Aluna merasa kepalanya berdenyut nyeri, tubuhnya lelah dan hangat dari sisa-sisa pesta ulang tahun temannya yang berakhir larut malam. Langkahnya terhuyung, tubuhnya terasa lengket karena keringat dan bau parfum murahan yang mencemari kulitnya. Semua yang ada di sekitarnya terasa kabur, seperti dunia yang bergerak sangat cepat namun begitu hampa. Pusing, sepertinya ia terlalu lelah.
Hanya beberapa langkah dari pintu kamar, Aluna sudah hampir jatuh ke tempat tidurnya untuk melepas lelah. Namun, sebelum sempat menutup pintu kamar, suara langkah berat terdengar mendekat. Setiap langkah terasa sangat cepat menghantam lantai dengan irama yang asing.
Aluna menoleh dengan refleks, dan saat itulah ia melihatnya. Ayah tirinya berdiri di ambang pintu, wajahnya menyeringai dengan ekspresi yang sangat familiar seperti kemarin siang, menjijikkan.
“Jangan pura-pura polos, Lun. Ini bukan kali pertama untuk mu” bisiknya pelan, suara yang terasa mengerikan.
Aluna merasa keringat dingin mengalir di sepanjang tengkuknya. Tak ada jalan untuk menghindar. Sebelum sempat berkata apa pun, pria itu sudah mendekat dan dengan cepat menarik paksa lengannya.
Brak!
Aluna mencoba melawan. Tangannya meraih lampu meja dan melemparkan ke arah wajah pria itu. Seiring dengan teriakan kesakitan yang keluar dari mulutnya, ia menendang perut pria itu sekuat tenaga.
Duk!
Namun, pria itu hanya tersenyum lebar, senyum yang sangat menakutkan. Semua tindakannya terasa sangat kasar dan penuh tekanan, seperti pria itu tak memiliki rasa takut atau rasa malu sama sekali.
Dengan cepat, Aluna berlari keluar kamar, mengikuti lorong sempit menuju tangga agar bisa keluar dari rumah. Hatinya bergemuruh, perasaan takut dan marah bercampur. Tapi yang paling penting ia harus melarikan diri.
Dan saat itulah ia melihat ibunya. Berdiri di ujung tangga, tatapannya tajam, matanya melebar penuh kebingungan. Rambut Aluna kusut, pakaiannya robek, dan luka cakaran terlihat jelas di pipi ayah tirinya.
Namun, tanpa bertanya apapun, Ibunya menarik kesimpulan yang salah. Bukannya berpihak pada Aluna, ia justru menjerit dengan nada penuh benci.
“Dasar anak kurang ajar! Kau menggoda suamiku?!” suara ibunya penuh kemarahan yang tak bisa dibendung. Tangan Ibunya melayang seolah akan memukul Aluna.
Aluna terkejut. Itu tidak bisa dipercaya. Ia ingin berkata, menjelaskan semuanya, tetapi tak diberi kesempatan. Ia reflek mundur, menghindari tangan ibunya.
“Bu, aku nggak…” ucap Aluna dengan nada yang serak, hampir tidak terdengar.
Namun, ibunya tidak mendengarnya. Tangan ibunya terulur, mendorong tubuh Aluna dengan begitu cepat dan kuat. Tanpa bisa menghindar, tubuh Aluna terpeleset, kehilangan keseimbangan.
Dunia di sekitar Aluna tiba-tiba terasa berbalik. Tangannya terulur ke depan, berharap ibunya akan menariknya agar tak terjatuh. Tapi yang terjadi ibunya hanya berdiri terpaku, matanya terbuka lebar, mulut menggantung, menunjukkan ekspresi terkejut tak percaya.
Jatuh.
Kepalanya membentur anak tangga pertama, tubuhnya meluncur ke bawah dengan kecepatan yang mengerikan. Suara tulang retak memenuhi telinganya. Lantai yang dingin dan keras menyambutnya dengan kejam. Tubuhnya tak bisa bergerak, napasnya terhenti.
