Di sebuah kota, terdapat satu keluarga yang berencana untuk pindah rumah. Di karenakan urusan bisnis yang tidak bisa di hindari, mengharuskan keluarga Tara pindah rumah ke kota metropolitan. Tara Angelia, putri bungsu dari 2 saudara, yang baru saja menyelesaikan pendidikan Sma, mau tidak mau Tara harus meneruskan pendidikan di Jakarta mengikuti unjukan sang ayah.
Tara sudah di masukan ke salah satu perkuliahan terbaik dengan fasilitas yang memadai di ibukota Jakarta. Sejujurnya dia tidak ingin berpindah kuliah setelah di terima dari universitas favoritnya. Namun, atas perintah sang ayah dia tidak berani menyanggah keputusan tersebut. Hingga tiba dimana kala perempuan berbadan mungil itu tengah bersiap mengenakan baju andalannya.
“Ya sudah, Mah. Tara berangkat dulu.” Tara beranjak, mencium tangan sang Mama dan Papah yang masih sibuk dengan i-padnya.
“Ya sayang, jangan lupa habiskan uangmu!” tutur sang papah tanpa menatap putrinya. Tara tidak menjawab, bisa berabe urusannya melawan sang ayah untuk mengurangi uang sakunya yang menggunung.
Hari pertama masuk, Tara mengenakan baju rajut warna merah dan celana jeans panjang berwarna abu. Tak lupa rambutnya ia ikat dua plus dengan kacamata strawberry favoritnya.
“Stop stop stop!”
Mamah tara menghentikan langkah putrinya yang sudah berbalik.
“Ih Mamah apa lagi, Tara udah mau telat nih,” jawab Tara malas sambil memakai sepatu sneckersnya dengan tergesa-gesa.
“Itu kamu mau kuliah apa mau dangdutan?” tanya sang mamah heran melihat penampilan putrinya.
“Mau dangdutan! Udah ah Mah. Aku pergi dulu ya, assalamua’alaikum!” jawab tara terburu-buru.
“Wa’alaikum salam.”
Sang Mama geleng-geleng kepala, melihat tingkah putrinya yang masih saja nyaman dengan penampilan cupunya. Padahal sudah sering kali diperingatkan sang mamah hingga mulutnya berbusa. Namun Tara tetap kukuh dan nyaman dengan penampilannya.
Tara sudah tiba di Universitas. Gadis itu sengaja turun di halte, jalan dari sana ke gerbang hanya untuk menutupi identitasnya. Tara sebenarnya paling tidak suka di antar sopir, tapi Pak Toni kukuh ingin mengantar. Namun tara masih saja menolak ajakannya, hingga tara berjalan perlahan menuju gedung kampus. Tanah kering menandakan musim kemarau tanpa tersentuh air hujan, juga beberapa pepohonan kecil yang entah namanya apatetap berdiri kokoh. Karena di tompang oleh kayu, dengan daun dan bunga kering yang setia menemaninya.
Tara yang percaya akan dirinya yang imut setelah memakai kecamata favoritnya, terus menyusuri jalan ke arah gerbang kampus. Terdapat jalan menanjak setelah gerbang. Jalan tersebut mengarah ke tempat parkir yang luas. Sepertinya cukup menampung 15 unit mobil. Sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang terparkir di sana. Sampah dan dedaunan kering mendominasi area kampus bagian depan. Sesaat Tara melirik ruangan yang tertutup rapat. Tidak tahu itu ruangan apa, yang pasti suasana terasa berbeda, ketika melewatinya. Tanpa berlama-lama tara melanjutkan perjalanannya. Ruangan yang bersampingan dengan lorong yang sangat luas. Setiap mahasiswa harus melewati kedua bangunan sebelum tersebut tiba di kampus utama.
Kemudian, setelah tiba Tara bertemu salah satu dosen yang memang sudah di janjikan untuk mengarahkannya ke tempat dia akan memulai belajar. Pak dosen dengan sigap menghantarkan dia berjalan menuju kelas. Hati Tara berdegup kencang saat menginjakan kaki di dalam kelas, bisik-bisik dan tatapan aneh ia dapatkan dari calon teman kuliah. Di balik punggung Pak Doni, Tara menyembunyikan wajahnya.
“Selamat pagi!” ujar Pak Doni.
“Pagi pak!” jawab para mahasiswa serentak.
