tidak memiliki tenaga untuk berteriak sekarang.
“Saya ikut.” Perkataan itu berhasil menghentikan Rissa yang sedang memandang kosong handphone-nya.
“Gak. Gue gak kenal sama lo dan gak pengen ada urusan apapun sama lo.”
“Saya akan tanggung jawab.”
Rissa tersenyum miring, “Apa yang mau dipertanggung jawabkan? Gue gak kenal lo, gak tau gimana caranya lo bisa masuk ke sini dan yang pasti gue gak mau memperpanjang masalah dengan ngebawa lo ke sana.” Tanpa berniat menunggu jawaban dari pria asing tersebut, Rissa melangkah masuk ke kamar mandi.
Melarikan diri adalah cara termudah saat ini, namun diam dan menunggu menjadi hal yang Satya pilih. Tidak tahu apa yang benar-benar ia pikirkan sampai memilih hal yang sangat bodoh. Alkohol membuat otaknya kacau seketika.
“Saya akan bicara dengan orang tua kamu tentang kesalahpahaman ini.”
“Gak ada yang salah paham, lo yang ngomong langsung kalau lo lupa. Udahlah, lo keluar dari sini sekarang.” Rissa bergerak membuka pintu, mempersilahkan pria asing itu untuk pergi dari hadapannya secepat mungkin.
Satya menarik napas, sudah berulang kali diusir dan dipersilahkan untuk melepaskan tanggung jawab maka Satya akan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan, tanpa kata Satya melangkah keluar.
Rissa menutup pintunya kasar, rasa lelah fisik yang ia rasakan sedari tadi berganti rasa lelah jiwa. Rissa mengusap wajahnya kasar berulang kali, kejadian tadi benar-benar diluar logika dan sekarang ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi kedua orangtuanya nanti. Ingin rasanya Rissa berteriak dan mencaci maki pria asing yang sekarang sudah pergi meninggalkannya seorang diri. Seketika Rissa menyesal sudah mengusir pria itu dan membiarkan dirinya menghadapi semua ini sendirian.
“Lo harus bisa, gak ada yang gak bisa dilewatin, Ra.” Menyemangati diri sendiri nyatanya tidak selamanya berhasil.
*****
Rissa keluar dari gerbang kost-nya dengan membawa sebuah tas berisi baju, semalaman ia tidak bisa tidur, berbagai halusinasi tentang apa yang akan terjadi nanti berhasil mengacaukan pikirannya. Sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depannya, kaca mobil terbuka dan menampilkan wajah pria asing yang mengakibatkan semua permasalahan ini.
“Masuk,” perintahnya, Rissa yang mendengar itu berdecak kesal.
“Saya antar kamu ke Bandung.” Rissa menoleh cepat, terkejut dengan pria itu yang mengetahui dimana keberadaan orang tuanya. Padahal ia sama sekali tidak ada mengatakan apapun.
“Gak, makasih.”
Pintu mobil terbuka, tak ada suara yang terdengar namun Rissa tahu pria asing di depannya tengah menatapnya penuh peringatan. Rissa menarik napas dalam, pikirannya berkecamuk tak tentu. Menghadapi orang tuanya seorang diri bukanlah hal yang mudah, tapi membawa pria itu ke sana pun bukan hal yang pantas untuk dilakukan. Entah berapa lama Rissa berpikir sampai akhirnya ia masuk ke mobil tersebut dan langsung melesat meninggalkan kost Rissa.
Sepanjang perjalanan keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Rissa beberapa kali memijit kepalanya yang terasa sangat berat, banyak sekali kemungkinan yang ia pikirkan dan hal itu berhasil membuat jantungnya berdetak menggila. Tak jauh berbeda dengan Satya yang sama kacaunya, namun pria itu tetap menampilkan wajah tanpa ekspresi yang tenang. Detakan jantung keduanya semakin tak menentu saat mobil Satya memasuki area rumah kedua orangtua Rissa. Mobil berhenti dan Rissa seketika merasa ingin kembali ke Jakarta saat itu juga.
