Sudah 1 jam, Beno hanya duduk termenung di hadapan laptopnya. Dia tidak melakukan apapun. Pikirannya mengembara ke mana-mana. Dia masih tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Adis. Kenapa dia harus melakukan itu demi uang?
Meskipun hanya pendapat, tetapi Beno sudah menganggap bahwa pendapatnya itu adalah fakta yang terjadi. Beberapa hari ini, dia benar-benar tidak bisa fokus. Dia terus teringat oleh Adis, teringat penghianatannya dan kadang-kadang dia juga berpikir, kalau rekam jejak buruk Adis disebarkan, bagaimana masa depan Adis?
Beno menggosok rambutnya dengan kasar. Dia benar-benar tidak produktif hari ini.
"Kenapa dia bisa melakukan itu?"
Beno menggebrak mejanya dengan kasar, membuat langit yang baru saja masuk langsung berjingkat kaget.
"Ngapain sih? Bikin orang jantungan aja."
Beno menoleh sejenak, lalu memijit kepalanya pelan.
"Ngapain kamu ke sini? Bukannya baru aja laporan?"
"Ini sudah jam makan siang. Sudah waktunya istirahat. Mau makan siang bareng? Sekalian ada yang ingin aku tanyakan."
"Jangan menanyakan tentang Adis, karena aku lagi tidak ingin membicarakan tentang dia."
"Cukup berbincang-bincang saja ala orang dewasa. Ayo!"
"Oke."
Beberapa menit kemudian mereka sudah duduk di kantin. Mereka duduk berhadapan, dengan semangkok mie ayam di hadapan mereka masing-masing.
Meskipun Beno adalah pimpinan perusahaan, tetapi soal makanan dia tidak pilih-pilih. Dia suka apapun. Apalagi makanan yang enak dan murah. Sampai saat ini dia masih suka.
"Wid, Aku memang ingin berbicara tentang Adis. Tapi nggak ada hubungannya dengan perusahaan dan tidak ada hubungannya dengan kejadian keluarnya dia dari perusahaan."
Beno menyeruput coffe latte panas dari cangkirnya. Lalu meletakkannya di atas meja pelan-pelan.
"Kau menyukainya?"
"Aku hanya ingin membuat dia bahagia. Entah apapun sebutannya nanti. Kau tidak perlu tahu aku menyukainya atau tidak. Yang jelas aku ingin membuat dia bahagia. Boleh?"
Sebenarnya langit tidak perlu meminta izin sama Beno. Laki-laki itu bukan siapa-siapa pagi adis sekarang. Namun, rasanya Beno tidak rela kalau adis sampai jatuh ke tangan langit. Meskipun dia membenci Adis, entah kenapa separuh hatinya masih belum rela kalau dia bersama dengan orang lain.
"Aku bukan bapaknya. Jadi siapapun bebas untuk mendekatinya termasuk kamu."
"Kau kan mantannya. Kau juga sahabatku. Takut dikira menikung teman aja kalau nggak izin. Aku lihat beberapa hari ini dia selalu terluka hatinya. Aku tidak tega melihat dia seperti itu. Hampir setiap hari dia menangis. Perempuan konyol, yang suka makan, yang jahil, dan yang ceroboh itu tidak pantas jika banyak menangis."
Langit tersenyum saat mengingat tingkah Adis.
Beno membuang nafas kasar. Entah kenapa rasanya jengah mendengar langit yang terlalu memuja Adis.
"Lakukan apapun yang kamu suka. Aku sudah tidak peduli lagi sama dia. Dia sudah berkhianat. Aku sudah mengatakan ini padamu dan aku sudah memperingatkan ini padamu. Sekarang keputusan ada di kamu. Kamu ingin membuat dia bahagia dengan catatan kamu bisa terluka sendiri, atau kamu melupakan dia dan mencari kebahagiaan yang lain. Aku sudah pernah memperjuangkan dia. Aku sudah tahu dia seperti apa dan sampai sekarang ternyata tidak berubah. Kekecewaan kepadanya berlipat. Tetapi semua keputusan ada di kamu. Kamu yang berhak menentukan kebahagiaan kamu sendiri."
Beno tersenyum terpaksa, lalu dia mengambil semangkok mie ayam yang ada di hadapannya. Kemudian melahapnya habis tanpa mempedulikan langit yang sejak tadi memperhatikannya.
