"Dev, udah dapet undangan dari Choki?" tanya Steven salah satu teman Devano saat mereka berada di atap dan sedang menghisap rokok.
itu adalah basecamp mereka saat jam pelajaran kosong, atau saat mereka tidak ingin mengikuti pelajaran yang membuat mereka bosan.
"udah.." jawab Devano singkat, mulutnya menghembuskan asap yang baru saja di hisapnya dari batang rokok yang ada di tangannya.
"mau ikut?" Samuel menimpali.
Devano hanya terdiam tanpa menjawab apapun.
"dia tidak akan ikut pertandingan kalau belum bertemu dengan rivalnya itu." sahut Sean dengan sedikit mengejek.
"ah... si pitch black itu?" tanya Steven.
"kenapa kamu menjulukinya pitch black?" Devano merasa heran dengan Steven yang selalu memiliki ide dalam memberi nama pada orang lain.
"karena dia cukup misterius, bahkan datang saat balap setelah menang pergi tanpa menyapa. huh, aku merasa cukup penasaran dengan wajahnya, apakah bisa bersaing dengan wajahmu Devano."
"mungkin saja dia tidak seberuntung itu dalam penampilan makanya tidak mau memperlihatkan wajahnya." ujar Sean.
"badannya cukup ramping untuk ukuran seorang pria, namun aksinya tidak seimbang dengan penampilannya kan?" Samuel menimpali.
"apa kalian sedang memujinya di depanku?" Devano mematikan rokoknya padahal dia baru dua kali menghisapnya.
"hahaha kami hanya berbicara fakta, lagipula kamu hanya kalah sekali Dev. mungkin saja waktu itu tubuhmu memang kurang fit untuk melakukan balap sehingga membuatmu kalah dengannya." Steven mencoba tidak membuat Devano tersulut emosi.
"benar yang dia katakan, lagipula itu hanya satu kali dan terjadi setengah tahun yang lalu. namun kenapa kamu harus repot memikirkannya sampai sekarang? toh sampai detik ini tidak ada yang bisa mengalahkanmu di lintasan walaupun Chiko mengambil orang-orang baik di lingkungan itu."
"namun aku masih ingin balap dengannya lagi dan membuatku mengerti kekalahanku kemarin karena kesalahanku atau karena kemampuanku." Devano meneguk kaleng bir itu dan meremasnya dan melemparnya ke tempat sampah tidak jauh darisana.
"ck! bukankah itu terlalu banyak kamu pikirkan Devano?" Steve menimpali namun di hentikan oleh Sean.
"aku akan menghubungi Chiko agar dia mengundang pria itu untuk datang ke lintasan.
"tidak perlu, aku akan menghubungi Chiko sendiri."
Devano pergi meninggalkan mereka, dan mereka memutuskan untuk tidak menganggu, karena mereka tau Devano adalah tipe orang yang sulit menerima kekalahan. apalagi di arena balap tidak ada satupun pertandingan yang tidak pernah dia menangkan.
Devano mengeluarkan ponsel dan bersiap menelpon seseorang.
bunyi dering kedua terdengar seseorang di seberang menerima panggilan telpon darinya, terdengar suara serak khas bangun tidur darinya.
"halo bro Devano, ada apa kamu menelponku di jam pagi buta seperti ini."
"kamu yang buta sampai tidak bisa melihat jam kalau ini sudah siang Chiko!"
suara tawa terdengar di seberang telepon.
"gordenku ternyata belum terbuka. namun apa yang membuatku menelponku di jam seperti ini? ahh ck! kamu sudah membuka undangan dariku? bagaimana? ada beberapa penantang yang ingin beradu denganmu, kamu bisa memilih mana yang ingin kamu yg terima. dan yaa tentunya dengan budget yang berbeda, hahaha."
"aku tidak mau mereka, aku ingin bertanding dengan pria itu, kamu pasti tau siapa yang aku mau."
