Detik telah berlalu, hari telah berganti. Kata orang, waktu adalah obat terbaik untuk mengobati luka. Benarkah demikian? Kalau memang iya, butuh berapa lama? Faktanya, Adis pernah berusaha untuk melupakan Beno selama 3 tahun, tetapi apa yang terjadi? Adis tetap tidak bisa melupakannya. Malah, takdir mempertemukan mereka kembali.
Adis sudah terlalu percaya diri. Menganggap bahwa pertemuan mereka kembali adalah sebuah takdir yang mungkin saja menandakan bahwa mereka adalah jodoh. Ah … Ternyata itu hanya keinginannya saja. Sekarang, dia harus benar-benar rela melepaskan orang orang yang masih disayang.
Untuk apa kita sayang sama seseorang, jika hanya berjuang sendirian? Kita berjuang untuk mendapatkan dia, tetapi ternyata dia berjuang untuk mendapatkan orang lain. Sakit? Jangan tanya.
Bener apa kata Meggy z dalam lagunya. Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Ketika sakit gigi, kita bisa pergi ke dokter atau minum pereda nyeri. Beres. Semua teratasi. Kalau sakit hati, kita tidak hanya butuh satu tahun 2 tahun untuk memulihkannya. Ya, serumit itulah cinta yang sedang dialami oleh Adis sekarang.
"Dis, ayo kerja! Bengong aja."
Adis tersadar dari lamunannya, lalu menoleh ke arah bos barunya yang baru saja datang. Ya, kini Adis sudah resmi menjadi karyawan Langit. Dia adalah satu-satunya karyawan yang suka membangkang, sangat berani dan tidak sopan sama bosnya sendiri. Iya, hanya dia yang seperti itu.
"Udah baru saja live i********:. Lihat tuh, sudah ada 116 pesanan yang siap kirim hari ini. Hebat kan?"
Adis menyombongkan diri, menunjuk jajaran baju yang sudah ditumpuk dan siap untuk dikemas.
"Waaah … mbak Adis hebat tenan, Mas Bos. Baru kali ini loh i********: bisa dapat pesanan sebanyak ini. Biasanya paling banyak cuma 30 doang. Memang ya, good looking itu memang ampuh. Joss tenan Mas."
Tari, salah satu karyawan Langit yang saat itu tengah menata orderan ikut nimbrung.
"Good looking? Siapa? Dia? Ya Ampun Tari … kamu katarak? Periksa gih sana!"
Langit yang sedang duduk tak jauh dari Adis pura-pura begidik. Padahal di dalam hatinya, dia mengakui, Adis memang cantik. Meskipun dia tidak memakai pakaian kantoran, dia tetap terlihat cantik. Bahkan lebih cantik. Adis banget pokoknya.
"Kenapa nggak terima banget sih kalau aku good looking. Sari aja ngakuin."
"Sepertinya mas langit dan harus periksa mata. Cantiknya kayak gini kok. Mulus kulitnya, badan ramping dan tinggi, senyumnya manis … haduuuh … aku aja pengen cantik kayak gitu."
"Tari, manis dari mana senyumnya. Dia aja punya taring di kanan dan kiri kayak harimau."
Adis tahu kelemahan langit. Dia beranjak dari duduknya, menghampiri bos barunya yang saat itu tengah duduk di lantai menemani para karyawan yang sibuk packing dan menempelkan alamat ada paket yang sudah di pack.
"Coba sini liat dari dekat, aku manis nggak? Good looking nggak?"
Adis duduk tepat di hadapannya, memandang langit dengan tatapan yang dalam, kemudian dia menyunggingkan senyum yang sempat membuat beberapa laki-laki klepek-klepek.
Sontak, Langit menghindari tatapan itu dan garuk-garuk kepala. Persis seperti apa yang diprediksikan oleh adis. Laki-laki itu selalu salah tingkah jika di tatap matanya. Adis tidak tahu saja, setiap mata mereka saling bertatap, pasti hati langit berantakan.
"Kenapa menghindar Bapak? Takut jatuh hati ya karena saya saking manisnya? Hmmm … ?"
