Cinta datang seiring berjalannya waktu. Sudah hampir empat bulan, Lita dan Geri selalu berkomunikasi melalui ponsel, saling memberi kabar lewat ponsel. Hal itu membuat Lita merasa nyaman dan semakin jatuh hati pada Geri .
Geri sudah bekerja membantu papanya memimpin perusahaan
Lita sudah kelas 2 sma
Yudha sudah bekerja
Suatu hari, Geri mengajak Lita untuk makan siang bersama. Lita menyetujuinya . Lita bahagia karena sebentar lagi akan bertemu pujaan hatinya, Geri. Dengan dijemput taksi online yang sudah dipesan Geri. Lita berangkat menuju tempat yang sudah dipesan Geri sebelumnya.
"wow...keren sekali..." gumam Lita takjub pada restoran mewah didepannya. Lita melihat seseorang sedang berjalan menghampirinya, siapa lagi kalau bukan Geri, pujaan hatinya.
"hai Lita..." sapa Geri dengan senyum manisnya
"hai kak.." balas Lita terpesona
Geri mengajak Lita untuk masuk dan menggeserkan kursi untuk Lita. Mereka duduk saling berhadapan.
"mau pesan apa?" tanya Geri lembut
"terserah kak Geri aja"
Geri memanggil pelayan dan memesan makanan.
"bagaimana kabarmu?" Geri memulai pembicaraan.
"baik kak, kakak?"
"baik juga, bahkan sekarang sangat baik lita" senyum Geri. Lita juga tersenyum.
Geri mengambil nafas panjang dan menghembuskannya lewat mulut untuk mengurangi nervous, "Lita, kakak pengen ngomong sesuatu sama kamu" ujar Geri serius menatap Lita lekat.
"ehm..i-iya kak" Lita gugup
"sebenarnya, kakak suka sama kamu sudah dari dulu. Tapi, baru sekarang kakak berani mengungkapkannya"
Geri mengambil kotak merah dalam saku celananya, dan membuka kotak itu lalu ditujukan pada Lita
"Lita, maukah kau menjadi kekasihku?" Geri memandang Lita dengan tatapan yang tulus
Lita menganggukkan kepalanya cepat
Geri kemudian memakaikan cincin ke jari manis Lita. Lita tersenyum bahagia
Beberapa saat pesanan datang, mereka makan dengan hanya saling memandang dan saling mengagumi satu sama lain.
"setelah ini, kakak mau ajak kamu jalan-jalan"
"kemana?"
"belanja kebutuhan kamu"
"nggak ah, nggak perlu kak" tolak Lita halus
"nggakpapa sayaang.." goda geri
"nggak kaaaak" pipi Lita sudah merah merona
'menggemaskan sekali gadis kecilku ini' batin Geri
"Lita, sekarang kamu kekasih kakak. Kakak akan berusaha membuat kamu bahagia. Tapi kakak mohon jangan pernah tolak pemberian kakak" ucap Geri lembut
"ehm...i-iya kak"
"kakak, tapi boleh nggak Lita minta satu permintaan?" tanya Lita ragu-ragu
"apa?" Geri mengernyitkan dahinya
"ehm, maaf kak, kakak jangan beritahu kesiapapun dulu tentang hubungan kita ya kak, Lita mohon..." harap Lita
"alasannya?"
"ehm, Lita mau sekolah dulu kaak, lagian kan siapa sih yang nggak kenal sama kakak? Lita nggak mau kalau nanti Lita dikatain sama hatter kakak" jawab Lita jujur.
"baiklah, kakak akan turuti semua permintaan kamu, apapun itu" Geri tersenyum menyetujuinya
"benarkah kak? Makasih y kak" sahut Lita girang
"biar mereka tahu dengan sendirinya tanpa kita memberitahu, bukan begitu?". Lita menganggukkan kepala
Mereka kemudian pergi ke pusat perbelanjaan.
Lita bukan tipe wanita yang suka menghamburkan uang untuk membeli barang yang tidak penting.
"kak, kita pulang aja yuk.." pinta Lita
"kamu nggak perlu sungkan Lita" sahut Geri
"bukan begitu kak,,ini sudah lebih dari cukup kaaaak" rajuk Lita
Geri tersenyum melihat Lita manja. "oke, kita pulang, tapi sebelum itu kakak mau ajak kamu ke bank"
"ngapain?" Lita heran
"buat buku tabungan buat kamu" Geri mengintimidasi
"kak, kita baru aja deket, aku udah minta-minta" Lita mengerucutkan bibirnya merasa tidak enak hati.
"nggak sayang..bukan kamu yang minta..tapi kakak yang mau" Geri menangkupkan tangannya ke pipi Lita.
"i love you gadis kecilku" Geri memeluk Lita, Lita membalasnya.
Setelah semua kelar, Geri mengantarkan Lita pulang.
"daah..." Lita melambaikan tangan, lalu masuk kerumah.
"dari mana aja" tanya ibu
"itu bu,ehm..jalan-jalan sama temen-temen.." jawab Lita Kikuk
"hh...kalau pergi inget waktu Lita, itu apaan yang kamu bawa? Jangan boros-boros sayaaang" ibu hanya geleng-geleng kepala.
"iya bu iyaaa" Lita tersenyum dan berjalan menuju kamarnya.
"mandi dulu Litaaa" teriak ibu
"iyaaaaa"
Sampai kamar Lita merebahkan tubuhnya ke ranjang
"ini bukan mimpi kan" gumam Lita memandangi cincin di jarinya.
Drrt...drrt.. Bunyi ponsel Lita membuyarkan lamunannya
"makasih ya sayang"
Lita tersenyum "makasih untuk apa"
"makasih untuk hari ini"
"aku juga kak"