***
Sepulang dari kantor, Langit memutuskan untuk datang ke kos Adis. Mereka janjian untuk keluar. Jadi sekalian aja langit mampir sepulang kantor dan langsung pergi.
Adis sudah menunggu di jalan. Meskipun matanya masih sembab, tapi dia berusaha untuk terlihat seceria yang mungkin. Adis memakai overall jeans sebawah lutut, dengan dalaman kaos pendek warna pink garis-garis putih. Dia juga memakai topi pink. Membuat dia tampak seperti gadis SMA meskipun sekarang dia sudah 25 tahun.
"Sesuai aplikasi ya mbak?" goda Langit setelah menurunkan kaca mobilnya.
"Bukan dong Mas, sesuai hati aja? Biar klop," ucap Adis sambil tertawa kecil.
Dasar Langit, dia yang memulai, dia juga yang salah tingkah. Ia menggaruk-garuk tengkuknya, tak tahu harus menjawab guyonan itu dengan apa.
"Hahaha … kenapa? Kehabisan bahan bicara? Ini aku enggak disuruh masuk?"
"Oh, Ya Allah. Bisa-bisanya aku lupa. Ayo masuk! Masuk sendiri. Nggak usah manja minta dibukain."
Adis mengerucutkan bibirnya, pura-pura kesal, lalu Dia segera berjalan ke sisi mobil yang lain.
Setelah itu mobil segera melaju ke sebuah kafe yang sudah mereka sepakati sebelumnya.
20 menit kemudian mereka sudah sampai di cafe Andalas. Cafe yang anak muda banget. Selalu ada live acoustic setiap malam.
Sebelum mereka memasuki area cafe, adzan maghrib berkumandang. Mereka salat Maghrib terlebih dahulu di Mushola yang sudah disediakan oleh cafe. Ini yang memberi nilai plus bagi langit di hadapan Adis. Laki-laki itu tak lupa ibadah. Zaman sekarang, laki-laki muda dan ganteng dengan pekerjaan yang mapan seperti dia, jarang sekali mau berhenti untuk salat dulu sebelum memasuki kafe saat adzan berkumandang.
'Andai saja aku bisa melupakan Beno, pasti aku tertarik sama laki-laki sepertimu, Langit,' ucap Adis dalam hati. Setelah mereka selesai, mereka segera masuk ke dalam cafe itu. Cafe Andalas, tempat nongkrong anak-anak muda.
Mereka memesan aneka seafood dan spaghetti. Serta 2 cup hot Chocolate. Ternyata untuk kali ini, kesukaan mereka sama. Sama-sama suka sea food dan hot Chocolate.
"Dalam rangka apa kau mau mentraktirku?" ucap Adis setelah menyeruput hot coklatnya.
"Dalam rangka kangen debat. Sudah beberapa hari nggak debat sama kamu, tiba-tiba terjadi gejala pusing pusing. Mungkin aku sudah kecanduan."
"Gadis manis sepertiku memang candu bagi kaum lelaki. Membuat mereka ingin memandangku lagi Dan lagi. Iya kan?"
"Iyuuuh … PD boros. Ini aku mau muntah rasanya."
Adis tertawa. Wajah langit benar-benar memerah. Entah karena mau muntah atau karena hal lain.
"Asyeeek … Adis sembab Adena sudah kembali tertawa. Ternyata hot Chocolate ini benar-benar mujarab."
"Bukan karena hot coklat, tapi kamu yang traktir. Thank you ya?"
"Hmmm … aktivitas kamu sekarang apa?"
"Tidur, makan, cari resep masakan, main handphone, dan berbohong pada ibu kalau aku sedang capek setelah seharian bekerja. Padahal kerjaanku cuma di atas kasur."
Adis tertawa. Sebuah tawa kepedihan. Ya, Dia terpaksa membohongi ibunya setiap sang ibu telepon. Dia tak punya pilihan lain. Adis tak mau ibunya kepikiran.
Mendengar itu, langit tak tahu harus menjawab apa. Dia tahu betul bagaimana perasaan adis sekarang. Pasti dia sangat kecewa dan sakit.
"Mengenaskan sekali ya hidupku sekarang. Gara-gara fitnah keji itu. Aku tidak akan pernah memaafkan orang yang sudah memfitnahku."
"Fitnah?"