"Mual. Takut nafsu makan hilang. Udah sono balik. Menuh-menuhin tempat di sini."
"Cieee … Mas Bos salah tingkah. Cie … "
Ternyata dari tadi tari memperhatikan mereka berdua. Beberapa karyawan ikut bercie-cie melihat bos mereka yang salah tingkah karena karyawan baru yang more than good looking menurut mereka.
Adis tertawa saat melihat wajah tampan langit memerah. Bagi Adis, ekspresi langit saat salah tingkah itu selalu menggemaskan. Apakah memang sepolos itu laki-laki ini?
"Udah udah gais, enggak usah diterusin. Pipinya udah merah kaya tomat busuk."
Adis minta mereka untuk berhenti tertawa tetapi dirinya malah tertawa keras.
"Terserah kalian deh. Lanjutin aja kerjanya. Aku mau siap-siap karena nanti malam mau datang ke ke acara pertunangan mantan pacar Adis Adena."
Langit pun tahu kelemahan Adis. Jadi tak mungkin dia diam saja. Beno, Nama itu selalu berhasil membuat wajah Adis berubah murung.
Deg … hari ini? Jadi Beno bertunangan hari ini? Dia benar-benar agar mengikat hubungan mereka dan sepakat untuk melaju ke jenjang yang lebih serius? Dia enak-enakan melangsungkan pesta padahal dia sudah membuat hati Adis remuk redam seperti ini?
"Maaf, Aku mau cek dm dulu. Sepertinya tadi banyak yang nanya stok."
Adis berdiri, raut mukanya langsung berubah. Selama bekerja di situ dia sudah lumayan terhibur dan melupakan tentang pertunangan Beno. Tapi, mana mungkin dia bisa biasa aja jika mendengar kabar itu lagi?
Tari, dan teman yang lain saling sikut saat melihat perubahan muka Adis. Sementara langit, dia benar-benar merasa bersalah. Awalnya dia hanya ingin menggoda adis saja. Ternyata kata-kata pendek itu berhasil membuatnya terluka.
Adis pura-pura scroll HP, padahal air mata sudah menggenang di sudut matanya. Dia menggigit bibirnya, supaya air mata itu tak luruh.
"Gais aku ke kamar mandi dulu ya? Udah kebelet."
Adis berdiri dari duduknya dan segera berlari keluar dari ruangan itu. Dia bukan kebelet pipis atau yang lainnya, tapi air mata sudah antre ingin jatuh.
Langit tahu itu, Dia segera bangkit dan mengejar Adis. Ternyata benar, dia sudah berderai air mata.
"Adis."
Langit menahan lengan adis yang saat itu ingin berlari.
"Lepasin aku. Aku mau ke kamar mandi," ucap Adis di sela Isak tangisnya.
"Sorry. Aku enggak berniat untuk bikin kamu sedih."
"Aku nggak sedih. Buat apa sedih sudah bertunangan orang yang tak lagi percaya padaku dan sudah benci padaku. Aku tidak sedih sama sekali," bohongnya. Padahal air mata sudah membanjiri pipinya.
Langit meraih bahunya, dan menenggelamkan tubuh ramping itu ke dalam pelukannya.
"It's OK jika kamu memang sakit. Ngomong aja nggak apa-apa. Dis, kamu nggak sendiri. Kalau kamu mau, kamu bisa lari ke aku saat kamu sedih. Aku siap menjadi penghapus luka kamu."
Adis masih terisak. Sakitnya sampai ke ulu hati. Pertunangan memang belum mengikat mereka secara sah. Namun, itu sudah menandakan bahwa hubungan mereka tinggal selangkah lagi. Apakah Adis lebay? Jika kau pernah ditinggal menikah oleh orang yang sangat kausayang, baru kau mengerti apa yang dirasakan oleh Adis.
"Aku sudah enggak peduli lagi dengannya."
Tubuh Adis bergetar. Langit ikut merasakan getaran itu. Langit ikut merasakan kesedihan yang luar biasa. Dia tahu perempuan itu. Ketika dia sudah mencintai seseorang, maka dia akan berkurang teguh pada cinta itu. Namun jika dia pernah mendua, mungkin memang ada yang salah sama hubungan sebelumnya. Dia yakin Adis adalah orang yang baik.