“Hari ini, kita kedatangan mahasiswa baru. Tara, silahkan perkenalkan diri kamu,” tutur pak Doni pada Tara. Takut-takut Tara maju. Namun karena gugup Tara sampai meringkas kabel hingga membuatnya oleng dan menjatuhkan kaca mata stawberrynya. Semua tertawa, sedang Tara tak mengindahkan hanya mencari kaca matanya.
“Diam semua! Tara, ini kaca mata kamu.” Pak Doni memberikan kaca mata milik Tara.
“Halo semuanya! Perkenalkan namu aku Ta… Ta....”
“Ta… Ta apa woy! Tanjidor? Hahahaha,” celetuk satu mahasiswa di ikuti tawa lebar mahasiswa lain.
“Sutt Diam!” sentak Pak Doni membuat kelas kembali hening.
“Silahkan, Nak.”
“Hallo semua, perkenalkan nama aku Tara Angelina,” ungkap Tara dengan lancar kali ini.
“HALLO TARA!!!” Ledek semua mahasiswi dengan gaya alay. Tara hanya tersenyum kikuk.
“Sudah, sudah!”
“Tara! Silahkan duduk. Kamu bisa duduk di sebelah sana, di barisan kedua.” Lanjutnya mempersilahkan Tara untuk duduk. Hampir tiba di tempat duduknya, Tara terjatuh akibat seseorang yang meringkas kakinya. Namun Tara tidak marah, hanya membungkuk sopan setelahnya.
“Hei!” Seseorang mengejutkan Tara.
“Hai,” jawab Tara sopan.
“Tara?” tanyanya, Tara mengangguk.
“Perkenalkan! Meisya,” ucapnya sambil mengangkat tangan.
“Meisya Allah Tara! Hahaha,” celetuk mahasiswa cantik itu mengundang tawa para mahasiswa lain.
“Sudah jangan di dengerin,” ungkap Meisya mengalihkan pandangan Tara.
“Siapa dia?”
“Sasya, primadona di kampus kita. Kita hanya nurut dan jangan macam-macam saja sama dia, semuanya akan beres kok,” ungkap Meisya dengan senyumnya yang mengembang.
“Kenapa begitu?”
Belum sempat Meisya menjawab, suara gembarakan meja mengejutkan mereka.
“Omaigat! Itu dosen apa rampok?”
Seorang dosen masuk ke dalam kelas membawa satu batang kayu yang cukup besar. Di tambah dengan wajahnya yang menakutkan membuat ruang kelas yang biasanya ramai seperti pasar langsung senyap seperti kuburan.
“Selamat pagi!” sapanya dengan nada tegas dan menakutkan.
“Pagi pak,” jawab mereka dengan pelan.
“Itu siapa?” bisik Tara pada Meisya yang duduk tepat di sampingnya.
“Suutttt! jangan kenceng-kenceng ngomongnya! Itu tuh dosen lho, namanya Pak Surya. Kalo ketauan, bisa nikah kita sama batang kayunya yang tampan itu!” Canda Meisya membuat Tara cekikian.
“Hey kalian berdua! Beraninya ngobrol di jam saya!” sentak Pak Surya membuat Tara dan Meisya langsung tegang. Terlihat Sasya dan teman-temannya tertawa pada mereka.
“Mmm ngga, Pak! Maafkan Saya,” jawab Meisya dan Tara menggagap.
“Sini kalian berdua!”
“Mampus!” Meisya ketakutan, memeluk lengan Tara posesiv.
“Habisin! Habisin! Habisin!” teriak mahasiswa lain semakin membuat Meisya ketakutan, sedang Tara hanya diam. Kemudian beranjak menarik Meisya menghampiri Pak Surya.
“Kamu!” tunjuk Pak Surya pada Tara.
“Iya, Pak?”
“Kerjakan soal di halaman 120!” ujar Pak Surya dengan wajah menyeramkan. Meisya sudah gemetar, jalankan mengerjakan soal halaman 120, halaman 5 saja dia tidak faham-faham. Namun tindakan Tara kali ini membuat mahasiswa ternganga. Tara meraih spidol dan mulai menjawab pertanyaan halaman 120 dengan lancar tanpa jeda. Jawaban sebanyak itu seperti sudah di hafal sebelumnya oleh Tara. Sasya yang tadinya sudah tertawa senang akan melihat dua cupu itu di hukum akhirnya sirna berubah menjadi terkejut.