Pagi yang usang, aku harus menyampaikan kedua kalinya jika aku belum bisa menulis tentangmu disini. Hari ini aku ingin mengungkapkan kekesalanku pada semesta. Tentang orang-orang egois, yang tak akan pernah habis. Aku ingin sampaikan pada embun bahwa cahaya sudah melepaskan genggaman tentang dirinya, angin sudah berhenti menyisiri langkahnya, nan ketenangan hadir dari buah pikiran yang sederhana.
Hari ini melelahkan sekali, perlu banyak energi untuk bisa berpijak di rumah mungil ini. Kecewa itu pasti, aku meyakini setiap insan pernah menemukan kecewanya sendiri. Semesta memang tak meluluh tentang bahagia, ada bait naskah yang di poles mata, mungkin lebih indah dari sebelumnya, namun jauh dari sempurna.
Oh iya, aku lupa menyampaikan kepedulian orang terhadapmu, aku juga lupa menyampaikan salam dari dewa Asclepius kepadamu. Semoga lekas pulih, pulih dari keadaan buruk menjadi baik, pulih untuk sekedar membalas berita singkatku, meskipun aku tak begitu mengharapkannya.
Berteduhlah dengan udara hangat, jika masuk angin. Jadikan selimut teman sementaramu, biarkan ia menghantarkan kebaikan atas dirimu. Tak begitu tentang keadaanmu, aku juga perlu menengadah untuk meminta sang Rozzaq menyembuhkanmu (syafakillah).
Kalau kamu tau, aku tak begitu menghawatirkan tentangmu. Aku hanya hawatir tulisan ini tak akan selesai jika tak denganmu. Hanya sebatas itu, menghidupkan pikiran melalui jalan yang ku tempuh sendiri, salah satunya kamu. Semoga sehat sampai aku menuliskan bab terahir dari tulisanku ini.
Oh iya, tadi pagi aku lupa membelikanmu bubur. Sempat kepikiran untuk membawakanmu sarapan pagi, tapi rumahmu belum sempat ku tanyakan lagi. Aku sempat bingung mengambil sikap untuk membuatmu berfikir jika aku juga peduli. Aku juga tak begitu mengerti memperlakukanmu. Tak begitu mahir mengarang bait karya seperti Jalaluddin Rumi. Melalui tulisan ini, aku hanya ingin menemanimu, menghibur. Akan kukirimkan tulisanku yang lain, sebagai sarapanmu setiap hari, sebagai kabar unik tentang kamu dan semestaku.