“Mana anak baru yang jadi asisten saya?” suara pria dingin memecahkan keheningan kantor seketika.
“Maaf Pak, dia belum datang. Saya akan coba hubungin kembali untuk datang hari ini,” ujar salah satu timnya segera menghubungi calon asisten untuk bos dinginnya.
“Dia sudah pikun? Ini hari pertama dia masuk kerja,” amarahnya langsung kembali ke ruangan. Setelah asisten lamanya resign untuk menikah dan pindah ke luar kota, Mada Wismaya Cakara mencari asisten pengganti.
Harusnya saat ini, dia sudah datang dan menyiapkan kopi yang sebagai rutinitas setiap hari. Apa yang dia dapatkan? Kosong, bahkan datang saja terlambat. Tidak cocok sekali, Mada ingin memaki lebih justru mendengar pintu ruangan terbuka.
“Maaf Pak, saya terlambat. Ini kopi arghhh…,” baik Mada maupun gadis itu sama – sama terkejut, bagaimana tidak? Dia meletakkan kopi tergesa – gesa. Tidak hati – hati, tangannya sendiri kena gelas panas dan langsung tumpah di atas meja kerja Mada yang banyak dokumen penting ingin diselesaikan hari ini menjadi kacau.
“Awh…, panas sekali!” keluhnya melihat tangannya memerah, sedangkan Mada masih diam hingga tatapan mereka bertemu.
Jasmine Manisa.
Gadis ceroboh, dengan kesalahan pagi ini terlambat dan yang paling fatal adalah menumpahkan kopi di meja kerjanya, bahkan semua sketsa gambar miliknya menjadi rusak dan harus di ulang kembali.
Jasmine mengedip – ngedip takut, ia sudah mendengar dari mantan asisten Mada yang kemarin resign jika bosnya galak, dingin, kaku, tidak menerima kesalahan sekecil apapun, tapi hari ini…, Jasmine membuat kesalahan yang besar.
“Pak, maaf. Saya tidak sengaja, saya salah. Tadi tangan saya kena gelas, jadi panas terus gelasnya tumpah, dan…, jangan pecat saya ya pak? Jangan ya, janji deh ini terakhir kalinya saya buat kesalahan.”
Mada memejamkan mata, mendengar pembelaan dari Jasmine bukannya tenang justru semakin naik darah. Kenapa ia harus menerima orang seperti Jasmine untuk menjadi asistennya? Yang ada malahan merepotkan.
“Panggil OB untuk masuk ke ruangan saya,” dengan suara dingin mengintimidasi Jasmine dengan cepat pergi menemui OB untuk membersihkan ruangan Mada yang sudah semerbak penuh kopi.
“Bukannya buat kerjaan ringan, tambah beban!” gerutu Mada segera membereskan berkas yang masih bisa diselamatkan. Untung saja semua yang rusak ini ia memiliki copyan. Jika tidak kepalanya akan pecah membuat sketsa baru untuk proyek ini.
Melody hanya melihat di pojokkan, bingung harus apa. Ia mendadak menjadi kaku, terlambat karena ia kesiangan. Bahkan jantungnya tak tenang melihat bosnya menatapnya tajam.
“Kamu ngapain diam di sana?” suara Mada membuat Jasmine tersenyum manis.
“Lalu saya ngapain Pak?” tanya Jasmine mendadak membuat Mada melebarkan mata, tidak habis pikir apa yang baru dikatakan oleh asisten barunya.
“Ambil jadwal saya, niat kerja atau enggak saya kamu –“
“Baik Pak, saya akan ambil.”
Jasmine menyiapkan jadwal Mada, dan kerjaan yang harus ia selesaikan dengan Mada sekali pun. Ini hari pertama kerja, banyak sekali masukan dan nasihat yang Jasmine dengar dari teman – teman di sini. Jasmine diam di ruangannya. Bingung, harus membuat sketsa yang bagaimana? Sedangkan Mada belum menjelaskan konsep, dan makna yang dia suruh.
“Tanya aja, daripada salah.”
Ia masuk melihat Mada memakai kacamata yang sedang menggambar di layar tablet langsung melirik kedatangan Jasmine. Mada bahkan tidak tertarik dengan kedatangan asisten barunya, Jasmine duduk di depannya langsung menyerahkan proposal yang baru saja ia berikan tadi masih sama sebelum ada perubahan sama sekali.
