Ranty yang sedang hamil tua berlari-lari menuju sebuah bukit yang terletak di dekat sebuah danau. Dia berjalan terseok-seok sambil menoleh ke belakang melihat para penjahat yang tengah mengejarnya.
Dengan nafas tersengal-sengal dan mata yang sangat ketakutan, Ranty bersembunyi di balik sebuah pohon besar yang tertutupi semak-semak dan sebuah batu besar.
Perutnya terlihat kontraksi, dan dia sepertinya mau melahirkan anaknya. Dengan butiran-butiran keringat di kening dan pelipisnya, Ranty menjerit dan menyumpal mulutnya dengan kain menahan sakitnya rasa kontraksi.
"Ohhh akhhh...uhhh..uhmmmm!", suara jeritan dan desahan nafas Ranty dengan nafas yang memburu mencoba menahan rasa sakit di bagian punggung dan perutnya yang terasa seperti kram dan kejang.
Nafasnya mulai terlihat tidak beraturan dan sangat tersengal-sengal. Sambil memejamkan matanya dan menggigit bibirnya, Ranty berusaha menenangkan diri agar suaranya tidak terdengar dengan keras dan para penjahat mengetahui tempat persembunyiannya.
Sementara para penjahat yang berjumlah 3 orang itu sedang berlari-lari di sekitar bukit dan berjalan menyusuri tepi danau dan bukit untuk mencari dan menemukan keberadaan Ranty.
Tiba-tiba handphone salah seorang penjahat berdering, dan pria berkepala plontos dan berwajah sangar itu pun mengangkat hpnya yang tengah berdering.
"Halo bos!, iya bos kami kehilangan jejaknya bos!", sahut pria itu dengan mata tajam memandang sekeliling perbukitan.
"Temukan dia sekarang juga mengerti!", ucap suara seorang perempuan dari sambungan telepon.
"Baik bos,kami akan mencari terus sampai ketemu bos!", sahut pria botak itu sembari menutup telpon dan berjalan terus sambil menghampiri kedua anak buahnya.
"Cari dia terus sampai ketemu mengerti!", seru pria botak itu kepada kedua anak buahnya.
"Baik bos!", sahut kedua anak buahnya sambil berjalan dengan mata yang menoleh sembari mencari-cari ke seluruh area perbukitan. Akhirnya mereka berpencar satu sama lainnya untuk segera menemukan sosok Ranty.
Sementara Ranty yang tengah kontraksi terus menerus merintih dan meringis menahan rasa sakit di seluruh sendi-sendi tubuhnya. Wajahnya terlihat penuh ketakutan dan kecemasan dengan peluh membasahi sekujur tubuh dan wajahnya.
"Oh Tuhan.., tolong selamatkan aku dan bayi dalam kandunganku!", seru Ranty berbisik sambil meringis menahan rasa kontraksi yang sangat menyiksanya.
"Ohhhh akhhh uhhhh!", suara desahan nafas Ranty semakin keras karena kontraksinya semakin terasa sakit seperti sedang mematah-matahkan seluruh tulang-tulang dan persendiannya.
"Ya Tuhanku!, aku sepertinya akan segera melahirkan!, tolong bantu aku ya Allah, tolong bantu bayiku!", ucap Ranty berbisik sambil mengedan dan mengeluarkan seluruh tenaga dan kekuatannya untuk mengedan lebih kencang lagi.
"Aku tidak kuat lagi!, aku tidak sanggup lagi tolong aku Tuhan! tolong akuuuu!", jerit Ranty sambil memejamkan matanya dan nafasnya begitu tersengal-sengal.
"Akhh...Ohhh uhmmmmm!!", pekik Ranty menjerit sambil mengedan kuat agar bayinya bisa keluar dan lahir dengan selamat.
"Oekk oekk oekkk!", tiba-tiba bayinya Ranty keluar dan lahir dengan selamat. Ranty pun akhirnya tersenyum dengan wajah lemas dan langsung membalut tubuh bayinya dengan kain yang sengaja dia lilitkan di tubuhnya sewaktu kabur dari kejaran para penjahat.
Dengan tersenyum dan raut wajah bahagia Ranty menatap dan memandangi wajah bayi perempuan yang sedang di balutnya. Dia membersihkan rambut dan mengelap-ngelap wajah bayinya dengan kain seadanya.
Wajah bayi merahnya Ranty terlihat begitu cantik dan sehat. Matanya yang indah dan bening sedang menatap ke ibunya yang sedang terharu dan meneteskan air mata.
"Maafin ibu ya anakku!, kamu harus lahir di tempat ini dengan cara seperti ini!", ucap Ranty sembari memotong tali pusar sang bayi dan memilinnya dengan tangannya.
Dengan tergesa-gesa Ranty langsung membersihkan dan membalut kembali tubuh bayinya dengan kain agar merasa hangat. Sesekali matanya menoleh ke balik pohon dan sekeliling memastikan para penjahat itu tidak mengetahui tempat persembunyiannya.
Sementara para penjahat itu sedang berlari-lari dan mencari-cari terus keberadaan Ranty dan menyusuri setiap tempat-tempat yang bisa dijadikan tempat persembunyian.
"Lu cari ke sana ya!, gue ke sebelah situ!", ujar pria berperawakan tinggi dan besar ke temannya yang satu lagi.
Temannya yang bertubuh agak pendek dan gemuk itu pun mengangguk dan langsung berjalan kembali berpencar sambil terus mencari-cari keberadaan Ranty.
