Paket keenam datang dua belas hari kemudian, pada pagi yang basah, di lobi kantor satuan lama — gedung yang sekarang menjadi kantor administrasi sipil, dengan pegawai-pegawai muda yang tidak tahu bahwa lantai yang mereka injak dulu adalah lantai tempat para operator berangkat dengan suit dan tidak semuanya pulang.
Panggilan masuk pukul delapan kurang. Gedung dievakuasi dalam empat belas menit — latihan berkala satuan di gedung-gedung prioritas membuahkan hasilnya — dan tim Bara tiba dengan robot, dengan X-ray portabel, dengan disruptor, dengan seluruh hierarki yang sudah menjadi tulang punggung korps itu.
Dan di sinilah panggung pertama Rendra membuka tirainya dengan cara yang tidak pernah dilakukannya sebelumnya.
Robot itu bergerak masuk ke lobi — dan berhenti di ambang pintu, karena operatornya, dengan mata yang terlatih, melihat sesuatu di lantai: tulisan kapur, besar, rapi, persis di jalur yang harus dilalui robot untuk mencapai paket itu:
ROBOT TIDAK DIUNDANG.
Dan di bawahnya, lebih kecil, seperti catatan kaki: Kirimkan tangan, atau kirimkan tidak ada. Kalau robotmu maju satu meter lagi, rangkaian ini menjinakkan dirinya sendiri — dan kau akan belajar apa-apa dari puing-puingnya.
"Kamera robot maju pelan," kata Bara di mobil komando, dengan rahang yang mengeras. "Aku mau melihat paketnya dari ambang."
Paket itu berdiri di tengah lobi: koper kecil, terbuka, dengan papan sirkuit yang terlihat jelas dari kamera — dan Arenta, yang menonton dari layar kedua dengan seluruh tubuhnya menegang seperti kawat, membacanya dalam satu tarikan napas:
"Jangan dekati. Jangan tembak X-ray dari dekat. Bara, dengar aku — lihat papan itu. Itu bukan rangkaian biasa. Ada sel fotolistrik di sudut papan, ada jalur yang tersambung ke penutup koper, dan ada muatan kecil khusus yang posisinya salah untuk meledak keluar — posisinya benar untuk menghancurkan device itu sendiri ke dalam. Dia tidak berbohong di kapurnya. Kalau kita mendekat dengan cara yang tidak diundang, device ini bunuh diri — dan membawa semua informasinya bersamanya, dan mungkin membawa lobi itu juga."
"Jadi dia menyandera device-nya sendiri," kata Bara. "Supaya kita mengirim manusia."
"Supaya kita mengirim aku," kata Arenta. "Bukan manusia, Bara. Aku, secara spesifik. Robot tidak diundang, disruptor tidak diundang, prosedur tidak diundang — yang diundang adalah tangan yang dia kenal. Ini bukan jebakan untuk korps. Ini undangan untuk satu tamu, dan tamunya aku."
Mobil komando itu diam. Hujan mengetuk atapnya seperti jari-jari yang tidak sabar. Dan di radio, suara Hutahaean masuk dari markas — komandan itu sudah mendengar semuanya di saluran terbuka, dan suaranya datang dengan berat yang sudah disiapkannya:
"Renta. Tidak ada yang memerintahkanmu turun. Device itu bisa kita tangani dengan menunggu — kordoni gedungnya, biarkan duduk di sana, dan lihat siapa yang lebih sabar. Itu opsi satu. Opsi dua: kau turun, dan kau membaca undangannya dengan mata kepalamu sendiri — dengan segala yang berdiri di belakang undangan itu. Keputusan ada padamu, dan tidak ada satu orang pun di satuan ini yang akan mencatatnya sebagai pengecut kalau kau memilih opsi satu."
Arenta memandang layar itu — koper kecil yang terbuka di tengah lobi kosong, papan yang menunggu, tulisan kapur yang sopan — dan berpikir tentang ruang latih lima belas tahun yang lalu, tentang tangan yang lebih cepat dari tangannya, tentang seorang taruna yang selalu menambahkan satu tikungan tambahan di setiap soal hanya untuk melihat apakah lawannya cukup teliti untuk menemukannya.
"Pak, kalau kita memilih menunggu, device itu akan duduk di sana selama yang dia mau — dan dia sudah menang tanpa kita apa-apa, karena dia sudah membuktikan bahwa dia bisa menghentikan seluruh korps dengan satu koper dan satu tulisan kapur. Itu bukan opsi. Itu kekalahan yang ditulis rapi." Ia berdiri, dan mulai mengambil suit dari raknya. "Aku turun. Dengan Rendi sebagai mataku, dengan saluran terbuka, dengan dokumentasi penuh. Dan aku akan membaca undangannya — bukan karena dia mengundangku, Pak, melainkan karena ada gedung penuh orang yang ingin pulang ke kantornya besok pagi, dan hanya ada satu cara untuk memberikannya kepada mereka."
"Justifikasinya?" tanya Hutahaean, dengan nada orang yang sudah tahu jawabannya tetapi harus mendengarnya diucapkan. Supaya tercatat.
"Device menolak robot dan disruptor dengan desain yang terverifikasi visual. Evakuasi total tidak mungkin permanen — gedung publik, ancaman berkepanjangan. Intervensi manual adalah satu-satunya jalan yang tersisa. Itu hierarki, Pak. Buku mengizinkanku turun."
"Buku mengizinkanmu turun," ulang Hutahaean. "Kalau begitu turunlah — dan Renta, satu hal: dia ingin kau membaca undangannya. Jadi bacalah sebagai tamu yang tidak diundang. Cari tikungan tambahannya. Kau sendiri yang mengajarkanku: orang itu tidak pernah membuat soal tanpa tikungan tambahan."
Suit itu turun ke pundaknya dengan berat tiga puluh kilogram yang sudah kembali akrab — dan Arenta berjalan ke lobi kantor satuan lama itu melewati garis kuning, melewati ambang dengan tulisan kapur di lantainya, dengan langkah yang tidak cepat dan tidak lambat, dengan Rendi di telinganya dan seluruh satuan di belakangnya.
Dan di tengah lobi, di atas koper yang terbuka itu, ia berhenti — dan memandang papan sirkuit yang menunggunya seperti halaman yang terbuka — dan berkata pelan, kepada dirinya, kepada Rendi, kepada pengirim surat yang entah dari mana sedang menonton:
"Baik. Aku datang. Sekarang tunjukkan soalmu — dan kita lihat siapa yang belajar lebih banyak dalam dua belas tahun."
Di luar, hujan berhenti mengetuk, dan kota menahan napasnya, dan tirai panggung pertama resmi terbuka.