Sore menjelang. Adis dan langit sudah selesai dari pekerjaan mereka masing-masing. Mereka memutuskan untuk duduk berdua di rooftop ditemani dengan secangkir coklat panas di tangan mereka masing-masing.
Galau dan coklat panas adalah kombinasi yang sangat pas menurut adis. Kurang satu lagi, pizza. Ah … Tidak apa-apa. Adis tidak meminta yang muluk-muluk saat ini. Dia hanya ingin hatinya tenang untuk sejenak. Sejenak saja, itu sudah cukup bagi adis.
"Coklat panas, roof top, dan kamu. Kombinasi yang sangat pas," ucap langit seraya melirik ke arah wanita unik yang ada di sampingnya.
"Cie … Bapak Langit menggombal. Kenapa? Bapak mulai tertarik sama saya?"
Adis menaik turunkan alisnya beberapa kali di hadapan Langit, membuat laki-laki 26 tahun itu tergelak. Gelak tawa untuk menyembunyikan gemuruh di dalam hatinya.
"Mana mungkin aku tertarik sama mantannya si Bos. Kalah jauuuuuh. Aku mah apa atuh. Cuma remahan kue bolu. Apalagi mantan yang bucin begini, nggak bakalan ada tempat. Iya kan?"
Hanya sebuah candaan, tetapi, hanya Langit dan Tuhan yang tahu, bahwa itu adalah pertanyaan serius, keluar dari dalam hatinya. Adakah tempat di hati Adis untuk dirinya?
Sudah setahun lebih Langit hidup tanpa kekasih. Sudah setahun lebih tak ada yang membuat dia tertarik. Namun, kehadiran Adis yang ceplas ceplos, supel dan sangat ramah sama orang lain, berhasil menciptakan desiran halus di dadanya. Terlalu dini untuk mengklaim itu sebagai cinta. Namun, gadis itu spesial di mata Langit sekarang.
"Maunya ada tempat nggak?" Adis sengaja menggoda, menyunggingkan senyum termanis yang dia punya.
"Kalau ada tempat ya bagus, kalau nggak ada, ya sediain biar ada!"
Adis tertawa, begitu pun dengan langit. Dia menganggap itu sebuah candaan yang lucu, padahal itu permintaan yang sesungguhnya dari Langit.
Ya, mereka tertawa bersama. Sebuah tawa pelipur lara sejenak. Saat itu, Mereka sama-sama memandang langit indah di atas sana. Langit yang tampak lebih indah jika di pandang dari roof top begini.
"Bagus ya langitnya?"
"Kenapa harus memandang yang di atas? Di sini aja ada langit yang lebih indah."
"Indah dipandang doang tapi nggak dimiliki, buat apa?"
"Boleh dimiliki. Boleh juga dihalalin. hayuk?"
"Ke MUI?"
"Kau kira aku produk UMKM?"
"Hahaha … Langit, kamu itu receh, tapi selalu berhasil membuat aku tertawa. Terimakasih ya? Besok aku harus menjalani hari yang berat. Andai saja kamu bisa menemaniku."
Adis kembali menyesap coklatnya yang mulai dingin dengan kaki yang menyilang. Ya, Andai saja dia bisa ditemani langit besok, pasti dia tak seberapa sakit.
"Kamu itu aneh, tapi berhasil membuat aku tertarik. By the way, hari yang berat? Kenapa?"
"Besok aku harus menemani Beno dan Mak lampir ke EO untuk acara pertunangan mereka. Huft … kenapa harus begini jalan hidupku."
"Tenang aja, aku bisa menemani kok."
"Di jam kerja. Jam 10. Mana bisa kau menemaniku?"
"Aku bisa minta izin Wijaya. Tenang, bisa diatur."
Adis menoleh, tersenyum. Di saat dia sedang terpuruk dan butuh sandaran, Tuhan mengirimkan dia yang bisa menciptakan tawa dengan hal-hal recehnya.
"Menurut kamu, wajar nggak jika aku tidak ikhlas?"
"Tidak ada kata wajar atau tidak jika menyangkut soal hati. Tapi kalau kau tanya bagaimana baiknya? Menurutku, belajar lah untuk mengikhlaskan."
"Jujur saja aku tak yakin sama Rossi. Aku pernah melihat dia dijemput sama cowok lain di kantor ini. Aku bilang sama Beno, dan dia santai aja. Ini aneh. Kamu bisa membantuku? Aku akan ikhlas kalau aku tahu bahwa Rossi memang perempuan yang baik untuk Beno."