Hari mulai senja dan para penjahat terus berjalan dan berkeliling menyusuri daerah perbukitan hingga menuju tempat persembunyiannya Ranty dan juga bayinya.
Sementara Ranty yang sedang kelelahan tertidur sejenak dengan bayi di dalam pangkuannya. Dia bersandar ke pohon besar sambil memejamkan matanya agar tubuhnya kembali mendapat tenaga dan kekuatan baru.
Saat sedang tertidur tidur beberapa saat, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang yang sedang berjalan mendekat ke tempat persembunyian Ranty.
Ranty sontak terkejut dan seketika terbangun dari tidurnya, dan dengan sigap memeluk bayinya sambil menoleh ke balik pohon besar tempatnya bersandar.
Dengan mulut menganga dan mata membelalak Ranty melihat salah seorang dari penjahat itu tengah berjalan mendekati tempat persembunyiannya.
Dengan penuh rasa takut Ranty terkejut bukan kepalang sambil mengintip dari balik pohon besar yang menutupi tubuhnya dari pandangan si penjahat.
Si penjahat bertubuh pendek dan gemuk itu pun terlihat berdiri dan berjalan perlahan-lahan dengan mata yang menatap sekeliling perbukitan dan pohon besar tempat Ranty bersembunyi.
Ranty yang tengah ketakutan dan memeluk bayinya sambil menahan nafas duduk bersembunyi di balik pohon besar dan bersandar ke sebuah batu yang ada di dekat pohon.
"Tolong kami ya Tuhan... tolong selamatkan aku dan bayiku dari penjahat ini!", pekik Ranty berbicara dalam hati.
"Tolong jangan nangis dan bersuara dulu ya nak!, tolong tidur dengan lelap ya anakku sayang!", ucap Ranty kembali berseru dalam hatinya sembari menatap wajah bayi mungilnya yang sedang tertidur.
Seperti sedang mengerti dan mendengar suara ibunya, sang bayi pun tertidur dengan lelap. Sementara si penjahat dengan raut wajah yang sangat dan kejam memeriksa setiap sudut-sudut dan berbalik arah tanpa melewati pohon besar tempat Ranty bersembunyi dengan bayinya.
Setelah si penjahat berbalik badan dan berjalan meninggalkan tempat persembunyian Ranty dengan bayinya, Ranty pun langsung menarik nafas dengan lega dan terus memeluk bayinya dengan erat sambil mengintip dari celah batu yang berlobang.
Namun saat Ranty baru selesai menarik nafas dengan lega, tiba-tiba seekor ular sedang merambat dan turun dari pohon besar itu. Ranty sontak terkejut dan berteriak kencang dengan spontan tanpa menyadari kalau si penjahat masih belum terlalu jauh dari tempat persembunyiannya.
"Aaaaaaahh!", jerit Ranty dengan mata terbelalak melihat seekor ular piton sedang turun dari atas pohon.
Ranty sontak menutup mulutnya karena sadar akan bahaya yang sedang menunggunya. Tanpa ragu Ranty langsung keluar dan berlari dari balik pohon besar dan batu tempat persembunyiannya.
"Suara apa itu?", ucap penjahat bertubuh pendek dan gemuk itu sembari menoleh ke belakang. Kemudian dia melihat Ranty yang sedang berlari dari balik sebuah pohon besar.
Kemudian pria itu berteriak memanggil-manggil temannya untuk mengejar Ranty yang sedang berlari dan turun dari perbukitan menuju Danau yang ada di bawah bukit.
"Itu dia kejar cepat!", seru komandan penjahat itu kepada kedua anak buahnya.
Lalu kedua anak buahnya itu pun dengan sigap langsung berlari mengejar Ranty ke bawah dan menuruni bukit terjal itu.
Dengan nafas Terengah-engah Ranty terus berlari sambil memeluk bayinya dengan kedua tangannya.
Ranty tiba-tiba melihat sebuah sampan yang sedang diikat di tepi danau itu, dan dengan cepat Ranty berlari menghampiri sampan kecil itu. Ranty pun langsung menaruh bayinya di atas sampan dan melepaskan tali pengikat sampan.
Dengan nafas tersengal-sengal Ranty langsung mendorong sampan itu ke tengah danau dan membiarkan sampan itu mengapung sampai ke tengah danau.
Ranty menoleh ke belakang dan melihat ketiga penjahat itu mulai mendekat dan terus berlari mengejar Ranty sampai ke pinggir danau.
Akan tetapi Ranty dengan sigap menarik nafas panjang dan melompat ke dalam danau dan berenang sampai tidak terlihat oleh para penjahat tersebut.
"Waduh bos.., dia sepertinya bunuh diri dan melompat ke dalam danau bos!", ujar salah satu anggota penjahat tersebut sambil memandang ke seluruh tepi danau.
"Ahh sudahlah! biarkan saja dia bunuh diri itu lebih bagus, justru dia mempermudah pekerjaan kita, hahaha!!", sahut sang komandan penjahat itu sembari tertawa lebar.
"Betul bos.., kita tinggal bilang ke bos besar itu, kalau wanita itu sudah mati terjun ke dalam danau hahaha!", sahut kedua anggotanya sambil tertawa dengan puas sembari memandang ke seluruh permukaan danau.
"Ya sudah.., ayok kita cabut sekarang juga!", seru sang komandan memerintahkan kedua anak buahnya sambil bergegas pergi meninggalkan danau yang bertelaga biru itu.