Langit sore itu muram. Awan kelabu menggantung rendah, seolah menekan atap kota kecil bernama Lembah Senja. Angin dingin menyusup di sela-sela jaket tipis Aruna saat ia menutup buku yang baru saja ia pinjam dari perpustakaan tua di ujung jalan.
Suara denting jam tua di dalam perpustakaan mengiringi langkahnya keluar. Saat ia membuka pintu kayu berat itu, hujan langsung menyambutnya dengan deras. Bulir air menghantam jalanan berbatu, menimbulkan aroma tanah basah yang menusuk hidung.
Aruna mendesah pelan.
“Payung... kenapa aku selalu lupa?” gumamnya sambil menggeleng.
Tangannya menggenggam erat buku tipis berjudul Kumpulan Puisi Hujan. Ironis sekali. Ia meminjam buku tentang hujan, tapi justru terjebak oleh hujan.
Ia berdiri di ambang pintu, menatap kerlip lampu jalan yang mulai menyala di kejauhan. Lalu, matanya terpaku pada sosok seorang pria.
Dia berdiri di bawah salah satu lampu, memegang kamera. Rambutnya basah, bajunya pun kuyup, tapi wajahnya tenang. Jari-jarinya lincah menekan tombol kamera, seakan derasnya hujan adalah pertunjukan yang hanya boleh ia nikmati melalui lensa.
Apa menariknya memotret hujan? pikir Aruna. Bukankah semua orang hanya ingin segera berteduh?
Saat pria itu menurunkan kameranya, mata mereka bertemu. Hanya sebentar, tapi cukup untuk membuat jantung Aruna berdetak lebih kencang. Ada sesuatu di matanya: dalam, teduh, tapi juga penuh luka.
Aruna buru-buru mengalihkan pandangan. Ia tidak ingin terlihat sedang memperhatikannya. Tapi langkah pria itu justru mendekat, menyeberangi jalan berbatu yang tergenang air.
Dengan tenang, ia berhenti tepat di samping Aruna, lalu membuka sebuah payung transparan. Suara gesekan logam payung terdengar jelas di antara riuhnya hujan.
“Kalau hanya berdiri di sini, kau tidak akan pulang,” ucapnya pelan, suaranya rendah dan menenangkan.
Aruna terdiam, mencoba mencerna. Apa dia... menawarkan tempat di bawah payungnya?
“Tapi...” Aruna menelan ludah, ragu. “Aku tidak kenal kamu.”
Pria itu menoleh, menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis. “Raka.”
Hanya satu kata, singkat, seakan itu sudah cukup menjelaskan siapa dirinya.
Aruna terdiam, lalu mengangguk kecil. “Aruna.”
Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya, seolah jiwanya lebih dulu percaya sebelum pikirannya sempat menolak.
Raka tidak banyak bicara. Ia hanya menggeser payung sedikit ke arah Aruna. Dan sore itu, di bawah payung transparan yang menampung ribuan tetes hujan, mereka melangkah bersisian.
Aruna merasakan sesuatu yang aneh: hangat, meski udara dingin menusuk kulitnya. Ia tahu, pertemuan ini mungkin hanya kebetulan. Tapi entah mengapa, hatinya berbisik lirih—bahwa kebetulan ini akan berarti banyak.