Gelap.
Dingin.
Diam.
Namun, saat Aluna merasa bahwa ia sudah melayang ke dalam kegelapan, tiba-tiba ia merasakan sentuhan yang berbeda. Udara yang seharusnya berat, terasa lebih ringan. Gerakan tubuhnya terasa lebih ringan, seolah ia bisa bergerak kembali.
Perlahan, matanya terbuka.
Bukan dalam kamar yang biasa ia kenal, atau di rumah yang seharusnya ia tinggali. Bukan pula di dunia yang familiar bagi Aluna Cassandra.
Aluna terbangun di tempat yang asing. Dinding-dinding ruangan yang gelap dan lembab, bercak-bercak karat dan darah memenuhi pandangannya. Udara yang kotor dan bau logam menusuk hidungnya. Tubuhnya terasa lelah, hampir tak bisa digerakkan. Rasanya seperti berada di ruang penjara, sebuah tempat yang begitu terisolasi dan jauh dari segala yang pernah ia kenal.
‘Aku... ada di mana ini?’ pikir Aluna bingung, tubuhnya kaku, dan terasa sakit.
Suara gemerisik terdengar di kejauhan, seolah memanggilnya keluar dari kegelapan yang menyelimutinya. Aluna merasakan kepalanya berdenyut sakit, tapi ia mencoba mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara, yang terasa semakin mendekat. Ada sesuatu yang sangat asing, namun juga familiar dalam suara itu.
“Aluna! Aluna, buka matamu. Ibu disini,” terdengar suara yang begitu dalam, penuh penyesalan. Tetapi, kali ini suara itu terasa berbeda, lebih berat, dan penuh dengan ketegasan yang tak pernah Aluna dengar sebelumnya.
“Aluna… maafkan Ibu, nak,” suara itu memanggil dengan penuh penyesalan, tetapi semakin jauh, seolah menjauhkan dirinya dari Aluna. Suara itu kini terdengar samar, seperti melayang di kejauhan, tidak lagi terasa dekat seperti sebelumnya.
Aluna masih terpekur, bingung, mencoba memahami di mana ia berada. Matanya berusaha menyesuaikan diri dengan kegelapan di sekelilingnya. Saat itu, ia merasakan sesuatu yang sangat aneh. Ini bukan lagi rumahnya yang lama, bukan pula dunia yang ia kenal. Ini adalah tempat yang sama dengan yang ia lihat dalam mimpinya, saat ia tertidur di toilet tamu beberapa waktu lalu.
Kenapa dia ada di sini? Bukankah seharusnya ia sudah mati? Dan kemana suara Ibunya tadi?
Tubuhnya terasa berat, namun ia bisa merasakan udara dingin di sekitarnya. Di sana, di tengah kegelapan yang tak terjamah cahaya, Aluna bisa melihat siluet samar seorang pria. Seorang pria berjubah hitam dengan hiasan emas yang rumit, seakan berasal dari dunia yang sangat berbeda. Jubahnya menggantung dengan elegan, memiliki lapisan berwarna gelap yang tampak berat, serta pelipisan sutra berlapis dengan ornamen-ornamen kerajaan yang menghiasi bagian-bagian tertentu dari pakaiannya. Di pinggangnya tergantung sebuah pedang panjang, dengan sarung yang terbuat dari kulit berukir, seolah mencerminkan status dan keagungan seorang panglima. Sepasang mata yang tajam tampak di balik tudung jubahnya, menatap dengan kesan penuh misteri dan keanggunan.
Di belakangnya, dua penjaga yang mengenakan pelindung tubuh besi hitam dan helm bertudung menjaga dengan ketat. Kedua penjaga ini tampak tidak bergerak, namun setiap gerakan mereka terasa penuh kewaspadaan, siap jika terjadi sesuatu yang tidak terduga. Mereka berdiri dengan sikap tegap, matanya tajam mengawasi Aluna.