Tarikan napas kuat terdengar berulang kali dari Rissa, keraguan dan ketakutan membuanya tak berani keluar dari mobil, bahkan saat pria di sampingnya sudah keluar Rissa tetap bertahan di posisinya, menatap horor pada pintu rumah yang masih tertutup rapat. Ketuka dikaca mobil membuat Rissa tersentak kaget, pria diluar terus menatapnya dan hebatnya hanya dengan tatapan itu Rissa bisa mengerti isyarat yang diberikannya. Dengan tarikan napas kuat Rissa membuka pintu mobil, bergerak perlahan menuju pintu rumah, diikuti oleh Satya yang sejujurnya belum selesai menyiapkan dirinya untuk menghadapi kemungkinan yang akan terjadi nanti.
Saat masuk ke dalam rumah, Rissa mengucap salam pelan. Ia memberanikan diri untuk melangkah di depan, namun saat mendapat sautan dari dalam ia menghentikan langkahnya dan mundur perlahan, “Duluan,” bisiknya pada Satya dan berjalan di belakang pria itu.
Rissa menelan ludah susah payah saat melihat kedatangan kedua orangtuanya, terlihat jelas kemarahan yang susah payah ayahnya kendalikan. Ayah Rissa bergerak tanpa diduga, memukul wajah Satya tanpa perkiraan membuat Rissa dan ibunya memekik kaget. Dan Satya yang mendapat serangan tersebut sama sekali tidak menghindar, walaupun ia sudah tahu apa yang akan ia dapatkan saat dengan berani melangkah masuk.
“Yaahhh...” Rissa dengan cepat bergerak maju, berdiri di depan Satya yang sama sekali tidak bereaksi. Bahkan pria itu tidak menyentuh wajahnya sedikitpun.
“Kalian harus menikah.” Tiga kata dengan nada tak terbantahkan itu berhasil membuat Rissa tersentak, ia menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.
“Tapi Yah,” bantahnya namun kembali diam saat mendapat tatapan tajam dari ayahnya.
“Saya minta maaf atas kesalahpahaman ini dan jika itu keinginan Om dan Tante, saya setuju.”
Dunia Rissa benar-benar hancur seketika, permintaan ayahnya sangat tidak bisa Rissa terima begitu saja, terlebih jawaban pria asing tersebut semakin membuatnya tidak memiliki kekuatan. Rissa berharap pria itu dapat meluruskan semuanya, namun malah semakin membuat keadaan bertambah kacau.
Semua terjadi begitu saja, kedua orangtuanya benar-benar mengintrogasi Satya hari itu, dimulai dari nama hingga urusan pribadinya menjadi topik pembicaraan mereka dan Satya yang baru Rissa ketahui sebagai nama dari pria asing tersebut dengan mudahnya menjawab semua pertanyaan. Bahkan ia menghubungi kedua orangtuanya atas permintaan ayah Rissa.
Ketakutan akan sosok asing tersebut semakin menghantui Rissa, meskipun kini ia tahu pekerjaan pria itu tapi tetap saja Rissa tidak bisa dengan mudah untuk menerima semuanya. Pernikahan bukanlah hal main-main, walaupun kenyataannya ia berniat menikah tanpa adanya tahap pacaran yang artinya kemungkinan menikah dengan orang asing seperti Satya adalah pilihan yang ia inginkan, namun semua ini jauh dari bayangannya. Rissa memang ingin menjalankan ta’aruf tapi bukan seperti ini, ingin rasanya Rissa berteriak dan mengatakan semua ini tidak seperti bayangan kedua orangtuanya, namun apa daya. Rissa bukanlah sosok yang bisa berbicara dengan mudah untuk menjelaskan sesuatu.
“Dia baik dan ayah gak akan pernah salah milih orang untuk jadi pendamping hidup anaknya.”
Kalimat dari ibunya beberapa jam yang lalu berhasil menghantui Rissa sepanjang malam. Tapi bagaimana mungkin dipertemuan pertama mereka ayahnya langsung meminta sesuatu di luar nalar seperti itu. Tanpa meminta penjelasan atas semua yang terjadi, bahkan tanpa adanya pertimbangan untuk hal lainnya.