"oh s**t! selama 6 bulan dan kamu tidak menyerah juga Devano? ohh ayolah aku sudah mengatakan padamu kalau dia tidak ingin bertanding denganmu dan juga dia tidak pernah datang untuk bertanding lagi setelah denganmu kemarin."
"motor ducati merah milikku, apa kamu sudah tidak menginginkannya?" tanya Devano yang membuat Chiko terdiam.
"hanya buat dia datang dan kembali bertanding denganku. kalau atau menang motor itu akan tetap menjadi milikmu."
"huh! apa kamu sangat terobsesi dengannya? apa kamu menyukainya?"
"bodoh! aku tidak suka kalau aku kalah dengannya begitu saja, aku hanya ingin tau kemampuannya."
Chiko menghela nafasnya panjang.
"aku akan menghubunginya sekali, kalau dia masih tidak mau untuk bertanding denganmu, aku sama sekali tidak bisa memaksanya karena selama ini aku tidak pernah memaksa siapapun untuk bertanding."
"aku mengerti, namun kamu harus bisa membujuknya karena ducati milikku sudah tidak di perjual belikan lagi dan kamu tidak akan bisa memilikinya kecuali aku yang memberikannya padamu."
Chiko berdehem. "iya aku tau..."
"namun Chiko, tidakkah kamu pernah bertemu dengannya?"
"siapa? Gabriel?"
"ohh namanya Gabriel?" Devano tersenyum saat tau nama pria itu selama ini.
"ya, namun juga bisa tidak. itu hanya nama dia saat di balap namun aku tidak tau nama aslinya."
Devano mengangguk.
"baiklah, kalau begitu aku tutup telponnya dan segera beritahu kabar baik tentangnya."
"tentu saja.."
******
"Sel..." teriak seseorang dari belakang Selena.
"ohh hai Renata.." sapanya pada Renata yang berjalan di samping Selena.
"hmmm, ada apa?" tanya Selena padanya.
"kamu darimana sih Do?" Renata memandang Revaldo dengan wajah ingin tau, karena melihat pria itu penuh dengan peluh namun tetap tidak mengurangi ketampanan yang melekat di wajahnya.
"nyari kalian tapi gak ketemu-ketemu, di kantin juga gak ada."
"tuh si Selena gak mau ke kantin, jadinya kita makan di taman samping sekolah deh."
"pantesan gak ketemu."
"Sel, kamu udah dapet undangan kan dari Chiko?"
Selena mengangguk.
"udah, tapi aku gak dateng lagi tahun ini, lagi males."
"dateng yuk Sel, banyak yang nyari kamu disana."
Selena tertawa. " mereka aja gak pernah liat aku gimana mau nyari aku.."
"udah deh jangan meracuni lagi, Selena itu udah fakum yang di dunia seperti itu. lagian gak ada manfaatnya tau main begitu, yang ada ngeri jatuh cidera, aduhh gak bisa ngebayangin gimana tegangnya. udah Selena kamu udah bener kalau gak ikut balap lagi, mending duduk di rumah atau ngafe bareng aku, bisa juga nonton film aja."
"gak main juga gak papa Sel, nonton aku tanding aja deh."
"hey hey. siapa kamu ya meminta Selena nonton, yakan Sel?" Renata memandang Selena.
"aku lagi gak mood buat dateng ke acara itu Do."
drrrtttt drrrtttt
bunyi ponsel Revaldo memecah percakapan mereka, Renata masih membujuk agar Selena tidak ikut Revaldo apapun keadaanya, walaupun hanya menonton namun Renata cukup takut sesuatu terjadi padanya. apalagi saat orangtuanya tau kalau Renata kembali lagi ke tempat itu.
"halo Revaldo, apa kamu bersama dengan Gabriel? dia tidak bisa aku hubungi."
"Gabriel?" Revaldo memandang Selena, dia mengerakan bibirnya tanpa suara mengatakn bahwa Chiko yang menelponnya.