Langit mengerutkan keningnya. Tak faham dengan apa yang diucapkan oleh adis.
"Oke. Kali ini aku bakal cerita. Ada seseorang yang membocorkan materi yang sudah disusun oleh Beno. Materi itu sudah dipresentasikan oleh Zoyyas terlebih dahulu sebelum aku mempresentasikan. Materinya sama persis, sampai ke detail-detailnya sama. Menurut Beno, hanya aku sama dia yang tahu materi yang sudah jadi. Nggak ada yang lain yang tahu. Dia langsung saja menuduhku telah membocorkan materi itu dan menerima uang dari Zoyas. Apakah itu masuk akal? Bukankah itu sama saja dengan bunuh diri jika aku melakukan itu? Rasa sakitnya waktu itu dibawa ke pekerjaan. Begini lah jadinya. Aku jadi pengangguran. Dan dia bilang aku mau di black list dari semua perusahaan. Pengen aku bejek-bejek mukanya waktu itu. Ya, meskipun aku nggak berani sih. Aku keburu mewek."
Adis benar-benar menjelaskan itu dengan rinci, sampai dia ngosngosan. Di sesapnya kembali coklat panas itu, untuk mentransfer energi positif ke otak nya. Karena setelah membicarakan Beno dan pemecatannya, membuat dia sakit kepala tiba-tiba.
Langit manggut-manggut. Sekarang dia sudah tahu titik terangnya. Entah kenapa dia yakin kalau Adis memang tidak mungkin memberikan materi itu ke Zoyyas. Meskipun dia baru saja mengenal adis, dia yakin perempuan itu loyal dengan pekerjaannya.
"Ah … seperti itu. Ini memang rumit sih. Wajar saja kalau beno perpikir seperti itu saat keadaannya sedang kalut. Tapi, setelah dia lebih tenang seharusnya dia bisa berpikir jernih. Aku yakin kamu tidak mungkin melakukan ini. Ah … sekarang lupakan saja itu. Lupakan Beno Dan lupakan Wijaya advertising. Aku ada pekerjaan buat kamu. Meskipun pekerjaan ini gajinya nggak banyak seperti pekerjaan sekretaris. Tetapi Ya bisalah untuk sementara waktu."
"Apa?"
"Menjadi admin online toko pakaianku. Termasuk promo juga. Iya … sebut saja bekerja di divisii marketing. Biar lebih keren. Aku tahu kamu ada bakat di marketing. Tapi, Benar-benar nggak banyak sih gajinya. Tapi untuk sementara waktu, bisa lah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi kalau penjualannya bagus. Ada bonus tambahan.
"Admin online ya? Huft … turun dong pamorku."
Adis mengaduk-aduk spaghettinya dengan pandangan mata menerawang.
"Hilih. Nggak usah sok-sokan mikirin pamor. Sekarang yang terpenting mendapatkan pekerjaan kan? Kalau keadaan sedang genting jangan mikirin gengsi dulu. Nggak diterima di perusahaan besar bukan masalah besar. Kau bisa kerja di toko-toko seperti punyaku. Diakui atau tidak, mereka butuh tim marketing."
"Gengsi tahu sama Rossi. Pasti dia akan tertawa puas kalau aku hanya kerja sebagai admin online shop. Eh, Rossi. Rossi … "
Tiba-tiba Adis memikirkan sesuatu saat memikirkan Rossi.
"Kenapa?"
"Langit? Menurutmu, mungkin nggak sih kalau yang memfitnah aku tuh Rossi. Dia satu-satunya orang yang nggak suka sama aku di kantornya Beno. Dia meminta Beno untuk memecat ku, tapi Beno nggak mau. Mungkin Nggak sih kalau dia pelakunya?"
"Jangan berburuk sangka dulu, tapi aku janji, aku bakal bantu kamu untuk mengusut masalah ini. Meskipun Beno tak mau menyelidiki itu lebih jauh. Biar aku aja yang bertindak."
"Hah? Serius? Kau mau membantuku. Kau baik banget sih."
"Tentu saja bersyarat. Syaratnya, kamu harus mau jadi admin online shopku. Titik. Nggak pake koma. Mulai hari ini aku resmikan kamu jadi karyawanku. Selamat!"
Langit mengulurkan tangannya pada Adis. Sementara perempuan yang ada di hadapannya, hanya mengerutkan keningnya dengan mulut menganga.