Sesampainya di dalam kelas, Risma duduk sendirian. Matanya tertuju pada buku catatan yang tadi ia pungut dari parkiran. Rasa penasaran menggoda hatinya. Ia membuka lembar demi lembar buku itu, membaca tulisan tangan yang rapi milik seseorang bernama Muhammad Walmubin Arasid.
Namun satu kalimat di halaman terakhir benar-benar menyentuhnya:
“Kejar mimpimu sampai tercapai.”
Risma terdiam. Jantungnya berdegup pelan, seakan kata-kata itu menembus langsung ke dalam dirinya. Ia menatap kosong ke luar jendela, pikirannya melayang. Kata-kata itu sederhana, tapi ada sesuatu di dalamnya yang menusuk—seakan mengingatkannya pada mimpi-mimpinya sendiri yang perlahan mulai ia lupakan.
Namun lamunannya buyar ketika terdengar suara memanggil dari pintu kelas.
“Risma!”
Risma terkejut. Dengan cepat, ia menyelipkan buku itu ke dalam tasnya. Jantungnya berdebar karena takut ketahuan.
“Ngapain kamu ke kelasku? Memangnya di kelasmu nggak ada guru?” tanyanya dengan nada sedikit ketus.
Suci masuk dengan langkah santai. “Kepo amat, Ris. Aku ke sini juga bukan mau ngintip kamu, kok.”
“Terus, mau apa?” Risma melipat tangannya, mencoba menutupi kegelisahan.
Suci tersenyum simpul, berusaha mencairkan suasana. “Yuk, makan bareng?”
Risma mengangguk singkat, “Ya, ayo.”
Saat mereka berjalan menuju kantin, Suci melirik temannya dengan curiga. “Kamu tadi kayak sembunyiin sesuatu deh. Serius, kamu nggak kenapa-kenapa?”
Risma hanya menggeleng pelan, enggan menjawab.
Beberapa menit kemudian, Suci kembali bertanya, “Ngomong-ngomong, kamu kan bukan asli sini, kan? Kok bisa pindah ke sini?”
Sambil menyendok nasi ke mulutnya, Risma akhirnya menjawab lirih, “Awalnya, Papa nggak setuju pindah. Tapi Mama meyakinkan beliau. Kalau Papa nggak ikut keputusan kantor, bisa-bisa dipecat. Papa tahu, sih, alasan kenapa dia dimutasi...”
Suci mencondongkan tubuhnya, penasaran. “Emang kenapa?”
“Karena Papa orang kepercayaan bosnya. Kantor pusat buka cabang baru di sini. Jadi... ya, akhirnya kami pindah, tinggal di kampung nenek.”
Suci mengangguk paham. “Pindah itu nggak mudah ya…”
Selesai makan, Risma berdiri, “Aku balik ke kelas duluan ya.”
“Duh, nggak asyik! Baru juga makan. Emang ada kelas?” keluh Suci.
Risma hanya tersenyum kecil, lalu pergi tanpa berkata apa-apa. Namun dalam hatinya, ia berbisik, “Aku belum selesai baca buku itu... Kenapa kalimat tadi begitu bikin aku mikir, ya?”
Waktu berlalu. Matahari yang tadi cerah kini mulai tenggelam, menandakan hari mulai sore. Di parkiran, Mubin dan Sabiri berjalan berdampingan.
“Kamu pulang-pergi, Bin?” tanya Sabiri.
“Iya, Ibuku nggak ngizinin ngekos. Katanya mahal. Lagi pula, aku bisa bantu orang tua di kebun kalau pulang.”
“Oh, gitu ya... Ya udah, bareng aja pulangnya.”
“Oke, gas.”
Mereka pun mengendarai motor masing-masing. Tapi di tengah jalan, Sabiri menepi ke pom bensin.
“Yah, ditinggal,” gumamnya.
Ia mengirim pesan:
Sabiri: “Dimana bin?”
