Makan malam berjalan dengan sangat tidak nyaman, , wajah itu wajah tuan mudanya tidak ada sedikit pun tersembunyi guratan senyum.
Ada apa dengan nya, apakah makanannya tidak enak Kasih terus saja terusik dengan raut muka tuan mudanya yang sama sekali tidak ada niatan untuk memulai obrolan, padahal meja ini sudah riuh oleh gelak tawa teman temannya.
Sepertinya itu tingkah yang biasa bagi temannya, teman macam apa itu Kasih mengendikkan bahunya tak percaya.
Bu Sri datang dengan tergesa-gesa ke dapur dan membisikkan sesuatu ke Kasih yang langsung dibalas anggukan dan seketika Kasih berlari menjauh dari dapur.
Kasih yang menghilang dari dapur dan area meja makan terbaca oleh Malik.
"Kemana Kasih bi" tanyanya mengagetkan bu Sri yang sedang sibuk merapikan meja makan. Bu Sri memegang dadanya menatap kaget teman tuan mudanya.
"Adiknya lagi nangis tuan, ehm tapi jangan bilang tuan muda ya tuan kasihan Kasih" jelas bu Sri menatap Malik dengan tatapan memohon yang kentara sekali. Yang ditatap malah mencelos dan berlalu pergi
"Kasih tinggal di paviliun kan" tegas Malik memastikan.
"Tuan Malik kenapa di sini " tanya Kasih yang bingung dengan kehadiran teman tuan muda nya itu tiba-tiba dan langsung membuka pintu kamarnya lebar-lebar untuk memulus prasangka.
"Hai jagoan, kamu di erem kayak telor ya di kamar", Raka yang jarang berinteraksi dengan orang selain Kasih hanya bisa menatap polos.
" Maaf tuan, adik saya punya masalah dengan rungunya " Kasih menjelaskan sembari merapikan Raka.
"Sudah berobat" tanya Malik penuh ingin tahu, yang disambut gelengan oleh Kasih.
Malik mendengarkan dengan seksama penjelasan Kasih mengenai adiknya, selama ini Kasih tidak tau apa penyakit yang di idap oleh adiknya itu yang dia tau Raka tidak pernah membalas ucapannya dan seperti sibuk sendiri dengan dunianya.
"Besok saya jemput Kamu jam 8 kita bawa dia ke rumah sakit, soal izin sama arkana nanti saya yang urus" ucap Malik mengelus bahu Kasih yang terperanjat seketika dengan sikap dan ucapan Malik.
"Tidak perlu tuan saya sedang dalam proses menabung, dalam waktu dekat ini saya bisa membawanya ke rumah sakit" elak Kasih dengan mencoba mengambil jarak dari Malik.
"Ok, kalau butuh apa apa jangan segan hubungi nomor di kartu ini" ucap Malik yang sadar bahwa ia diusir secara hormat oleh Kasih.
"Terimakasih tuan" jawab Kasih yang memandang kepergian Malik yang memang sangat ia butuhkan. Kasih butuh untuk berdua bersama Raka, jika adiknya itu dalam keadaan seperti ini karena sejatinya hanya mereka berdua, hidup Kasih harus terus berjalan demi adiknya, Raka.