"Ya udah, Maaf. Aku akan bicara lagi sama Rossi." Beno masih menenggelamkan tubuh gadis itu dalam pelukannya. Andai saja dia bisa jujur kepada dirinya sendiri, pasti dia akan terus memeluk gadis itu dan tidak akan melepaskannya.
"Kau serius?"
"Iya."
"Bagus. Sekarang lepasin gue," ucap Adis dengan air mata yang masih membasahi kedua pipinya. Dia tidak mau terlalu larut dalam kenyamanan itu sehingga susah untuk lepas.
Beno melepaskan tangannya segera. Lalu berdehem salah tingkah.
"Kalau Rossi tetap menginginkan aku yang menjadi penanggung jawabnya, lebih baik aku mengundurkan diri dari Wijaya Advertising."
"Aku akan bicara dengannya. Kamu tak perlu pergi."
"Terimakasih. Ternyata kamu masih punya hati dan perasaan."
"Ini semua kulakukan karena kamu sekretaris aku dan aku masih membutuhkanmu. Jangan berpikir yang macam-macam."
"Sekali lagi kamu tak perlu menjelaskan panjang lebar begini. Aku tahu kau sudah tak menyukai aku lagi. Jangan diperjelas, karena itu hanya membuat aku sakit."
Adis menunduk, lalu menghapus air matanya dengan cepat.
"Sorry."
"Kita balik lagi ke dalam."
"Ayo."
Sebelum Adis dan Beno beranjak, Rossi yang sejak tadi mendengar obrolan mereka dengan tetesan air mata, langsung berlari dengan cepat, kembali masuk ke masuk ke ruangan itu.
Sementara langit dan Bu Netty, mereka lebih memilih untuk diam karena memang itu bukan urusan mereka.
Beberapa menit kemudian, Adis dan Beno kembali masuk ke ruangan. Semuanya diam, dan suasana berubah canggung.
"Semuanya, mohon maaf saya ada acara mendadak. Jadi saya izin pulang lebih dulu. Ayo langit!"
Adis meraih tangan langit, mengajaknya keluar.
"Ok. Terimakasih sudah menemani kita ke sini," ujar Beno. Sementara Rossi hanya diam di tempat, dia berucap dan juga tidak menoleh. Rasanya dia ingin berdiri dan menoyor mantan kekasih dari calon suaminya itu, tetapi dia tidak bisa melakukannya. Dia harus menjaga etika, setidaknya sampai dia keluar dari ruangan ini.
***
"Tadi Rossi mengikuti kalian, dan dia kembali ke ruangan dalam keadaan menangis. Apakah kalian mengucapkan sesuatu?"
Langit menatap ke depan, terus mengemudikan mobilnya dengan fokus.
Adis membuang nafas kasar lalu tersenyum. Dia tidak heran kalau Rossi mengikutinya, karena sikapnya yang tiba-tiba menyeret Beno, memang sedikit tidak lazim. Wajar saja jika membuat rossi curiga.
"Aku cuma bilang kalau aku nggak mau menjadi penanggungjawab untuk acara pertunangannya, karena itu akan melukai ku. Aku bilang kalau aku masih menyayanginya. Mungkin dia juga melihat Beno sedang memelukku."
"Wijaya memelukmu?"
Entah kenapa hatinya terasa perih. Tidak masalah kan kalau adis dipeluk oleh orang lain, terlepas itu pacar orang atau bukan. Seharusnya tidak ada masalah bagi langit, karena memang langit bukan siapa-siapanya Adis.
"Aku tahu dia merasa bersalah. Tapi sudahlah. Abaikan! Sebentar lagi mereka juga akan bertunangan kok. Aku tidak akan berarti apa-apa lagi buat dia, karena aku hanya masa lalu dan Rossi adalah masa depan, aku tetap saja kalah."
"Jangan bicara begitu, kita masih punya rencana yang harus kita jalankan, Bukan?"
"Oh iya. Kau benar-benar mau membantuku?"
"Tentu."
"Ah … aku semakin tak rela kalau nanti kau punya pacar, Langit. Kau begitu baik padaku."
Adis menoleh ke arah langit, memandang laki-laki itu dengan penuh rasa syukur. Dia bersyukur karena dipertemukan dengan orang sebaik langit. Saat ini dia punya sahabat baik, Nana dan Langit. Sahabat yang selalu ada untuknya dan siap membantu apapun yang dibutuhkan oleh Adis.
"Tenang, belum ada sinyal akan ada betina yang mendekat."
