1 jam kemudian.
Mereka sampai di sebuah rumah dengan luas halaman dua kali lapangan bola. Jauh-jauh ke Jawa Barat hanya untuk mendatangi rumah ini. Tidak di tengah kota sih, sedikit di tepian daerahnya.
Maira memperhatikan bangunan putih bertingkat dua dengan arsitektur yang sangat terasa estetikanya. Pilarnya saja tidak bisa ia peluk karena ukurannya sangat besar.
Ini orang buat rumah apa gedung putih Washington? tanya Maira saat berdiri di samping mobil, menunggu Kanz mengambil sesuatu di bagasinya.
Kanz memergoki Maira terkesima melihat rumahnya. Kampungan, ucapnya dalam hati.
“Ayo, masuk!” ajak Kanz.
“Ah, iya, Pak!”
“Panggilanmu,” katanya menasihati.
“Maaf,” sahut Maira terus berjalan sambil memegang jaketnya. “Mas, jaket ini jadi di pakai?” tanya Maira.
Kanz lupa meninggalkannya di mobil, ia menariknya lalu memanggulnya di bahu kanan.
“Selamat pagi, Tuan muda.” Pelayannya menyapa dia.
“Pagi, mama papaku di rumah?” tanya Kanz.
“Ada, Tuan. Mereka sedang bermain golf.”
Hah? Main golf? Jadi di belakang rumahnya ada lapangan golf? tanya Maira dalam hati.
“Bawakan ini,” ucap Kanz memberi jaketnya pada pelayan.
“Baik, Tuan. Silahkan masuk.” Pelayan itu membukakan pintu yang super besar itu untuk mereka.
Maira tersenyum manis pada wanita itu. Ia membalasnya dengan senyuman ramah. Maira tercengang lagi melihat desain dalamnya yang sangat mewah.
Celinguk kiri dan kanan hingga tidak menyadari kalau Kanz berhenti dari langkahnya.
Buk.
Maira menabrak punggung Kanz. “Aw!”
Kanz berbalik dan melihat Maira kesakitan. “Matamu di mana?” tanyanya.
“Ada, kan baru saja aku pakai," jawabnya.
“Ck,” decak Kanz kesal pada Maira yang tersenyum padanya. Kanz menggeleng dan menyuruhnya duduk di kursi dekat dengan jendela samping.
Bukan di ruang tamu, tapi seperti ruang kecil untuk membaca. Maira melihat banyak susunan buku di lemari dekat dengannya hingga bisa menyimpulkan bahwa itu adalah ruangan baca.
“Baik, Mas.” Maira mulai membiasakan diri untuk memanggil dia dengan sebutan itu.
Kanz berjalan ke arah pintu belakang. Ingin menemui orangtuanya di halaman belakang.
Maira tidak betah jika hanya duduk saja. Ia pun berdiri dan mengecek buku-buku yang ada di sana.
Deretan buku bisnis, keuangan, dan manajemen mendominasi.
Maira tidak berani mengambilnya, hanya ingin melihat saja. Ia beranjak ke sudut, ada bingkai foto yang menarik perhatiannya.
Foto mama, papa dan Kanz tertera di sana saat pria itu wisuda. Di sebelahnya ada juga foto dia dan seorang perempuan yang jauh lebih muda darinya.
Apa ini adiknya? Atau kakaknya? Maira tidak tau jawabannya.
“Mama.” Jeritan itu terdengar dari pintu masuk tiba-tiba dan membuat Maira berpaling. Wanita yang ada di foto kemudian muncul.
Perempuan itu terkejut melihat Maira berdiri di sana. “Kau siapa?” tanyanya tanpa menyapa terlebih dulu.
Maira menurunkan kepalanya sedikit. “Saya Maira.”
“Maira? Maira siapa ya? aku tidak pernah dengar ada nama Maira di rumah ini,” sahutnya mendengus.
Maira menelan ludah. Belum ketemu mama papanya aja sudah deg-degan sama perempuan ini.
“Saya-“ ucapan Maira terhenti karena Kanz menyambar jawabannya.
“Dia pacar Kakak,” jawab Kanz.
“Hah?” wanita itu kaget. Dia tertawa menyengih sambil melirik tajam pada Maira.
“Kau pulang hanya untuk menunjukkan kekasihmu pada Mama?” tanyanya ketus.
“Jaga ucapanmu. Aku mengawasi bisnisku.”
“Bisnis? Kau bilang bisnis? Kafe kecil begitu aja kau bangga. Harusnya kau bangga ketika mendapat pencapaian sepertiku, seorang direktur perusahaan terkenal.” Adiknya menyombongkan diri.
Maira terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. Dengan semua yang dimiliki Kanz, ternyata adiknya masih menganggap rendah kakaknya.
Maira menatap ke arah Kanz yang berdiri di sampingnya.
Adiknya pergi meninggalkan kami dengan lagaknya. Kanz merasa malu pada Maira karena sikap anak itu.
