“Enggak. Aku kan bukan dari keluarga berada, penampilan juga biasa aja.”
“Kenapa ngomong gitu kamu kan adeknya Haradisa harusnya terkenal juga, aku waktu di sana juga terkenal kok.”
Itu karena Kak Haradisa cantik. Ingin Sadina bilang langsung bergitu, tetapi ia selalu susah mengeluarkan isi pemikiran sendiri.
“Kamu cantik, pinter, pacarnya Sajaka juga kan, harusny sih gabung di sana.”
“Aku bukan pacarnya Sajaka, Kak.”
“Ha?” Bersamaan dengan itu Haradisa menginjak rem secara mendadak, memebuat mereka terdorong ke depan. “Sori, sori, sori nggak sengaja. Kamu nggak apa-apa, kan?”
“Nggak apa-apa, Kak. Cuma kaget aja.”
“Apa tadi kamu bilang, bukan pacarnya Sajaka gimana?”
“Iya memang bukan, kamu hanya berteman dekat.”
Haradisa tidak percaya waktu Sad