Adis menatap Langit yang saat itu juga sedang menatapnya. Mata mereka saling bertatap untuk beberapa detik, membuat gemuruh di hati Langit semakin menjadi.
"Apapun itu, aku bakalan bantu kamu. Tenang saja. Kasihan kalau nggak dibantuin. Udah kecil, mungil, tersakiti, ngenes lagi."
Ketepak …
Adis langsung menyentil pelipis Langit.
"Awww … belum jadi istri udah KDRT. aku laporin ke KPAI."
"Idih … emang kamu anak? Lagian ngeselin sih "
"Ngeselin sih, tapi suka kan aku temenin?"
Adis tertawa. Memang sih, Adis suka ada langit. Apalagi dia yang selalu siap membantu dia dalam hal apa pun. Saat ini, dia butuh bantuan Langit untuk menyelidiki Rossi. Dia yakin, Rossi punya kekasih lain selain Beno.
"Suka dong. Ah … coklatnya sudah habis. Aku turun dulu ya? Besok jangan lupa, jam 10 temani aku. Bye!"
Adis berdiri, melambaikan tangan sejenak, kemudian segera bergegas pergi sambil memegang cangkir kosong ditangan kanannya.
Langit tersenyum, dan membalas lambaian tangan Adis.
"Kok bisa ya aku nyaman sama orang yang baru saja aku kenal? Kenapa membahas hal receh yang tak bermakna saja bisa seseru ini?"
Langit bertanya pada dirinya sendiri. Dia menyesap minuman coklatnya, lalu menyusul Adis turun dengan perasaan yang tak karuan.
***
Seperti biasa, ketika sedang galau, Adis selalu duduk di depan kamarnya sambil makan pizza. Tak peduli duit sudah mau menipis. Tetep aja pesen pizza. Ya, uang dari hasil jual cincin sudah dibayarkan angsuran mobil, dan sisanya buat dia makan sehari-hari. Cincin?
Ah … Rasanya Adis pengen cepat-cepat gajian, supaya bisa membeli kembali cincin pemberian Beno yang telah dia jual. Ya, dia harus mengembalikan cincin itu. Tidak ada harapan lagi untuk kembali mendapatkan cincin dari laki-laki itu. Tidak ada harapan lagi untuk kembali diikat oleh orang yang masih diharapkan.
"Tuhan, kenapa aku harus kembali bertemu dengannya, kenapa aku harus kembali dekat dengan dirinya, kalau akhirnya dia memilih orang lain. Untuk apa pertemuan kembali ini, kalau hanya untuk berpisah lagi? Mungkin ragaku dan raga dia memang paling berdekatan, tetapi sesungguhnya hati kita telah jauh."
Adis kembali menggigit potongan pizza yang masih sedikit hangat, lalu dia menetaskan air mata. Sudah kebiasaan, nangis sambil makan pizza itu bisa menambah cita rasa. Begitu katanya.
Drrrt … Drrrt …
Terdengar dering handphone dari sakunya. Adis segera mengambilnya.
Ada photo Beno dan Rossi yang sedang menunjukkan cincinnya berpendar-pendar di sini.
Adis tertawa kecil, tertawa penuh rasa perih. Bahkan Beno sudah tidak bisa lagi menjaga perasaannya. Apa maksudnya memasang foto seperti itu? Sengaja pamer? Atau sengaja menyakiti hati Adis lebih dalam?
Adis membuang nafas kasar, lalu kembali memasukkan handphone itu ke dalam saku bajunya. Di sudah cukup tersiksa bertemu dengan Beno di kantor. Haruskah ia menambah siksaan dengan mendengar ocehannya?
"Aku tahu kamu cuma mau pamer kemesraan. Kau tak tahu, Ben. Perempuan yang kamu banggakan itu tidak sebaik yang kamu fikirkan. Lihat aja! Aku akan mencari bukti. Setelah itu, terserah kamu akan memutuskan apa? Meskipun rasanya tidak ikhlas, aku tetap menginginkan yang terbaik untukmu."
Adis segera mengelap air mata yang baru saja menetes, kemudian mencoba untuk tersenyum lebar.
"Aku harus siap-siap untuk besok, siap-siap mencari kebenaran. Yah! Harus semangat, Adis. Jangan cengeng!"