“Maafkan Adikku, dia hanya sedikit kekanak-kanakkan,” jelas Kanz.
“Mmh, tidak apa-apa, Mas.” Maira tersenyum.
“Ayo, kita temui Mama dan Papaku di belakang.” Kanz mengajak Maira ke halaman belakang.
Aku berjalan di belakangnya.
Kenapa Kanz tidak pulang-pulang ya? tanya Maira dalam hati. Apa hubungannya dan mereka tidak baik? sambung Maira.
Rasa penasarannya terhenti saat melihat ada dua orang tua yang hampir lanjut usia duduk di kursi menghadap ke meja berbentuk persegi.
“Bersikaplah biasa,” bisik Kanz.
“Iya, Mas.”
Mereka berdiri, menyambut kedatangan Kanz dan Maira.
“Kanz, akhirnya kau kembali juga. Papa sangat senang.” Papanya memeluk putranya dengan erat, menepuk punggungnya dengan telapak tangan tiga kali.
Kanz tersenyum. “Papa sehat?” tanya Kanz.
“Iya, sehat.” Pria itu lalu berpaling melihat ke arah Maira, menyipit sedikit.
Kanz melanjutkan langkah ke arah mamanya. Ia menyalam tangan mamanya kemudian memeluknya.
“Siapa ini, Kanz?” tanya papanya.
Maira tersenyum manis dengan wajah tulus.
“Dia kekasihku, Pa,” jawab Kanz.
Maira mendekat dan hendak menyalam tangan papanya. Pria itu menyambut tangannya. Maira mengesun punggung tangannya yang mulai sedikit keriput.
“Siapa namamu, Nak?” tanya papanya.
“Maira Shanum, Pak.”
“Bagus, nama yang bagus.”
Kanz merasa lega ia bersikap baik pada papanya. Kini saatnya menghadapi monster yang super cerewet melebihi adiknya tadi.
Maira mendekati Kanz yang merangkul mamanya. Ia tersenyum dan ingin menyalaminya, tapi wanita itu menarik tangan kanannya dan berpura-pura melihat kukunya yang baru saja di kikir.
“Duduklah,” katanya ketus.
Kanz memejamkan mata, Maira tidak berhasil melalui tahapan perkenalan menurutnya.
Kanz menarik kursi untuk Maira lalu duduk di sampingnya.
Pelayan berdatangan membawa makanan dan minuman. Papanya terus tersenyum melihat ke arah Kanz dan Maira, mamanya malah melengos. Bibirnya terus miring dan tertawa marah.
“Jadi, Maira Shanum, kau sudah berapa lama berpacaran dengan Kanz?” tanyanya.
Sontak Maira menarik posisinya, sedikit kaku. Mati aku, tidak sempat tanya masalah ini tadi, gerutu Maira.
Tenanglah, Maira. Kau jawab saja, Kanz pasti tidak marah. Di sini kau kan hadir untuk menolongnya, gumam Maira menenangkan diri sendiri.
“Saya dan Mas Kanz sudah sekitar satu tahun bersama, Pak.”
“Oh, jadi kau sudah bersama dengannya ketika Kanz masih berada di Australia begitu?”
Hah? Mati aku. Mana aku tau di mana si Kanz setahun lalu. Aku kan masih baru bekerja di kafenya.
Kanz memejamkan mata, kesalahan pertama sudah memasukkannya ke dalam jurang sendiri.
“Iya, Papa,” sahut Kanz menyelamatkan perannya.
Maira terbatuk. “Uhuk. uhuk.” Maira ingin mengalihkan perhatian dengan pertanyaan itu, tapi malah jadi batuk beneran terkena terpaan angin yang kencang mendesak masuk ke alveolusnya.
Kanz mengambilkannya minum.
“Minumlah, Sayang,” katanya.
“Eh?” sahut Maira kaget. Gadis itu sedikit kaku dan mengambil gelas lalu meneguk isinya sedikit.
Syifa terus memperhatikan kecanggungan yang mulai terendusnya. Kanz menyadari mamanya mengawasi. Ia pun berpura-pura lagi.
“Sayang, tidak apa-apa kan? Apa perlu aku ambilkan minyak angin atau obat batuk?” tanya Kanz.
“Enggak, Mas. Aku tidak sakit, hanya tersedak aja.”
“Syukurlah.” Kanz menepuk punggung Maira lembut, mengelusnya untuk meyakinkan bahwa Maira adalah kekasih aslinya.
Mamanya sedikit terkelabui, tapi tetap tidak percaya.
Memalukan! sungguh memalukanku. Kenapa mulut ini ringan banget bilang setahun menjalani hubungan dengan si bos pemarah ini? gerutunya masih menunduk dan berusaha menata diri.
Makan siang itu berlalu, kini mereka beranjak dari meja makan ke arah lapangan golf.
Kanz memakai topi dan jaket kain yang diambilnya dari kamar.
