"Dis, nenek lampir kesayangan lo baru saja sampai kantor."
Adis yang baru saja mengangkat teleponnya sambil cimol langsung tersedak.
"Serius?" tanya Adis disela batuk-batuknya.
"Ya ampun kenapa lo batuk-batuk begitu sih? Iya, tadi gue nitip sama pak satpam, kalau lihat pacarnya pak Beno supaya menginfokan ke gue. Katanya baru saja masuk."
"Oke. Siap. Thank you informasinya, Nano. Bye."
Klik. Adis mematikan teleponnya secara sepihak. Dia baru saja sampai ke toko baju milik langit, tapi dia harus pergi lagi. Ada misi yang harus diselesaikan. Mereka memang harus bergerak luar dalam. Biar langit yang bergerak dari dalam kantor, dan Adis yang bergerak di luar kantor.
"Tari, gue izin sebentar ya. Eh nggak sebentar sih. Sampai urusan gue selesai. Nanti kalau Pak langit ke sini, izinin aja ya. Bye! Gue buru-buru."
Adis segera melesat keluar sambil menyambar tasnya sebelum Tari sempat menjawab apa-apa. Untung hari itu dia mau bawa mobil sendiri. Jadi bisa leluasa kesana kemari. Adis segera melesat ke kantor tempat dimana dia sempat bekerja. Tempat kerja yang singkat tetapi menorehkan banyak kenangan. Baik kenangan buruk maupun kenangan manis.
Adis menunggu di luar area kantor. Dia terus merecoki Nana, meminta Nana untuk menginfokan kalau Rossi keluar dari kantor. Nana seperti orang linglung yang sebentar sebentar melongok ke luar. Celingak-celinguk berharap Rossi keluar. Sudah 2 jam Adis duduk manis di dalam mobilnya.
Ah, cara ini sebenarnya tidak efektif dan hanya buang-buang waktu. Namun, Dia belum mendapatkan rencana lain. Cuma ini yang bisa dia lakukan sekarang.
Beberapa menit kemudian Nana menginfokan kalau Rossi mulai keluar. Adis celingak celinguk. Benar saja, Rossi keluar kemudian naik taksi. Adis segera mengikuti taksi Rossi yang ternyata berhenti disebuah resto mewah.
Saat itu, mata Adis menatap sebuah mini Cooper merah yang pernah dilihat tengah menjemput Rossi waktu itu. Ya, mini Cooper nya sama sama persis dengan yang dia lihat dulu. Pasti Rossi sedang bertemu dengan selingkuhannya.
Lalu, Adis meneruskan mengikuti Rossi dengan hati dongkol. Karena, Dia tahu tas dan sepatu milik Rossi itu adalah hasil dia memoroti Beno. Tentu saja Adis tahu karena dia tidak absen melihat sosial media Rossi, meskipun hanya memakai akun palsu.
Saat itu, terlihat Rossi yang menghampiri seorang laki-laki di mejanya. Seorang laki-laki muda yang sepertinya masih berumur 26 tahun dan seperti Beno. Sayangnya laki-laki itu memakai masker, sehingga Adis tidak bisa melihat dengan jelas wajah laki-laki itu.
Rossi terlihat mengulum senyum lebar, lalu mereka saling mencium pipi kanan dan pipi kiri mesra. Adis segera duduk di kursi yang tidak jauh dari mereka. Dia sengaja memakai kacamata hitam dan masker. Supaya tidak terendus kehadirannya oleh Rossi.
Ah, sayangnya dia tidak bisa mendengar percakapan mereka karena jaraknya yang tidak dekat. Tapi, mata Adis langsung terbelalak saat dia melihat Rossi menggenggam tangan laki-laki itu. Sontak, Adis mengambil handphone-nya dan segera mengambil gambar mereka berdua sebagai bukti bahwa Rossi memang selingkuh dari Beno. Eh, tapi … bukan ini dan tujuan utama Adis membuntuti Rossi.
Dia hanya ingin mencari bukti bahwa memang Rossi lah yang berbuat ulah memberikan materi mereka ke Zoyyas. Ah, tapi dia tetap mengambil gambar siapa tahu itu bisa berguna.
Adis semakin membelalakkan matanya ketika laki-laki itu mengulurkan tangan dan mengelus lembut pipi Rossi. Rossi meraih tangan itu dan mencium telapak tangannya. Adis tersenyum penuh kemenangan. Dia sudah memotret semua adegan mesra mereka berdua. Mungkin dia akan mengirimkan semuanya ke Beno.
