Proyek itu dikerjakan Arenta selama empat bulan — di malam-malam yang sudah utuh, di meja apartemennya dengan gelas kopi bertitik dua, di antara kelas-kelas dan makan siang hari Rabu — dan selesai sebagai satu dokumen setebal delapan puluh halaman dengan judul yang tidak akan pernah dibaca publik dan isi yang akan berdiri di arsip korps itu selamanya: Laporan Lengkap Kejadian Pasar Kapuk — Rekonstruksi dan Koreksi.
Karena laporan resmi tentang malam itu — laporan yang ditulis bertahun-tahun lalu, di hari-hari setelah ledakan, oleh orang-orang yang tidak tahu apa yang tidak diketahuinya — masih berdiri di arsip dengan satu kekurangan yang tidak pernah diperbaiki siapa pun: laporan itu mencatat Dimas sebagai korban dari device yang berperilaku tidak terduga. Bukan salah siapa-siapa; itu adalah kebenaran yang tersedia saat itu. Tetapi kebenaran yang tersedia bukan kebenaran yang selesai — dan sekarang, setelah pengakuan penuh di ruang sidang, setelah diagram bertanggal dari dinding terowongan, setelah dua tahun membaca, kebenaran yang selesai akhirnya bisa ditulis.
Dan Arenta menulisnya — dengan izin resmi, dengan nomor dokumen, dengan prosedur koreksi arsip yang dingin dan panjang seperti semua prosedur yang penting.
Dokumen itu dibaca empat kali oleh empat orang sebelum diserahkan: Surya, untuk akurasi teknis setiap komponen. Bara, untuk urutan kejadian di lapangan. Hutahaean — dari kebun pensiunnya, dengan kopi dan pensil merah yang tidak pernah pensiun — untuk setiap kata yang tidak perlu. Dan Nita, untuk satu hal yang tidak bisa dinilai tiga orang pertama: apakah laporan ini layak dibaca oleh keluarganya, dua puluh tahun dari sekarang, ketika seseorang mencari nama Dimas di arsip dan menemukan dokumen ini.
Dan Nita membacanya dalam satu malam, dan mengembalikannya dengan satu halaman catatan yang berisi hanya dua baris: Layak. Dan terima kasih sudah menulis bagian tentang kopi terlalu manis di lampiran — itu tidak perlu untuk berkas, dan itu paling penting untuk berkas.
Bagian inti dari koreksi itu berdiri di bab empat, dan berbunyi — dalam bahasa resmi yang dingin yang ditulisnya dengan hati-hati seperti menulis device:
Berdasarkan pengakuan tersangka R.P. dalam persidangan dan bukti pendukung (diagram perencanaan bertanggal, komponen, dan saksi ahli), device pertama di gang selebar bahu pada malam kejadian dilengkapi pemicu radio cadangan yang diaktifkan dari jarak dekat. Operator Dimas membaca rangkaian utama dengan benar dan berada dalam proses render-safe ketika pemicu cadangan diaktifkan. Dengan demikian, koreksi atas catatan resmi: kematian operator Dimas bukan akibat kegagalan membaca rangkaian, melainkan akibat tindakan sengaja pihak ketiga. Kemampuan dan tindakan operator Dimas pada malam kejadian dinilai benar secara teknis, tanpa pengecualian.
Dan lampirannya — lampiran yang tidak diwajibkan format resmi mana pun, yang diperjuangkannya di tiga rapat dan dimenangkannya: satu halaman tentang siapa Dimas di luar malam itu. Tentang kopi terlalu manis dan nyanyian sumbang di mobil. Tentang dua titik di gelas. Tentang buku catatan dengan garis bawah dua kali yang ditulis sebelas hari sebelum kematiannya dan menjadi bukti. Tentang ruang makan yang dibuatnya aman untuk anak-anak baru. Satu halaman yang berbunyi, di kalimat terakhirnya: arsip ini sekarang mencatat bukan hanya bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia bekerja — dan keduanya, mulai hari ini, berdiri bersama selamanya.
Dan di aula latih markas itu — aula tempat semua taruna baru dibawa berdiri di hari pertama mereka, aula yang dindingnya membaca sejarah korps dalam foto-foto dan plakat — satu plakat baru dipasang di musim itu, di dinding yang menghadap pintu, dengan upacara kecil yang dihadiri ibu dan adiknya dan seluruh satuan yang bisa berdiri:
DIMAS — OPERATOR — MEMBACA DENGAN BENAR SAMPAI AKHIR.
Di bawahnya, dengan huruf yang lebih kecil: yang dibaca dengan benar tidak pernah sia-sia.
Dan pada hari pemasangannya, setelah sambutan-sambutan yang pendek dan tepuk tangan yang panjang, ibu Nita berdiri di depan plakat itu untuk waktu yang lama dengan tangan di dinding di bawahnya — dan kemudian berbalik kepada sembilan taruna baru yang berdiri di barisan belakang dengan mata yang besar, dan berkata dengan suara yang sudah menjadi suara yang mengisi ruangan-ruangan:
"Kalian akan membaca banyak hal di dinding-dinding ini selama sekolah kalian. Tapi dengarkan seorang ibu, satu kali saja: yang di plakat itu bukan pahlawan. Pahlawan itu untuk berita. Yang di plakat itu anak saya — yang menyeduh kopi terlalu manis, yang bernyanyi sumbang di mobil, yang mencatat bahaya sebelas hari sebelumnya ketika orang lain akan memilih lupa. Jadilah seperti itu: bukan pahlawan. Pembaca. Orang yang mencatat, yang membaca, yang pulang. Karena di rumah kalian masing-masing, ada seseorang yang menunggu kalian pulang — dan pekerjaan ini, di atas segala yang lain, adalah pekerjaan untuk pulang."
Dan tidak ada satu pun dari sembilan taruna itu yang lupa kalimat itu — satu pun, selama sisa hidup mereka, seperti yang akan mereka katakan sendiri bertahun-tahun kemudian, di aula-aula lain, kepada taruna-taruna yang lain.
Dan di buku kerjanya malam itu, Arenta menulis: laporan yang benar sudah masuk arsip, dan plakat itu sudah berdiri di dinding timur aula. yang dibaca dengan benar tidak pernah sia-sia. dan di bawahnya: arsip sekarang mencatat dua hal sekaligus — bagaimana dia mati, dan bagaimana dia bekerja. butuh dua tahun untuk memperbaiki satu halaman di arsip. ternyata itulah harga dari kebenaran yang selesai: bukan dua detik. dua tahun, dan tidak pernah berhenti membaca.