Pria itu melangkah maju dengan penuh kehormatan, berhenti beberapa langkah di hadapan Aluna. Ia membungkuk sedikit, memberikan hormat yang begitu dalam, seolah mengakui kedudukan Aluna lebih tinggi.
“Mandat dari Yang Mulia Kaisar Kael,” pria itu berkata dengan suara yang dalam dan tegas, namun penuh penghormatan. “Bahwa yang Mulia Selir Kedua, Aluna Moonstone, ditetapkan tidak bersalah dalam tuduhan meracuni Permaisuri dan diperbolehkan keluar dari penjara bawah tanah.”
Bicara dengan suara yang penuh wibawa, namun tetap lembut, seakan ini adalah sebuah keputusan yang besar bagi kerajaan dan dirinya.
Aluna terpaku, kebingungannya semakin besar. Selir Kedua? Aluna Moonstone? Kaisar Kael? Semua kata itu terasa begitu asing di telinganya.
"Ka... Kaisar? Selir kedua? Aku ada di mana..?" Aluna bertanya, suara terbata-bata, kebingungan yang tak bisa disembunyikan. Tubuhnya masih terbaring lemah, kepalanya pusing mencoba mengerti apa yang terjadi, tapi setiap kata yang baru saja diucapkan pria berjubah itu semakin membuatnya terperangkap dalam sebuah dunia yang sama sekali tak ia kenal.
Masih mencerna apa yang baru saja terjadi, tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara gemericik langkah cepat yang semakin mendekat. Seorang wanita, siluetnya tampak jelas di antara bayang-bayang gelap, berlari mendekat menuju Aluna dengan wajah yang tersenyum meski air mata mengalir di pipinya. Wanita itu mengenakan pakaian putih polos tanpa corak, seperti cahaya yang menyinari kegelapan yang menyelimutinya.
"Ak... akhirnya Yang Mulia bisa bebas," ujar wanita itu dengan suara penuh harapan, senyumannya tetap ada meski air mata itu mengaburkan pandangannya. Aluna hanya bisa memandangnya dengan kebingungan, heran siapa wanita ini, dan apa yang dimaksud dengan ‘bebas’.
Panglima yang tadi membacakan mandat melangkah mendekat, membuka gerbang besi penjara dengan suara gemuruh, seolah menandakan bahwa Aluna benar-benar akan meninggalkan tempat yang dingin dan suram ini. Kedua penjaga yang berada di belakangnya masuk dan segera membuka pasung di kaki dan tangan Aluna, yang tanpa Aluna sadari ia sudah lama di pasung.
Tubuhnya terasa sangat kaku, dan ketika ikatan itu akhirnya dilepaskan, rasa sakit yang ia rasakan semakin terasa intens. Ia baru sadar sepertinya ia telah diperlakukan dengan begitu kejam selama ini.
Tangan dan kakinya yang membiru menambah rasa sakit. Punggungnya pun terasa perih entah karna apa, seolah setiap gerakan hanya menambah luka baru. Langkah demi langkah terasa sangat berat. Dunia seakan berputar, dan setiap gerakan membuat tubuhnya semakin lelah. Ia terjatuh, hampir kehilangan keseimbangan, namun berhasil bertahan untuk beberapa detik lebih lama.
Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Hingga akhirnya, dunia di sekitarnya terasa begitu gelap, dan tubuhnya tidak lagi mampu bertahan. Tanpa sempat merasakan apa-apa lagi, Aluna akhirnya terjatuh ke tanah, tubuhnya tak bergerak lagi, tubuhnya terasa begitu lemah dan kosong.
Gelap. Semua menjadi gelap. Ia tidak bisa lagi merasakan apa-apa.
* * *
Aluna membuka matanya perlahan, dan kebingungannya semakin dalam ketika ia melihat sekelilingnya. Ini bukan kamar yang ia kenal. Bukan rumahnya, dan pasti bukan tempat seharusnya Aluna bangun setelah terjatuh dari tangga malam itu.