Ah … tapi sepertinya ini bisa digunakan Adis untuk membuat Rossi mengaku bahwa dia lah yang memang memfitnah Adis.
Setelah dirasa memiliki cukup bukti, Adis memberanikan diri untuk menghampiri Rossi. Setelah membuka masker dan kacamata nya, dia datang dengan langkah pasti, lalu bertepuk tangan bak seorang yang tengah menangkap basah pacarnya berselingkuh.
"Woww … Sebuah perselingkuhan yang disusun dengan begitu rapi. Sampai pacar sendiri tidak bisa mengendusnya. Keren. Keren sekali Mbak rosi yang terhormat. Saya akui Anda luar biasa."
Adis menyilangkan tangannya di depan d**a dengan sombongnya.
Laki-laki bermasker itu langsung menoleh arah sumber suara. Kemudian, dia menatap Rossi.
"Saya harus pergi."
Tiba-tiba laki-laki itu melesat pergi dari hadapan Rossi. Mulut Rossi hanya menganga. Dia kaget karena dua hal. Kedatangan Adis di hadapannya dan kepergian laki-laki itu saat keadaan sedang genting itu.
"Cemen sekali ya selingkuhan lo itu, mbak Rossi. Masa setelah kepergok langsung menghilang. Sepertinya dia lebih sayang sama nyawanya sendiri daripada sayang sama kamu. Kasihaaaan."
Dengan muka ngeselin, Adis sedikit mencondongkan wajahnya ke wajah Rossi.
"Apa-apaan sih Lo. Lo ngikutin gue? Kenapa? Kamu masih mencari-cari kesalahan gue supaya lo bisa balik lagi sama mantan pacar lo. Ngimpi Lo. Beno sebentar lagi sudah sah menjadi suami gue. Dasar w************n yang tak bisa move on."
"Oke. Silakan mencela gue samau lo. Karena sebentar lagi lu juga akan kehilangan dia seperti gue dulu. Gue sudah ada bukti di sini. Bukti bahwa Lo sudah berkhianat."
Adis mengacungkan handphonenya sambil menatap Rossi dengan tatapan yang tajam.
"Bukti apaan? Dia sepupu gue. Nggak usah mengada-ngada ya Lo. Nggak usah kurang ajar! Bawa sini handphonennya!"
Rossi melotot dengan rahang mengeras. Sepertinya dia benar-benar geram dengan tingkah laku Adis.
"Ututututu … santai saja, Buk. Woles. Kalau memang dia sepupu Lo, gue kagum banget. Ikatan hati kalian benar-benar dalam ya sebagai sepupu sampai mesra itu saat bertemu."
"Siniin handphonenya." Rossi berteriak lantang sampai beberapa orang menoleh ke arah mereka berdua.
"Tenang, Bun. Tenang. Gue ada penawaran menarik buat Lo. Sekarang lu ngaku sama gue, kalau memang lo yang memfitnah gue tentang materi untuk Zoyyas. Ngaku sekarang! Kalo Lo ngaku, foto-foto ini tidak akan tersebar."
"Siniin handphonenya."
Rossi berusaha untuk merebut handphone Adis, tetapi dengan sigap, Adis meraih pergelangan tangan Rossi dan menggenggamnya erat sampai merah-merah.
"Lo pikir gue bakalan tinggal diam. Jangan dikira!"
"Lepasin tangan gue. Ya ampun bar-bar banget sih Lo."
"Gue nggak bakal lepasin tangan lo sebelum Lo ngaku."
Rossi berusaha untuk melepaskan dirinya, tetapi saat dia melihat bayangan sekelebat, Rossi pura-pura lemah.
"Aduuuuh, sakit Dena. Tadi kau sudah menamparku dan sekarang kamu mencengkeram tanganku. Ini sakit Dena, tolong lepasin. Sekarang aku sama Wijaya sudah mau menikah. Jadi tolong jangan seperti ini lagi."
Adis hanya mengerutkan keningnya dan sedikit melonggarkan cengkraman tangannya karena bingung dengan ucapan Rossi. Tapi anehnya, Rossi tidak melepaskan tangannya meskipun cengkraman tangan adis sudah mengendur.
Tiba-tiba, seseorang datang dan langsung menampar pipi Adis keras. Sontak, Adis cengkraman tangannya dan menoleh ke arah orang yang sudah menamparnya. Mulutnya menganga dan matanya memanas saat tahu siapa pemilik tangan kokoh yang sudah mendarat ke pipinya dengan keras.