Aku melangkah mendekat sambil membawa nampan kecil untuk membereskan meja kosong di sebelahnya.
"Hari yang panjang?" sapaku pelan.
Savana membuka mata, lalu tersenyum tipis.
"Sangat panjang." Dia mengembuskan napas pelan. "Dua draf artikelnya dikembalikan editor. Katanya, tulisanku masih belum cukup tajam."
Aku mengangguk pelan.
"Tapi kau akan mencoba lagi, bukan?"
"Tentu."
Jawaban itu meluncur tanpa ragu, membuatku tersenyum tanpa sadar.
"Setiap kali aku mengantarkan pesanan ke meja ini, kau selalu sedang bekerja. Sepertinya kau jarang benar-benar beristirahat.”
Savana terkekeh.
"Percayalah, aku juga ingin lebih sering beristirahat." Dia menutup layar laptopnya dengan pelan. "Sayangnya, tanggung jawabku tidak.”
Dia mulai membereskan barang-barangnya ke dalam tas kulit cokelat. Saat berdiri, tangannya segera meraih ponsel yang bergetar di atas meja. Raut wajahnya yang semula tenang seketika berubah.
Aku sempat menangkap nama yang tertera di layar.
Jacob.
Savana buru-buru menyimpan ponselnya. Untuk sesaat, ada sesuatu yang melintas di wajahnya—entah kegelisahan, entah kekesalan. Aku tidak sempat memastikannya. Sedetik kemudian, ekspresinya kembali tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa besok."
"Hati-hati di jalan," sahutku hampir tanpa berpikir.
Dia mengangguk singkat sebelum bergegas meninggalkan kafe. Sementara aku tetap berdiri di dekat jendela, memandang sosoknya yang makin menjauh, menembus keramaian trotoar kota.
Siapa Jacob?
Dan mengapa hanya melihat namanya saja mampu menghapus ketenangan dari wajah Savana?
***
Tiga hari berlalu sejak terakhir kali aku melihat nama itu muncul di layar ponsel Savana. Sejak hari itu pula, meja sudut di dekat jendela kafe selalu kosong.
Aneh. Padahal aku bahkan tidak benar-benar mengenalnya. Namun, setiap kali bel pintu berdenting, pandanganku selalu terarah ke pintu masuk, berharap melihat sosoknya kembali melangkah masuk seperti biasa.
"Hunter, fokus."
Tepukan ringan di bahuku membuat lamunanku buyar. Rose berdiri di sampingku sambil membawa sekotak cangkir keramik yang baru tiba.
"Kalau kau terus menatap meja sudut itu, Nyonya Margaret bisa saja mengira kau sedang dibayar untuk melamun."
Aku segera mengambil kotak dari tangannya.
"Aku tidak sedang melamun."
"Tentu saja tidak," balas Rose dengan senyum yang sulit disembunyikan. "Kau hanya sedang menunggu pelanggan favoritmu yang sudah tiga hari menghilang."
Aku berdeham pelan sambil mengusap tengkuk.
"Aku hanya merasa heran. Biasanya dia selalu datang pada jam yang sama dan memesan Americano."
Rose mengangkat sebelah alis.
"Hunter, dia punya kehidupan di luar kafe ini. Sama seperti kita yang punya kuliah, pekerjaan, dan urusan masing-masing."
Aku mengangguk.
"Aku tahu."
Dunia yang terasa begitu jauh dari kehidupanku sebagai mahasiswa tingkat dua yang masih berjuang membagi waktu antara perkuliahan dan pekerjaan paruh waktu.
Sore itu, Tuan Gerald memintaku mengantarkan beberapa kotak pastel dan kopi ke sebuah taman di kawasan permukiman. Pesanan itu ditujukan untuk acara kumpul sederhana yang diadakan oleh sebuah komunitas setempat.
Aku tidak keberatan.
Mengendarai sepeda motor tuaku menyusuri jalanan Astraea City menjelang senja selalu memberiku ketenangan. Udara yang semula hangat perlahan berubah sejuk, sementara lampu-lampu jalan mulai menyala satu demi satu.
Setelah pesanan selesai kuantar, aku berniat langsung kembali ke kafe.
Namun, langkahku terhenti.
Di seberang jalan, tepat di samping taman hiburan kecil, berdiri sebuah toko mainan kayu. Dan di depan toko itu ...
Savana.
Hari itu dia mengenakan sweater rajut berwarna krem yang sedikit kebesaran membalut tubuhnya, dipadukan dengan celana jeans longgar yang membuatnya tampak lebih santai—bahkan beberapa tahun lebih muda.
