Seorang perempuan tengah mengembangkan senyumnya begitu lebar, matanya asik menatap senja yang perlahan tenggelam sembari menunggu momentum dimana lampu-lampu Eiffel menyala. Eiffel adalah salah satu saksi kebahagian yang baru saja Ia dapat. Berulang kali Ia mencoba meyakinkan diri atas apa yang baru saja Ia dapatkan.
"Are you happy Vania?." Perempuan Itu menoleh pada sahabat yang merangkap sebagai rekan kerjanya. Vania mengangguk. Kebahagiaan kali ini benar-benar luar biasa, bagaimana tidak. Keinginannya untuk menjadi bintang tamu dalam acara fashion ternama akan terwujud beberapa hari lagi. Ia baru saja mendapat tawaran berharga itu.
Seperti de javu, sebelumnya Vania hanya bisa bermimpi dan bermimpi. Tapi kini mimpi itu akan segera menjadi nyata. Vania tersenyum, tidak henti-hentinya Ia mengucapkan syukur kepada Allah yang telah mengabulkan mimpinya.
Lalu sesaat kemudian perempuan itu terdiam tatkala bayangan seorang pria yang amat Ia rindukan melintas di kepalanya. Selalu saja begitu, setiap kali Vania mendapat kebahagiaan yang besar atau berada pada posisi terendah. Pria itu selalu datang di kepalanya, seolah memberi selamat atau sekedar mengucapkan semangat.
Vania masih ingat jelas raut wajah pria itu. Pria yang telah sekian tahun tidak lagi Vania temui atau sekedar di ketahui kabarnya. Terlalu sering hati Vania bertanya tentang kabar pria itu. Terlalu sering Vania rindu ingin melihat wajah pria itu. Namun selalu saja, Vania tidak akan pernah sanggup mencari sesuatu yang berkaitan dengan pria itu. Vania terlalu takut, Ia takut bahwa jika kenyataan yang nantinya Ia peroleh tidak sesuai dengan harapannya. Vania takut jika kenyataannya hanya dirinya yang masih terjebak dalam rasa yang sama seperti saat terakhir mereka bertemu.
Bagi Vania, pria itu terlalu kuat. Terlalu kuat bertahan di hatinya, hingga Vania sulit melupakannya begitu saja. Atau mungkin Vania lah yang enggan melepaskan? Vania tidak tahu, pikirannya selalu kacau jika menyangkut pria itu. Pria yang telah menyembuhkannya dari luka dan juga pria yang telah memporak-porandakan hatinya.
Vania menghela nafas. Selalu saja ketika Vania mengingat kembali pria itu, rasa sesal selalu memenuhi hatinya. Menyesal ketika Ia mengingat bahwa yang meninggalkan disini adalah dirinya. Vania terlalu jahat karena pergi tanpa permisi dan langsung menghilang. Namun, saat itu yang Vania lakukan adalah untuk menyelamatkan dirinya agar dirinya tidak lagi terluka ketika melihat sosok perempuan lain mendampingi pria itu.
"Are you okay Vania? Aku lihat kamu sedang banyak pikiran." Suara sahabatnya memecah lamunan Vania. Membuat perempuan itu menoleh lalu menampilkan senyumannya.
"I'm okay Jane, aku hanya merasa terlalu bahagia sampai-sampai aku merasa takut."
"Kamu hanya perlu menikmatinya, jangan takut untuk merasa bahagia. Bahagia dan sedih memang selalu berdampingan. Tapi saat bahagia itu datang, aku harap kamu bisa menikmatinya."
"Thanks Jane."
"Anytime. Oh iya, bagaimana dengan dia? Apakah kamu memikirkannya lagi?."
"Siapa?"
"Orang yang selalu kamu rindukan. Kamu sudah menemukannya?"
Vania tersenyum, lalu menggelengkan kepala. "Sepertinya aku tidak akan pernah sanggup mencarinya, biarlah. Aku hanya berharap dia bahagia, baik dengan dirinya sendiri atau dengan orang disekitarnya."
"Termasuk jika dia sudah menemukan cintanya?"
Vania tersenyum pahit saat mendengar pertanyaan Jane, pertanyaan itu benar-benar menusuk hatinya. Jujur saja, jika boleh egois, Vania ingin pria itu masih sendiri, Vania ingin pria itu masih memiliki rasa yang sama kepada dirinya seperti bertahu-tahun lalu. Tapi, bolehkah cinta seegois itu?.
"Come on, you deserve to be happy, with him or not."
"Yeah, but..."
"I know, it's hard. But your happiness is the most important. Saat ini kamu hanya perlu bahagia, perihal dia, biarkan semesta yang mengatur. Percayalah bahwa takdir tidak akan tertukar. Jika Tuhan mentakdirkan kalian bersama, pasti kalian akan bersama."
Vania hanya tersenyum, apa yang dikatakan Jane sepenuhnya benar. Namun jika membicarakan perasaan, tidak akan pernah semudah itu, hati dan mulut sangatlah berbeda, mungkin saja mulut akan dengan mudah mengatakan 'aku baik-baik saja, aku akan bahagia, aku akan melupakannya.' tapi hati? Apakah bisa semudah itu?.
Saat ini yang Vania harapkan hanya satu, semoga secepatnya Vania bisa melupakan perasaannya, melupakan segala hal tentang pria itu dan memulai lembar baru untuk kebahagiaannya.
"Semoga kamu juga bahagia."
-Vania Dewi-