Jalanan sudah gelap namun masih tetap ramai. Beda hal nya dengan orang-orang di luaran sana yang menikmati malam Minggu, ada seorang gadis di ruangan dalam butik masih mengerjakan desain pesanan pelanggan untuk acara bulan besok, masih lama tapi pemikiran dirinya kalo malam Minggu gue harus sibuk, pesanan desain banyak cuma kebanyakan waktu masih lama, daripada ngga ngapa ngapain katanya.
kringgg...
kringgg...
Bunyi telepon butik mengacau kegiatan Aluna, ya gadis yang mendesain pesanan pelanggan tadi adalah Aluna. Gadis itu berjalan ke meja pojok tempat telepon sambil menghela nafas kasar.
"hallo, selamat malam dengan Aluna's butik, ada yang bisa saya bantu?"
"Nyenyenye, ini mama Alunaaa!"
Awalnya Aluna kaget, ternyata mamanya.
Menghela nafas kasar Aluna menjawab. "Mah, Astaghfirullah sopan kah begitu"
Hitungan detik, suara di sebrang telfon bertambah oktaf dan kecepatan suara melebihi rap Suga Daechwita.
"Luna! Pulangkerumajangannginepbutik, mamaadabicarasesuatubesok, mamatunggudirumah."
"Tap-"
Telfon mati.
"Anj."
Melihat jam, ternyata sudah pukul 22.00, tumbenan mamanya belum tidur jam segini.
Keinget pesan mama, akhirnya dengan terpaksa dirinya harus pulang kerumah setelah dua Minggu menginap di butik.
Iya bener, butik ini udah kaya rumah. Ada kasur, sofa, TV, kamar mandi, sayangnya dapur ngga ada jadi selama dua Minggu ini Aluna makan diluar terus, boros memang tapi emang Aluna ngga betah dirumah karena dirinya yang sudah menginjak umur matang, umur 27 tahun tapi masih sendiri, you know lah korban teror question.
Beres-beres singkat, Aluna dengan tergesa memasukkan beberapa barang yang perlu dibawa pulang mengingat sekarang sudah larut malam. Menyambar kunci mobil di meja Aluna berlari kecil menuju parkiran, sesampainya di parkiran memang seperti dugaan sepi karena sisa dirinya sendiri, karyawan sudah pada pulang tadi sekitar pukul 20.00.
Memasuki mobil Aluna langsung menyalakan mesin dan melajukan mobil menuju rumah yang kebetulan jaraknya lumayan jauh dari butik.
Aluna pikir melewati jalan pintas bakalan menjadikannya cepat sampai rumah, tapi sekarang dia menyesal. Padahal dirinya sudah sering melawati jalan ini siang hari, ngga pernah kepikiran kalau malam bakal se sepi ini.
Tapi apa daya nasi sudah jadi bubur.
Hal lain terjadi. Dirinya kini harus berhenti di tengah jalan sendiri dengan adanya seorang pria mencegat mobilnya di depan sana.
"Sial sial sial! kena begal kan gue." Ucap Aluna.
Aluna menatap ke depan, memang sih cuma satu orang tapi tetep aja sekarang tengah malam dan dirinya cuma sendiri, mana yang mencegat keliatannya laki lagi.
Tanpa di sangka pria yang mencegat mobil Aluna berjalan maju mendekati mobilnya, Aluna pikir dirinya akan tetap di dalam mobil saja biar aman. Tapi-
Dok dok dok...
Pria tersebut malah menggedor kaca pintu mobilnya sedikit keras hingga Aluna berjingkrak terkejut, Aluna yang awalnya tengah menutup muka karena takut terpaksa harus melirik ke kaca pintu mobil dengan gemetar, niat hati mau diam saja tapi jiwa jiwa kepo nya tidak bisa diajak kerjasama. Alhasil, melirik sedikit. Dengan reflek mata Aluna membelalak.
Disana, di samping pintu kaca mobilnya. Bukan seorang pria dekil ber tatto, berotot dan membawa celurit. Tapi pria tampan berkulit putih, wajah mulus tanpa kumis dan jenggot, cuma ada wajah baby face, bibir merah alami, bulu mata lentik dan sipit.
Rasanya mau oleng saja, mana tipe Aluna banget.
Berbinar kagum, Aluna membuka pintu dengan gerakan cepat. Kini Aluna bisa leluasa memandang ciptaan Tuhan yang sempurna ini tanpa halangan kaca lagi.
Dengan reflek Aluna scan pria di depannya ini dari atas sampai bawah. Mulai dari rambut nya yang hitam legam, potongannya juga sesuai tipe Aluna banget, tengah lebat pinggiran tipis. Walau rambutnya agak berantakan tapi bukannya mengurangi malah menambah tingkat kegantengannya. Kesan bad boy fix sudah melekat, turun kebawah lagi ada alis tebal menukik dengan sepasang mata tajam, hidung mancung, bibir merah berisi dan jakun yang errr.
Belum selesai sampai kebawah tiba tiba suara deheman membuyarkan lamunan kotornya.
"Ehem." Dehem pria tersebut, dengan raut muka seperti tidak suka dilihat dengan pandangan menilai dari Aluna.
Aluna yang sudah sadar akan perlakuannya yang tidak sopan langsung saja berkata. "Ah.. Um-m anu sorry anu."
Pria di depannya mengangkat sebelah alis sebagai tanda bertanya.
Aluna tidak pernah se gugup ini berhadapan dengan pria manapun, tapi kali ini dia kalah. Aluna gugup setengah mati sampai dirinya terbata bata.
Menggigit bibir bawahnya, Aluna mendongkak.
"Sorry, gue ngga bermaksud." ucap Aluna setelah mengumpulkan keberanian yang tersisa.
Pria di depannya mengangguk pelan, sambil berkata "Oke lupakan, saya kesini mau meminta tolong, bisa telfonkan bengkel untuk kesini? hp saya mati dan mobil saya mogok."
Aluna mengangguk paham, mengambil ponsel dari tas selempang nya, Aluna mencari kontak bengkel terdekat, tapi sebelum itu ada tangan lain yang merampas ponselnya kasar sampai Aluna memekik.
Tbc