“Tadi papa ingin bermain golf, tapi hati papa merasa kau akan pulang, hingga aku menundanya. Ternyata benar kan? Kau pulang. Hahaha.” Papanya sangat senang dengan kedatangan Kanz yang hanya diketahui oleh mamanya saja sesuai janjinya ketika berkunjung ke kafe.
“Maaf, Pa. Aku terlalu sibuk mengurus kafe.”
“Haha, kau ini benar-benar pekerja keras.” Abdillah memuji Kanz di depan Maira.
Maira tersenyum ramah, tidak mengerti apa pun tentang Kanz.
“Maira, Kau pandai bermain golf?” tanya papanya.
Maira menggelengkan kepala. “Ti-Tidak, Pak.”
“Haha, kalau begitu Kanz harus mengajarimu supaya bisa tanding melawan mamanya.”
Kanz mendelik dan merasakan bahwa itu ide yang buruk. Mamanya akan menertawakan Maira.
“Pa, jangan paksakan. Maira tidak ingin bermain,” ujar Kanz menolak tawaran papanya.
“Lho, kenapa?” tanya Abdilah.
Maira menatap Kanz. “Iya, Mas, kenapa?” tanyanya polos.
Duh, anak ini-sangat tidak mengerti dia sedang berada di mana. Kanz menggerutu dalam hati.
“Nah, Maira aja ingin diajari. Ya kan, Mai?” tanya pria itu.
Maira menganggukkan kepala. Pikirnya ini salah satu cara supaya dia bisa masuk ke dalam perannya sebagai kekasih Kanz walau bohongan.
Syifa terus memperhatikan tingkah mereka. Kanz terpaksa bersikap hangat lagi pada Maira.
“Jadi kau mau belajar?” tanya Kanz.
“Iya, Mas. Boleh?” tanya Maira balik.
Kanz tersenyum dengan gigi merapat. “Boleh.”
Papanya bahagia melihat anaknya sudah bisa melupakan mantan-nya yang telah lama pergi.
Mereka sudah lama tidak melihat Kanz bersikap manis ke wanita. Kedatangan Maira juga membuat Kanz bertingkah akrab dan tidak dingin pada mama dan papanya.
Abdilah tertawa ringan, matanya mengikuti langkah mereka ke tengah lapangan. Kanz akan mengajarinya bermain golf.“Jadi kau ingin belajar main golf? Atau kau mau ambil kesempatan dalam situasi ini?” tanya Kanz saat memberikan pemukul untuk Maira.
“Hah?” Maira melirik ke arah Kanz. “Aku hanya berusaha jadi pacarmu,” lanjutnya.
“Haha, kau bahkan lupa kalau kau cuman bayaran,” erangnya pelan ke telinga Maira agar orangtua Kanz tidak mendengarnya dari jarak lima meter.
“Ck.” Maira berdecak kesal pada Kanz.
Kanz membuka jaket dan topinya. Ia mengikat jaket itu ke pinggang Maira dari belakang.
“Eh?” Maira terkejut. “Kenapa-“ ucapannya terhenti karena Kanz memakaikan topi itu padanya lagi.
“Tidak ada orang main golf dengan pakaian ketat. Matahari juga sedang terik, aku tidak mau kau pingsan. Makin nambah kerjaan,” ucapnya pelan.
Maira berkedip beberapa kali dan mengucapkan terima kasih pada Kanz yang mengabaikan ucapannya.
“Hadap ke sana,” pinta Kanz mengikuti arahan.
Kanz memegang tangan Maira dari belakang. Gadis itu terkejut untuk kesekian kalinya. Sontak mereka saling bertatapan.
Kanz menurunkan ujung topinya dan tersenyum manis. Melumerkan kecanggungan Maira yang tidak bisa dipungkiri, kalau dia memang sangat tampan.
Syifa terus memperhatikan kelakuan mereka sejak tadi. Kanz langsung mendekatkan kepalanya ke pipi Maira. Gadis itu menjauh sedikit.
“Kau tau belajar golf itu awalnya harus aku ajari dengan memegangmu, kenapa kau ingin lari? Kita bisa ketahuan.”
“Maaf, Pak. Aku tidak terbiasa berdekatan dengan pria,” jawab Maira.
Kanz mengerutkan dahinya. “Jangan bilang kau belum pernah pacaran,” sahutnya.
“Lho, kan kemarin sudah saya bilang kalau saya belum pernah pacaran. Bapak lupa?”
Kanz tidak mengingatnya dan sedikit terkejut mendengar pernyataannya barusan.
“Sudahlah, ikuti saja aku. Aku tidak akan menyakitimu atau mengambil kesempatan seperti yang ada di dalam pikiranmu.”
Maira mengangguk. Perlahan Kanz berdiri di belakang Maira, merapatkan tubuh lalu menyentuh kedua tangannya dengan lembut.
Saat tangan Kanz memegang kedua tangan Maira yang sedang menggenggam pemukul bola, Maira merasa sangat bertolak belakang dengan caranya memperlakukan karyawan di kafe.
Jika mengingat amarahnya kemarin hingga membuat hidung Maira berdarah, sungguh mengerikan.