Ia terdiam, matanya menelusuri setiap sudut ruangan yang tampak begitu asing namun mewah dan megah. Dinding-dinding berlapis kain merah marun, dihiasi ornamen-ornamen emas yang memancarkan kilau. Langit-langit tinggi dengan lukisan indah, dan lampu-lampu gantung besar yang menyinari ruangan dengan cahaya lembut namun kuat.
“Sebenarnya Aku ada dimana?” tanyanya hampir seperti bisikan yang hanya dia yang bisa mendengar, merasa seperti berada di dunia yang sama sekali berbeda.
Ruangan itu terasa seperti sebuah istana, tetapi ini bukan istana yang pernah ia bayangkan atau kenal. Aluna mencoba duduk, dan rasa sakit menyelimuti tubuhnya begitu ia bergerak. Punggungnya terasa perih, dan kepalanya berdenyut kencang, seolah otaknya terpecah oleh rasa sakit yang tak bisa ia pahami. Ia terdiam sejenak, berusaha untuk menenangkan tubuhnya, yang masih lemah dan terasa perih.
Namun, saat ia mulai mencoba menenangkan dirinya terlebih kepalanya yang masih terasa nyeri, tiba-tiba sebuah bayangan masuk begitu saja ke dalam pikirannya, membanjiri ruang pikirannya yang masih kacau. Bayangan itu terasa begitu nyata, seperti potongan-potongan ingatan yang bukan miliknya. Gambaran-gambaran kehidupan seorang wanita yang tampaknya sangat mirip dengannya. Seorang wanita yang wajah dan tubuhnya tampak sama dengan miliknya, namun dengan kehidupan dan nama yang berbeda.
Bukan lagi Aluna Cassandra tapi Aluna Moonstone.
Nama itu tiba-tiba muncul begitu saja di dalam benaknya, dan ia merasakan seolah sebuah kehidupan yang asing mengalir masuk ke dalam tubuhnya. Semua potongan-potongan kenangan dan ingatan yang datang begitu cepat, namun jelas. Di antara bayangan-bayangan itu, ia bisa merasakan hidup seorang putri yang bernama Aluna Moonstone, wanita yang ia pikir hanya ada di dalam mimpinya.
Aluna Moonstone adalah istri ketiga dari Kaisar Kael, seorang selir yang sudah 7 tahun lamanya tinggal di istana ini. Ia melihat gambar kehidupan seorang wanita yang terhormat, cerdas dan ambisius namun penuh dengan penderitaan dan perjuangan. Bayangan itu menunjukkan bagaimana Aluna Moonstone diperlakukan dengan tak adil, salah satunya dipenjarakan dalam ruangan tanpa bukti yang jelas.
Aluna tersentak. Memori itu berhasil menyadarkan Aluna, Ia bukan lagi Aluna Cassandra, gadis yang terperangkap dalam kehidupan yang penuh kekacauan dan rasa sakit. Ia bukan lagi wanita muda yang berjuang dengan masalah keluarga, pergaulan bebas, dan luka-luka batin. Ia adalah Aluna Moonstone, selir dari Kaisar Kael, wanita yang telah mati dalam kehidupannya yang lalu.
Airmata mengalir tanpa bisa ia tahan. Hatinya penuh kebingungan dan ketakutan. Bagaimana bisa ia terbangun di tubuh orang lain? Mengapa tubuh yang asing ini terasa begitu nyata, seolah ia memang telah hidup di dalamnya? Ia menggigit bibir bawahnya, merasakan kegelisahan yang meluap dalam dirinya. Apa yang terjadi pada dirinya? Apakah ia benar-benar telah mati, dan kini terbangun dalam dunia yang tidak pernah ia kenal sebelumnya?
Semua itu terasa begitu nyata, dan perasaan kehilangan yang mendalam menguasai hatinya. Ia merasa seperti berada di tengah dunia yang penuh dengan kesulitan, namun di saat yang sama, ia juga merasa terperangkap dalam tubuh yang asing ini.
“Apakah ini takdir?” bisiknya pelan, matanya menatap kosong ke depan. Dunia yang baru ini terlalu asing baginya, dan ia belum tahu harus bagaimana.