Pagi ini terasa sedikit berbeda. Biasanya aku terbangun dengan perasaan hampa, hanya menjalani rutinitas yang sama tanpa tujuan. Namun, hari ini ada sedikit perasaan baru dalam diriku—sesuatu yang hampir seperti harapan.
Mungkin itu karena percakapanku dengan Bayu beberapa hari yang lalu. Atau mungkin karena kunjunganku ke galeri seni yang entah bagaimana berhasil membangkitkan sesuatu dalam diriku. Aku tidak tahu pasti. Yang aku tahu, aku tidak ingin terus terjebak dalam kehampaan ini.
Aku berjalan ke dapur dan membuat kopi. Aroma pahitnya memenuhi ruangan, mengingatkanku pada pagi-pagi saat aku dan Anya masih bersama. Dulu, dia yang selalu membuat kopi untuk kami berdua. Tapi sekarang, hanya ada aku.
Aku menghela napas dan duduk di meja makan. Aku menatap layar ponselku, membuka