"ya, namun sepertinya dia tidak bisa datang." balasnya, seperti permintaan Selena.
"bisakah kamu memberikan panggilan ini padanya? aku tidak akan memaksa kalau dia tidak mau."
Revaldo menunjuk telepon, mengatakan bahwa Chiko ingin berbicara padanya.
Selena akhirnya mengangguk.
"ya, Chiko?"
"ohh hai Gabriel, sudah lama rasanya aku tidak mendengar suaramu ya." kekeh Chiko di seberang sana.
"ada apa?"
"begini, kamu bisa menolaknya kalau memang tidak mau. kamu juga tau kalau aku tidak suka memaksa kehendak siapapun dan juga aku selalu menjaga privasi teman-temanku."
Selena mendengarkan.
"ekhemm, kamu tau pria yang terakhir bertanding denganmu itu kan? entah kamu ingat atau tidak namun pria itu ingin sekali bertanding lagi denganmu, ya.. dia cukup memaksa dan memintaku untuk berbicara denganmu."
Selena tersenyum, karena dia tau betul siapa yang di maksud Chiko.
"apa dia tau siapa aku?" tanya Selena.
"tentu saja tidak, kamu tau aku selalu menjaga privasi siapapun. bahkan aku sendiri tidak cukup mengenalmu jauh kecuali namamu. dan aku yakin itu bukan nama aslimu kan? haha namun tidak masalah, aku sangat menyukai dirimu."
"berapa yang dia bayarkan padamu?"
"wow, kamu langsung to the point sekali." tawa Chiko.
"aku cukup tau, kamu tidak akan repot menelponku sendiri seperti ini kalau kamu tidak mendapatkan imbalan yang sesuai dengan keinginanmu."
"hahahaha thats right baby! satu unit motor ducati miliknya kalau aku berhasil membuatmu datang ke arena."
"lalu apa yang aku dapatkan kalau aku mau." tantang Selena.
"apa yang kamu inginkan?" tanya Chiko serius
"carikan aku informasi seseorang."
"hanya itu?"
"ya! sedetail mungkin."
"deal?" Chiko tersenyum di balik teleponnya.
"deal.."
"namun kamu harus membawa informasi itu sebelum pertandingan di mulai."
"tentu, kirimkan aku profilnya dan aku akan mencarinya sesuai apa yang kamu inginkan."
"baiklah.." Selena menutup teleponnya.
"Selena, kenapa kamu malah mengiyakan."
protes Renata.
Revaldo juga bingung, baru saja tadi Selena menolak ajakannya namun setelah Chiko yang menelpon dia dengan mudah menyetujuinya.
"Do, cari tahun kenapa Devano begitu terobsesi balap denganku, cari tau apakah dia curiga tentang diriku atau dia hanya tidak terima dengan kekalahannya dulu." pintanya pada Revaldo.
"jadi kamu akan bertanding dengannya?"
"ya, hadiahnya cukup lumayan dan aku juga ingin dia tahu bahwa masih ada orang yang lebih baik dari dia. kesombongannya membuatku sedikit muak."
Renata yang mendengar nama pria yang di kaguminya merasa bingung.
"Selena, kamu masih dendam sama dia?"
"apa kamu akan sedih kalau dia kalah dariku Renata?"
Renata menggeleng cepat.
"tidak! bukan seperti itu hanya saja, mungkin dia tidak sengaja waktu itu Selena makanya dia tidak meminta maaf padamu."
"benarkah? aku merasa dia tau bahwa aku berdiri disana." jawab Selena dengan senyum smirknya.
Renata hanya menelan ludahnya, dia tau lau Selena dalam senyum seperti ini, itu artinya tidak akan ada orang yang bisa mencegahnya lagi.
sedangkan Revaldo juga bingung dengan apa yang terjadi dengan Selena dan Devano. selama ini Selena tidak pernah terusik dengan sekitarnya, namun sekarang dia berurusan dengan orang seperti Devano.