“Pak, saya masih kurang paham dengan sketsa ini. Dari yang saya baca ini membuat desain taman di raya kota ya? Ini sudah jadi sketsanya, kurang apa Pak?” dengan tatapan polos membuat Mada menatap sketsa yang ditunjukkan oleh Jasmine.
“Kamu kuliah sudah lulus?” tanya Mada dengan sorotan tajam melihat wajah cantik dengan makeup tipis, dan yang paling menarik dari penampilan Jasmine adalah ia memakai asksesoris di rambutnya jepitan pita berwarna putih. Bagi Mada itu aneh, penampilan asistennya masih tergolong normal dan polos.
Dari banyaknya orang yang ia temui, mereka selalu menampilkan wajah cantik dengan pakaian yang seksi, mewah, dan tak karuan. Sedangkan Jasmine? 24 tahun seperti remaja kemarin saja, dan Mada melihat visual Jasmine memang cocok, cantik tapi tetap saja aneh di matanya.
“Sudah Pak, saya lulus tahun kemarin. Saya juga ikut bergabung dengan tim perorangan mengenai desain dan seni properti cukup membuat pengalaman saya bertambah. Tapi, saya tetap butuh bimbingan dari Anda,” ujar Jasmine menatap wajah tampan Mada.
“Sama saja kamu tidak mengerti dengan kerjaan kamu, saya cari asisten yang cepat, tanggap dan siap. Kalau kamu gak siap, saya juga yang repot!”
“Tapi saya bisa kerja dengan baik, Pak!” bantah Jasmine baru hari pertama ia harus bisa gabung di perusahaan ini. Dengan fasilitas lengkap dan gaji yang cukup besar Jasmine harus bertahan bukan?
“Selesaikan kerjaan itu, saya mau lihat hasilnya. Jika jelek, saya gak mau nerima kamu jadi asisten saya!” ketus Mada melanjutkan sketsa yang terjeda gara – gara Jasmine.
Jasmine melakukan apa yang diperintahkan langsung oleh Mada, ia mulai menggambar dengan perlahan, teliti, dan pasti. Bisa diketahui, jika Jasmine memang kreatif. Banyak wawasan, dan pandangan mengenai seni. Mada yang melihat itu paham, karena dia juga melakukan yang sama.
Hanya saja, pertemuan mereka pagi ini menyebalkan membuat Mada menatap tajam asistennya. Cukup cantik. Ah, tidak ia bahkan menumpahkan kopi di mejanya dan membuat kerjaan Mada bertambah dua kali lipat.
“Saya cari pengganti asisten, yang bisa diajak kerja sama. Bukan apa, kalau kamu gagal dalam sketsa yang sudah saya jelaskan, saya tidak bisa menerima kamu. Bukannya kerjaan cepat selesai, yang ada makin merepotkan kalau kamu gabung.”
“Bapak belum lihat gambar saya, jangan komentar dulu kenapa!?” gumam Jasmine membuat Mada cukup terhenti.
Baru sadar, Mada yang dingin, kaku tapi kali ini..., dia banyak bicara panjang lembar dengan gadis yang baru ia temui belum ada sehari. Bahkan kesalahan menumpahkan kopi di meja tadi, Mada tidak marah? Ah ini aneh sih, ternyata yang aneh bukan hanya Jasmine. Dia juga ikutan aneh.
“Sudah, bagaimana hasilnya Pak? Setuju atau tidak?” tanya Jasmine menyerahkan kertas yang sudah ia coret – coret menggunakan pensil dengan sketsa yang menjadi pertimbangan untuk Mada.
Jasmine sudah berharap penuh percaya diri, hasil sketsanya sudah cocok dengan tema taman kota raya. Di mana ia menambahkan gambaran taman bermain khusus anak, serta ruko kecil estetik di pinggiran yang membuat daya tarik masyarakat dengan taman tersebut. Jasmine membayangkan jika sketsa ini menjadi nyata, ia percaya taman kota desain itu akan ramai dikunjungi apalagi saat akhir pekan.
“Jelek, tidak cocok. Kamu kembali ke ruangan, saya pusing lihat kamu!” usir Mada namun ia mengambil sketsa yang dibuat oleh Jasmine.
“APA?” dengan raut wajah cemberut dan sebal, ia langsung pergi tanpa pamit dengan Mada. Gambar sebagus dan sedetail itu di bilang jelak? Yang ada sikap Mada yang jelek, bukan sketsanya!