Mubin: “Ini aku nunggu di simpang tiga. Kamu sih, ngajak muter-muter terus.”
Sabiri: “Hehe, tunggu bentar, sebentar lagi kok.”
Tak lama kemudian, Sabiri muncul dari belakang.
“Mubin!”
“Heh, kamu udah di sini aja?” kaget Mubin.
“Ya iya lah, aku isi bensin bukan di pom beneran, di eceran... Ayo jalan lagi.”
Di jalan menuju rumah, Sabiri bertanya, “Rumahmu deket sini juga?”
“Lurus terus, nanti ada gerbang gede, masuk ke situ. Mau mampir?”
“Lain kali aja ya,” jawab Sabiri.
Mubin melambaikan tangan, “Oke, aku duluan.”
Setiba di rumah, Mubin langsung mencium tangan ibunya.
“Assalamualaikum, Bu.”
“Waalaikum salam. Udah makan belum?”
“Nanti, Bu. Mau salat dulu.”
Selesai mandi dan salat, Mubin merebahkan diri di tempat tidur. Namun, perutnya berbunyi. “Aduh, lapar... Tapi tadi kayaknya ada tugas, ya?”
Ia membuka tas, mencari buku catatannya. Namun... tidak ada.
“Loh, mana buku kesayanganku?!”
Ia membongkar semua isi tas. Panik.
“Jangan-jangan... jatuh di sekolah?! Aduh, kalau ada yang baca...”
“Bin? Kenapa teriak-teriak?” tanya ibu dari ruang TV.
“Enggak apa-apa, Bu.”
Setelah makan, ia bersiap keluar lagi. Saat mengambil jaket, adiknya menyapanya.
“Mau pergi lagi, Bang?”
“Iya, Luna. Ada barang ketinggalan. Eh, Ibu ke mana?”
“Nggak tau, tadi pergi naik motor.”
“Nanti bilangin ke Ibu ya, Bang pergi sebentar.”
“Iya, Bang. Titip oleh-oleh dong! Es krim ya!”
“Hadeh... nyesel nanya,” ujar Mubin sambil tertawa.
Di perjalanan, ia melihat Sabiri di depan rumah.
“Sabiri! Temenin aku ke sekolah, yuk.”
“Mau ngapain?”
“Nyari buku. Penting banget.”
“Ya udah, ayo.”
Cuaca mendung menyelimuti langit. Mubin menyuruh Sabiri menyetir motornya. Di dekat Indomaret, Mubin minta berhenti. Setelah selesai belanja, mereka kembali ke jalan.
Sesampainya di sekolah, mereka mencari di parkiran. Nihil.
“Mungkin di dalam kelas?” usul Sabiri.
“Tapi kuncinya di Pak Budi...”
“Ambil aja.”
Setelah meminta izin, mereka masuk kelas dan menggeledah setiap sudut. Tapi hasilnya tetap sama tidak ada.
“Udah, Bin. Besok aja lagi.”
Mubin mengangguk lesu. Di perjalanan pulang, mereka hampir menabrak seseorang di tikungan.
“Hati-hati dong!” teriak seseorang.
Mubin dan Sabiri kaget. Ternyata yang hampir tertabrak adalah Risma. Bajunya terkena debu. Tak lama, Suci datang menghampiri.
“Risma, kamu nggak apa-apa?”
Risma hanya mengusap rok seragamnya. “Gak apa-apa, cuma kaget.”
Mubin memilih pergi diam-diam tanpa berkata apa pun. Namun dalam hati, ia bertanya-tanya: “Tadi... bukankah itu Risma dan Suci? Kenapa rasanya ada yang janggal?”
Sabiri menoleh dan tersenyum, “Makasih ya, Bin.”
“Iya, Bir. Sama-sama.”
Mubin pun menyalakan motornya dan melaju pulang... dengan kepala yang penuh tanda tanya.