"Tom, Nikah yuk?"
Entah kenapa Adis terus terbayang-bayang wajah Langit saat mengucapkan itu. Wajah itu terus terbayang-bayang, dan kata-kata itu terus terngiang-ngiang di telinganya.
Adis menutup mukanya dengan bantal. Namun, tetap saja terbayang-bayang dan terngiang-ngiang. Padahal kejadiannya sudah beberapa jam yang lalu.
"Aih … Kenapa aku ini? Langit! Pergi sono, Jangan buntutin!"
Akhirnya Adis melemparkan bantal itu ke dinding. Dia sudah bengong sejak beberapa jam lalu, dan itu hanya gara-gara teringat akan kata-kata Langit. Hanya sebuah kalimat pendek yang diucapkan seolah dari dalam hati. Ya, hanya seolah. Karena setelah itu lalu tertawa terbahak-bahak yang diyakini Adis itu hanyalah sebuah candaan.
Adis baru tahu sekarang, kalau ternyata hati tidak bisa diajak bercanda. Bagaimana bisa dia tiba-tiba baper begitu? Padahal biasanya, seperti apapun candaan Langit, dia lempeng-lempeng aja.
"Ya Allah … aku ini kenapa?"
Adis mengacak-ngacak rambutnya sendiri saat lagi-lagi kata-kata itu terngiang di telinganya.
Perempuan 26 tahun itu segera bangkit dari tidurnya kemudian dia segera menuju ke dapur, dan membuat coklat hangat kesukaannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 malam, dan mata Adis sama sekali belum bisa terpejam.
"Mungkin ini gara-gara Beno mau menikah, jadi otakku error begini. Huft … semoga ini terjadi malam ini saja. Jangan sampai berlanjut ke besok dan besoknya. Aku tak mau terngiang-ngiang ucapannya terus ya Allah," ucap Adis sambil mengaduk-aduk coklat panasnya.
Malam ini begitu sepi. Sepertinya seluruh penghuni kos sudah terlelap. Hanya adis sendirian yang sedang duduk di teras sambil menikmati coklat hangatnya.
Dia sengaja keluar, karena di dalam kamar itu, dia terus teringat-ingat Langit. Ya, mungkin karena sebentar lagi Beno akan menikah. Jadi hati Adis bergejolak ketika ada yang mengajak dia untuk menikah. Padahal itu hanya sebuah ajakan bercanda.
Adis meraih ponselnya. Dia membuka galeri. Masih ada ada fotonya dan foto Beno waktu memakai helm dan naik motor butut Beno. Mereka tampak tersenyum lebar. Mereka berdua tampak bahagia waktu itu.
"Sebentar lagi, kau akan resmi jadi suami orang, Ben. Tolong! Bantu gue. Bantu gue agar bisa mengikhlaskan Lo. Buat gue mengerti kalau lo cuma masa lalu di hidup gue dan tidak akan pernah menjadi masa depan. Meskipun gue nggak suka sama Rossi, meskipun gue curiga Rossi punya laki-laki lain, tetapi gue berusaha untuk nggak peduli. Gue berusaha untuk ikhlas dan melepas rasa sayang. Semoga kau bahagia bersama dengan Rossi."
Adis masih memandang foto mereka berdua. Namun, entah kenapa tiba-tiba wajah Langit dan dirinya yang muncul. Bayangan langitlah yang ada di handphone itu.
"Allahu Akbar."
Dia melepaskan handphone dari tangannya hingga handphone itu terjatuh ke lantai.
"Aish, gara-gara dibecandain diajak nikah. Otakku jadi error gini sih. Argh … dasar badut! Candaannya nggak lucu."
Adis handphone yang tadi tidak sengaja terjatuh, kemudian dia segera kembali ke kamar padahal coklat hangatnya baru di sesap beberapa sesapan aja.
Argh … Beno dan Langit. Benar-benar memenuhi kepala Adis saat ini.
***
Langit tak tenang seharian setelah percakapannya dengan Adis dan Santi kemarin. Jordan, sepupunya, pernah sangat dekat dengan Adis hingga menyebabkan hubungan Beno dan Adis retak. Sekarang, Jordan menjadi selingkuhan Rossi. Pasti ada yang gak beres dengan ini semua? Apakah memang kebetulan sekebetulan itu.
Sore itu, sepulang kantor, dia menyempatkan diri untuk datang ke rumah Jordan. Yah … Anggap aja silaturahmi karena sudah lama dia tidak bertemu dengan om dan tantenya. Juga Jordan tentunya.
Siapa tahu dia mendapatkan banyak informasi tentang Jordan di rumah itu. Apakah memang benar dia selingkuhan Rossi? Atau justru Beno lah yang menjadi selingkuhannya.
Hanya 45 menit perjalanan dari kantor, Langit sudah sampai di halaman rumah Jordan yang begitu luas setelah gerbang dibukakan oleh satpam.
Dia melihat mini Cooper merah Jordan ada di rumah. Masih terparkir di halaman.
"Pak, Jordan ada di rumah?" tanya Beno sama satpam itu, namanya pak Arik.