"Apa yang bisa membuat kamu nggak sedih lagi? Apa yang bisa membuat kamu tertawa?"
"Jangan pernah membicarakan dia di hadapanku. Aku tak mau tahu tentang dia lagi. Aku mau melupakan semua tentangnya. Dia bukan yang terbaik untukku kan?" tanya Adis terbata-bata di sela Isak tangisnya.
"Hmmm … He is not the right one for you. Percayalah. Kau pasti akan mendapatkan laki-laki terbaik versimu."
"Hmmm … dunia nggak akan berakhir hanya karena dia bertunangan kan?"
"Tentu saja."
Adis terus menangis sesenggukan di dalam pelukan langit. Andai saja dia boleh minta, pasti dia akan meminta pada Tuhan untuk memindahkan rasa sedih itu padanya. Sepertinya menanggung sedihnya sendiri itu lebih baik daripada dia harus melihat Adis bersedih seperti itu.
Tidak tega melihat air mata itu terus-terusan jatuh. Tak tega melihat hatinya teriris. Sakit tak berdarah, begitulah kata orang, dan langit ikut merasakannya.
Saat itu, tari dan teman-temannya ternyata mengintip si Bos dengan karyawan barunya.
"Ya ampuuuun. So sweet banget sih pak Langit. Di benar-benar berusaha untuk membuat mbak Adis tenang. Meskipun aku nggak tahu apa masalah mbak Adis sih," ucap tari pada teman-temannya. Mereka seperti sedang melihat sebuah film live di depannya.
"Jadi yang mau pertunangan itu mantannya mbak Adis? Terus mbak Adis sedih dan ditenangkan oleh Pak langit? Pelukannya terlihat tulus banget ya," imbuh Anya.
"Hooh. Mereka cocok banget. Satunya cantik satunya ganteng. Sepertinya pas kalau mereka bersatu."
"Iya. Tapi Pak langit itu orangnya nggak cak-cek. Klemar-Klemer gitu kalau nggak salah cewek." Imbuh yang lainnya.
"Kita bisa bantu Pak langit kok untuk mendekati mbak Adis? Gimana? Setuju?"
"Setuju? Mulai besok kita atur strategi untuk menyatukan mereka berdua. Supaya bos kita nggak lagi jomblo."
"Setuju!" Mereka sempat berteriak bersamaan dengan dengan telapak tangan yang bertindih satu sama lain.
Sontak, langit dan Adis langsung menoleh. Ah, mereka lupa kalau mereka sedang mengintip. Mereka saling jawil satu sama lain.
"Eh, Pak Langit. Teruskan. Tadi niatnya mau ke kamar mandi bareng bareng, eh tapi jalannya di blok sama Pak langit dan mbak Adis, jadi kita nggak jadi ke kamar mandi. Monggo diteruskan," ucap Tari, kemudian dia menggelandang teman-temannya untuk kembali masuk ke dalam ruangan.
Disela Isak tangisnya, Adis tertawa. Ya Ampuuuun. Teman-teman barunya memang lucu dan kocak. Bisa-bisanya Dia mengintip bosnya seperti itu. Ketahuan lagi.
"Mereka makin hari makin aneh deh. Eh tapi, kamu tertawa? Tertawa tertawa aja udah sambil menangis," goda Langit.
Mereka saling mengurai pelukan sejak mereka kepergok. Seperti biasa langit hanya bisa garuk-garuk Tengkuk karena salah tingkah.
"Terima kasih karena sudah berusaha menenangkan aku. Sekarang aku sudah baik-baik saja. Kalau kau memang mau berangkat ke sana, berangkat aja. Semoga acara Beno lancar."
Adis menepuk pundak langit, Lalu dia berjalan dengan cepat menuju ke kamar mandi. Langit yakin dia ke kamar mandi bukan untuk cuci muka, tetapi untuk meneruskan tangis yang belum sampai finish.
'It's O.K not to be O.K Dis.'