Namun, bukan itu yang membuatku terpaku.
Melainkan sosok seorang anak perempuan kecil yang berdiri di sisinya. Anak itu mengenakan gaun kuning cerah. Jemari mungilnya menggenggam erat tangan Savana.
"Mami, Sunny mau yang itu."
Suara lembut anak kecil itu nyaris tenggelam di antara semilir angin sore.
Mami.
Jantungku seakan berhenti berdetak. Satu kata itu bergema di kepalaku, memecahkan begitu saja bayangan yang selama ini kubangun dengan indah di kepalaku.
Aku tetap berdiri di samping sepeda motorku, tak mampu mengalihkan pandangan.
Savana berlutut hingga sejajar dengan tinggi badan anak itu. Dengan gerakan yang begitu alami, dia merapikan rambut yang menutupi dahi si kecil, lalu tersenyum hangat. Senyum seperti itu belum pernah kulihat sebelumnya. Begitu lembut dan penuh kasih.
Aku menelan ludah.
Siapa sebenarnya Sunny bagi Savana?
***
Malam itu, bayangan yang kulihat di depan toko mainan terus berputar di kepalaku. Setiap kali memejamkan mata, yang kulihat selalu sama—Savana, seorang anak perempuan kecil, dan sapaan yang terus terngiang di telingaku.
Mami.
Aku mencoba meyakinkan diri agar berhenti memikirkannya. Namun, makin kupaksa melupakan, rasa penasaranku justru makin sulit diabaikan.
Kesempatan itu datang keesokan harinya.
Tepat pukul empat sore, denting bel pintu kafe kembali terdengar. Aku yang sedang menyusun beberapa cangkir di rak depan refleks mengangkat kepala.
Savana melangkah masuk dengan gaun berwarna abu-abu. Tas kulit cokelat yang selalu dibawanya tersampir di bahu, sementara langkahnya mengarah ke meja sudut dekat jendela setelah memesan seperti biasa.
"Rose," panggilku pelan.
"Hm?"
"Biar aku yang mengantarkan pesanan untuk meja sudut."
Rose menoleh kepadaku, lalu melirik ke arah Savana. Senyum kecil segera muncul di wajahnya.
“Baiklah.”
Tak lama kemudian, barista meletakkan secangkir Americano di atas meja penyajian.
"Pesanan meja sudut sudah siap," ujar Rose.
Aku mengangguk, mengambil nampan kayu, lalu mengembuskan napas pelan sebelum melangkah menghampiri meja Savana.
"Satu Americano," ucapku sambil meletakkan cangkir di hadapannya.
"Terima kasih, Hunter."
Dia mengulas senyum tipis yang sudah begitu akrab kulihat.
"Sepertinya akhir-akhir ini kau benar-benar sibuk. Beberapa hari ini kau bahkan tidak sempat mampir,” kataku.
"Begitulah." Dia mengembuskan napas pelan. "Beberapa hari terakhir memang cukup melelahkan.”
Dia mengangkat cangkirnya, meniup permukaan kopi yang masih mengepulkan uap, lalu menyesapnya perlahan.
Aku tetap berdiri di sana. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan. Hanya saja ... aku belum tahu bagaimana memulainya.
"Kemarin sore ..." Aku memulai dengan hati-hati, berusaha terdengar sesantai mungkin. "Aku tidak sengaja melihatmu di dekat toko mainan, di sekitar taman kota. Maaf kalau aku keliru, tapi ... sepertinya kau sedang bersama seorang anak perempuan."
Jemari Savana yang melingkari cangkir berhenti sesaat. Tatapannya terangkat, menemuiku. Selama beberapa detik dia hanya diam, seolah menimbang maksud pertanyaanku.
Lalu bahunya perlahan mengendur.
"Jadi, kau melihatku."
Senyum tipis terbit di wajahnya. Kali ini jauh lebih lembut daripada biasanya.
"Iya. Itu Sunny."
Dia berhenti sejenak.
“Anakku."
Dadaku seakan mengencang.
Bukankah sejak awal aku sudah menduga jawaban itu? Anak kecil itu memanggilnya Mami.
Aku saja yang terus mencari kemungkinan lain. Mungkin Sunny adalah keponakannya. Mungkin anak sahabatnya. Mungkin hanya seorang anak yang sangat dekat dengannya.
Ternyata tidak. Sunny benar-benar anaknya.
Itu berarti … Savana juga sudah menikah