"Betina, kau kira kucing?"
"Emang cuma kucing doang yang mendekatiku. Oh ya, ini balik ke kantor?"
"Enggak. Nggak usah, antar aku pulang aja. Aku masih ngambek sama Beno. Biarin aja dia ngambek. Aku nggak peduli."
"Hahaha … dasar. Ya udah, aku antar pulang."
Mobil langit segera melaju ke tempat kos Adis dengan hatinya yang tak karuan. Berkali-kali adis bilang kalau dia tidak ingin langit punya kekasih. Diam-diam, langit berharap kalau adis punya maksud tertentu saat mengucapkannya.
***
"Kenapa kamu tak pernah bilang kalau Dena itu adalah Adis, mantan pacar kamu."
Beno dan Rossi duduk disebuah cafe mewah yang sering mereka kunjungi. Rossi ingin berbicara serius dengan kekasihnya. Dia tidak terima, dan merasa selama ini dibodohi. Andai saja Rossi tahu dari awal bahwa hadis adalah mantan kekasih Beno, pasti dia tidak akan pernah mengizinkan kasihnya untuk menerima Adis di perusahaannya.
"Tidak penting juga aku menceritakannya. Lagi pula adis adalah masa lalu aku. Tak ada lagi yang seharusnya kamu khawatirkan."
Beno menyeruput es kopinya dengan santai. Entah kenapa dia benar-benar santai menghadapi kekasihnya yang siap meledak-ledak itu.
"Ini sangat penting buatku. Perempuan itu masih mencintaimu. Wajar atau enggak kalau aku cemburu sama dia? Dia masih berusaha untuk mengejarmu, dan dia selalu bersikap tak sopan padaku. Tolong, demi hubungan kita, kamu pecat dia. Aku bisa mencarikan sekertaris yang tepat untuk kamu. Atau, aku bisa menjadi sekertaris kamu sementara waktu. Asalkan dia tidak lagi ada di sisi kamu terus menerus."
"Kau terlalu berlebihan, Rossi. Tidak akan ada yang berubah meskipun aku sama adis saling berdekatan. Yang berdekatan hanya raga kami, untuk hati tidak. Kau tahu, sejak aku melamar mu waktu itu, itu artinya aku sudah yakin bahwa kaulah yang akan menjadi pendamping hidupku di depan nanti. Kau tahu seperti apa aku. Kau tahu juga tahu, kalau sudah berkomitmen sama satu orang, tidak mudah goyah begitu saja. Tenang lah, nothing bad Will happen. You are still my princess."
Beno tersenyum lembut sambil mengelus puncak rambut Rossi..
"Serius? Kau tak akan lagi melirik dia?"
"Tak akan. Percayalah."
Rossi tersenyum lalu mengangguk. Sebuah anggukan kamuflase yang menyimpan bejibun rencana.
***
Pagi ini Adis tampak pucat. Rencana pertunangan Beno benar-benar membuatnya frustasi. Bagaimana tidak, sebentar lagi dia kan resmi menjadi calon suami orang.
Meskipun sampai saat ini dia masih berusaha untuk mencoba mencari tahu siapa sebenarnya rossi dan tulus atau tidak rossi pada beno. Karena yang Adis tahu, perempuan itu suka minta barang-barang mewah pada mantan pacarnya. Bukankah kekasih yang baik tak pernah minta pada orang yang belum resmi jadi suaminya? Apalagi barang mewah. Dan bodohnya, Beno selalu memberi begitu saja, dengan alasan tak mau kehilangan seperti saat dia kehilangan Adis karena dia tak pernah royal.
"Dis, kau pucat sekali. Kau sakit?" tanya Beno yang saat itu menghampirinya. Niatnya dia ingin meminta berkas kerjasama dengan PT Adhi Wijaya, tetapi melihat artis yang tampak pucat sambil memijit kepalanya membuat dia tidak tega.
"Aku nggak apa-apa. Ada apa kau ke sini?"
"Nggak apa-apa bagaimana? Kau pucat. Kau tunggu di sini, aku ambilkan minuman hangat ya? Dan istirahat aja dulu. Kalau mau, kau bisa istirahat di ruanganku. Tunggu!"
Beno segera berlari ke panti untuk mengambilkan coklat panas untuk Adis.
"Beno, kau kenapa? Kenapa kau perhatian padaku seperti ini saat kau mau bertunangan?"
Adis membuang nafas kasar sambil memandang punggung Beno yang telah menjauh.