"Iya Mas. Mas Jordan ada di dalam sama pacarnya."
"Pacarnya?"
"Iya."
"Oh, ya sudah kalau begitu saya permisi masuk ke dalam ya."
"Eh jangan dulu mas."
"Kenapa?"
"Ya nggak apa-apa sih. Kalau mau masuk jangan lupa pencet bel ya Mas, jangan seperti biasanya."
Langit mengerutkan keningnya? Kenapa? Kenapa harus pencet bel. Setiap dia main ke rumah Om tantenya dia selalu nyelonong begitu saja enggak pernah pencet bel.
"Oh, siap Pak. Aku masuk dulu ya?" ucap Langit masih ada tanda tanya besar di kepalanya.
"Monggo, Mas," ucap Pak Arik sopan, kemudian dia segera kembali ke pos.
'Pasti ada yang nggak beres nih. Pacar Jordan? Apakah itu Rossi, atau perempuan lain? Kalau Rossi, dia kan mau menikah lusa. Nggak mungkin dia berada di rumah Jordan sekarang. Pasti dia sudah sibuk menyiapkan ini itu.'
Ah … daripada langit sibuk bertanya kepada dirinya sendiri, dia segera menuju ke pintu yang saat itu tidak ditutup penuh, sedikit terbuka.
Langit langsung terdiam dan mematung saat dia bisa melihat pemandangan yang ada di dalam rumah dari celah pintu.
Ya, ada Jordan di dalam. Dan benar dugaannya. Jordan bersama dengan Rossi. Tahukah kalian apa yang mereka lakukan? Mereka sedang memejamkan mata sambil menempelkan bibir satu sama lain. Ya, mereka sedang berciuman mesra di ruang tamu.
Langit tertegun sejenak. Dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Dia hanya mematung di sana.
Ah … tetapi dia tidak boleh bodoh. Bisa memanfaatkan kesempatan ini. Langit segera mengambil handphonenya, merekam aksi ciuman mereka beberapa detik, kemudian mengambil gambarnya.
Bukan, bukan untuk apa-apa, apalagi untuk koleksi pribadi. Mungkin video ini bisa membuka mata Beno, perempuan seperti apa yang akan dinikahi. Ah … tapi, Kenapa harus Jordan laki-lakinya? Kenapa harus sepupunya sendiri? Kenapa harus orang yang dulu dekat dengan Adis.
"Mas."
Seorang menyentuh lembut pundaknya. Siti, asisten rumah tangga Jordan dan keluarganya berdiri di samping langit.
"Eh Siti."
"Mas Langit ngapain?"
Langit tidak menjawab hanya melihat aksi mereka dari balik pintu.
"Oh … udah kebiasaan kayak gitu mas. Aku aja sampai malu dan risih," ujar Siti sambil membawa barang belanjaannya.
"Eh Siti, sini deh."
Langit menarik tangan Siti dan membawa perempuan itu agak menjauh dari pintu.
"Ada apa mas?"
"Sit, Aku boleh minta tolong sama kamu," ucap Langit. Dia sudah cukup kenal dengan Siti karena dulu dia sering sekali main ke rumah itu.
"Minta tolong apa Mas? Kalau aku bisa pasti aku akan menolong."
"Gini, Aku tidak bisa menceritakan alasannya apa, yang jelas ini penting sekali buat saya. Tolong ya, kamu mata-matai mereka berdua. Kalau mereka sepertinya ngomong sesuatu yang penting atau apa gitu, dan kamu dengar. Tolong rekam. Kalau memang kamu tidak sempat untuk merekamnya, cukup dengarkan saja. Aku ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Karena ini sangat penting. Saat aku akan ceritakan sama kamu kepentinganku apa. Tolong ya Sit."
"Aduh Mas, Aku ndak berani seperti itu. Itu namanya tidak sopan sama majikan sendiri. Moh ah mas. Nanti aku dipecat, jadi rugi sendiri akunya."
Kebetulan langit membawa uang cash di Sling bagnya. Dia mengambil uang 5 juta yang baru saja dia ambil, dan memberikannya pada Siti.
"Ini 5 juta Sit. Nanti aku tambahin lagi 15 juta. Tolong ya? Tolong banget."
"20 juta ya? Sebenarnya ini nggak boleh lho mas."
"Ini untuk membongkar kejahatan, Sit. Kalau kamu melakukannya, kamu tidak dosa tapi malah dapat pahala, dapat uang lagi. Udah terima aja."
"Ah … terpaksa deh gara-gara 20 juta. Ya udah Mas, kebetulan ini saya mau bersih-bersih ruang tamu."
"Ya udah, Aku pergi dulu ya? Jangan sampai mereka tahu kalau lagi memata-matai. Jangan bilang juga sama mereka kalau aku baru saja ke sini."
"Sip mas."
Langit tersenyum, berharap ini menjadi titik terang dari permasalahan Adis. Ya, memang tidak masuk akal. Bisa-bisanya dia merelakan uang puluhan juta hanya untuk memata-matai orang yang berhubungan dengan Adis. Terkadang Cinta memang setidak masuk akal itu.