Sepanjang hari Yuta dibiarkan sendirian di kamar dan diperlakukan bak seorang putri, semua serba dilayani. Berbagai makanan mewah yang tidak pernah Yuta cicip sebelumnya pun dihidangkan. Namun, kenyataan itu tidak lantas membuatnya merasa nyaman, malah asing.
Menjelang waktu tidur, seorang pelayan datang ke kamar yang Yuta tempati dengan membawa sebuah pesan. “Mbak Yuta, dipanggil sama Mas Lauritz ke kamarnya.”
Perasaan Yuta langsung tidak karuan. “Mau apa?”
“Kurang tahu, Mbak," jawab pelayan itu sopan. "Mari saya antar.”
Meski enggan, Yuta tahu menolak pun percuma. Dia bisa saja diseret paksa. Dalam perjalanan menuju kamar Lauritz, benak Yuta dipenuhi tanya. Untuk apa dia dipanggil ke kamar pemuda itu selarut ini?
Begitu masuk ke kamar Lauritz, Yuta melihat pemuda itu tengah berbaring di sofa panjang dekat jendela, masih berpakaian lengkap, dengan lengan menutupi matanya.
“Kamu manggil aku?”
Lauritz tidak bergerak.
“Kalau kamu nggak jawab, aku balik.”
“Duduk.”
“Aku berdiri aja.”
“Terserah.”
Yuta menyilangkan tangan di depan dada dan tetap berdiri di dekat pintu yang sengaja ia biarkan terbuka lebar.
“Kamu mau apa?”
Lauritz menurunkan lengannya dan duduk.
Dan Yuta langsung melihat bahwa ada yang tidak beres.
Wajah pemuda itu pucat. Ada keringat tipis di pelipisnya meskipun ruangan itu dingin. Dan tangannya—tangan yang sepanjang dua hari terakhir selalu bergerak tenang—sekarang mencengkeram tepi sofa terlalu erat.
“Kamu sakit?”
“Tidak.”
“Kamu keliatan mau pingsan.”
“Aku tidak sakit, Yuta.”
“Terus kenapa—”
“Berhenti di situ.”
Yuta berhenti melangkah.
Ia bahkan tidak sadar bahwa ia sudah melangkah maju.
“Kenapa?” tanyanya.
Lauritz menutup matanya.
“Karena setiap kali kamu mendekat, aku jadi lebih sulit berpikir,” ucapnya. “Dan aku ingin bisa berpikir malam ini.”
***
Yuta berdiri di tempatnya, benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
“Kamu... “ Ia menelan ludah. “Kamu bilang tadi soal aroma.”
“Ya.”
“Aroma apa?”
“Aku tidak tahu.”
“Kamu selalu bilang begitu.”
“Karena itu memang jawabannya.” Lauritz menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. “Aku tidak pernah mencium apa pun, Yuta. Seumur hidupku.”
Yuta mengerjap. “Maksudmu?”
“Anosmia. Aku tidak bisa mencium bau sejak lahir.”
Ruangan itu sunyi.
“Aku tidak tahu bagaimana rasanya bau hujan. Aku tidak tahu bagaimana rasanya bau kopi.” Ia mengangkat bahu. “Aku tahu teorinya. Aku sudah membaca ratusan halaman tentangnya. Tapi aku tidak pernah tahu rasanya.”
“Terus... “
“Terus dua malam lalu, di ballroom itu, aku mencium sesuatu.”
Yuta merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Sekali,” lanjut Lauritz. “Selama mungkin tiga detik. Lalu hilang lagi.”
“Dan itu... aku?”
“Aku tidak tahu.”
“Lauritz.”
“Aku serius tidak tahu, Yuta!” Untuk pertama kalinya, suara pemuda itu naik. “Aku sudah memeriksa semuanya. Parfum yang dipakai orang-orang di ruangan itu. Bunga di meja. Makanan yang dihidangkan. Aku minta daftar lengkapnya dari manajemen hotel dan aku periksa satu per satu selama dua hari.”
Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
“Dan satu-satunya variabel yang cocok dengan tiga detik itu,” ucapnya, “adalah posisi kamu di ruangan.”
Yuta tidak sanggup berkata apa-apa.
“Jadi ya,” lanjut Lauritz lelah. “Aku menyeret orang ke dalam hidupku, membuat sepupuku sendiri meninggalkan pacarnya di koridor, dan sekarang berdiri di sini seperti orang gila — semuanya berdasarkan tiga detik.”
***
Yuta duduk di kursi paling jauh dari sofa itu.
Bukan karena kasihan. Ia masih marah. Ia bahkan berencana untuk tetap marah setidaknya sampai minggu depan.
Tapi ada sesuatu tentang melihat orang yang selalu terlihat mengendalikan segalanya mendadak terlihat seperti orang yang tidak mengendalikan apa pun.
“Kamu udah ke dokter?”
“Sembilan.”
“Sembilan dokter?”
“Sejak umur enam tahun.”
“Terus?”
“Semuanya bilang hal yang sama. Saraf penciumanku tidak berkembang. Tidak ada yang bisa diperbaiki.”
Yuta memandangi lantai.
“Berarti yang kamu cium dua malam lalu itu... “
“Tidak mungkin.”
“Tapi kamu cium.”
“Ya.”
“Berarti mungkin.”
Lauritz menoleh.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, pemuda itu tidak punya jawaban.
***
“Lauritz.”
“Hm.”
“Aku mau pulang.”
Pemuda itu langsung menegakkan punggungnya. “Sekarang?”
“Sekarang.”
“Ini jam dua belas malam.”
“Aku tahu.”
“Kenapa?”
Yuta berdiri dan merapikan kaus kebesaran yang dipinjamkan pelayan kepadanya.
“Karena kamu bilang kamu mencium sesuatu waktu aku di ballroom,” ucapnya. “Dan waktu itu aku baru keluar dari kamar kos aku.”
Lauritz mengerutkan kening.
“Terus?”
“Terus dua hari ini aku mandi pakai sabun rumah kamu, pakai baju rumah kamu, makan makanan rumah kamu.” Yuta mengangkat bahu. “Kalau baunya masih ada di aku sekarang, berarti itu memang aku. Kalau nggak ada — berarti itu sesuatu dari kamar aku.”
Lauritz berdiri terlalu cepat dan langsung berpegangan pada sandaran sofa.
“Kamu... “ Ia menatap Yuta. “Kamu baru saja menyusun eksperimen kontrol.”
“Aku kerja di lab tiga tahun sebelum pindah, Lauritz.”
“Kamu tidak pernah bilang.”
“Kamu juga nggak pernah nanya.”
Pemuda itu memandanginya cukup lama.
Lalu ia meraih jaketnya dari sandaran kursi.
“Ayo.”
“Sekarang?”
“Kamu sendiri yang bilang sekarang.”
“Aku pikir kamu bakal nolak.”
“Yuta,” ucap Lauritz sambil membuka pintu, “aku sudah menunggu dua puluh enam tahun untuk mencium satu hal saja. Menurutmu aku akan menunggu sampai besok pagi?”