Akad nikah Rossi dan Beno Wijaya akan dilakukan beberapa jam lagi. Ya, mereka akan melaksanakan ijab qobul jam 4 sore, dan sampai sekarang ini Langit masih kelimpungan diatas tempat tidurnya.
Jam dinding kamarnya menunjukkan pukul 4 subuh. Matanya belum bisa terpejam sejak sore. Banyak yang dipikirkan. Ia merasa bersalah kepada Beno sebenarnya. Karena dia tahu sesuatu. Dia tahu bahwa calon istrinya sedang bermain gila di belakang dengan orang lain, yang tak lain dan tak bukan adalah sepupunya sendiri.
Dia mencoba untuk menghubungi nomor Beno, tetapi handphonenya sudah tidak aktif. Langit sangat yakin kalau ini kerjaan Rossi. Pasti dia minta Beno untuk mematikan handphonenya. Karena terus terang saja, dia memang agak takut dengan Langit. Dia takut laki-laki itu akan mengacaukan pernikahannya yang sudah siap sedia. Karena Rossi curiga kalau langit benar-benar memegang kartunya dan bisa menyebarkan kartu itu sewaktu-waktu.
Tring … handphonenya bergetar dan berdering saat itu. Langit membukanya, dan mendapati Siti mengirim sebuah video diikuti dengan sebuah pesan.
[Mas Langit, ini video percakapan antara Mas Jordan dan mbak Rossi. Mas, tolong jangan sampai rekaman ini keluar ke mana-mana ya? Aku berfikir semalaman untuk mengirimkan ini ke Mas Langit atau tidak. Karena menurutku ini terlalu pribadi. Kalau sampai rekaman ini keluar kemana-mana dan Mas Jordan tahu, pasti saya langsung dipecat, Mas. Aku masih membutuhkan pekerjaan ini, Mas. Tolong jaga video ini ya Mas]
Langit tersenyum. Kenapa Siti sampai takut mengirimkan video itu? Apakah memang seprivate itu. itu artinya video itu benar-benar amat sangat penting. Langit tidak mau menunggu lama, dia segera membuka Video itu.
dalam video yang berdurasi lebih dari 1 menit itu, hanya terlihat kepala Jordan dan Rossi dari belakang yang saat itu sedang duduk di sofa. Nggak apa-apa cuma terlihat kepalanya saja. Dari situ pun sudah jelas kalau itu mereka berdua. Dari suaranya pun, orang juga sudah tahu kalau itu mereka berdua.
"Besok aku benar-benar akan menikah dengan Beno. Aku benar-benar akan menjadi istri orang," ucap Rossi dengan nada sedih. Entah nada sedih yang sesungguhnya atau hanya pura-pura. tak ada yang tahu. Karena makhluk itu memang makhluk kamuflase.
"Hei, itu hanya pernikahan diatas kertas saja. Kau memang menikah dengannya, tetapi aku tahu hatimu masih untukku dan hatiku hanya untukmu juga. Dia hanya memiliki ragamu, aku tak masalah. Karena memang ini kan rencana kita. Kamu menikah dengannya, dan kamu keruk hartanya. Kamu kuasai perusahaannya. Kamu sudah berhasil membuat wijaya Advertising kehilangan pamornya gara-gara materi yang dipakai oleh Zoyyas kemarin, aku yakin kamu bisa lagi melakukan yang lebih dari itu. Kalau kamu menjadi istrinya, tentu semuanya akan lebih mudah. Kau sudah hampir mencapai finish, Sayangku. Sebentar lagi kita akan memenangkan usaha kita selama ini.'
"Iya sih. Sebenarnya aku puas sudah melakukan itu. Bagaimana bisa Beno sebodoh itu. Aku bisa mengakses laptopnya kapan pun yang aku mau. Jadi materi apapun bisa aku copy dan aku paste. Aku bisa melakukannya lagi, tentu saja. Itu benar-benar pekerjaan yang sangat mudah. Apa lagi setelah akan menjadi istrinya nanti, akan sangat gampang untuk mengambil materi yang sudah siap di laptop Beno. Kamu tenang aja ya? Niat kamu untuk menghancurkan bisnisnya pasti akan tercapai. Ya, meskipun aku tidak tahu motif kamu menghancurkan Beno itu apa, Tapi aku akan selalu mendukungmu. Because I Love you so much, Honey. I do it all for you."
Terdengar suara manja Rossi sambil menempelkan kepalanya di bahu Jordan. Hal itu benar-benar membuat jantung Langit rasanya mau loncat. Fakta itu, benar-benar tak terduga olehnya. Langit dan Rossi? Mereka benar-benar pasangan yang licik.
"Kamu benar-benar bisa diandalkan. I am proud of you. So, I love you more, Sayang."
Lalu, mereka saling berhadapan yang membuat wajah Mereka tampak lebih jelas di kamera handphone siti. Meskipun bukan handphone yang mahal, tetapi masih cukup jelas untuk merekam aksi mereka berdua.
Setelah itu, tampak mereka berdua saling menempelkan bibir. Mereka larut dalam sentuhan bibir yang membuat mereka melayang sambil memejamkan matanya. End. Video berakhir di situ. Karena Siti sudah tidak sanggup lagi untuk merekam lebih lama. itu pun Siti merekamnya dengan tangan gemetaran.
kalau bukan karena iming-iming uang dari langit yang cukup besar, pasti Siti tidak akan mau melakukan ini.
Langit membuka mulutnya lebar setelah mengetahui fakta yang terjadi. Ya, video itu benar-benar lengkap. Sangat lengkap seperti apa yang dia mau. Ya Tuhan … akhirnya semua ini benar-benar terkuak dan ternyata Jordan adalah dalang dibalik ini semua. Tapi … yang aneh, Jordan tidak memberitahukan Rossi apa motif dia melakukan ini. Namun, langit sangat yakin bahwa motifnya adalah rasa sakit hatinya kepada Beno, dan itu pasti karena masalah Adis di masa lalu.
Langit tersenyum lebar meskipun di dalam hatinya ada yang bergejolak. Dia masih bingung. Haruskah dia membocorkan itu semua dan akhirnya membuat Adis terbebas dari tuduhan? Dengan konsekuensi, Jordan, sepupunya sendiri akan dipermalukan. Bagaimana nanti dengan orang tua Jordan? Om sama tantenya? Pasti dia ikut malu.
Namun, bukankah mereka juga harus mendapatkan efek jera dari apa yang mereka lakukan selama ini? Ah … video itu semakin membuat Langit tidak bisa memejamkan matanya.
Dia benar-benar gelisah waktu itu. Tidak mungkin dia memberitahukan Beno saat ini karena Rossi benar-benar menjaga Beno dengan ketat bak seorang tawanan. Dia benar-benar tidak ingin rencananya hancur gara-gara Langit. Tapi … Bukan langit kalau tidak selalu punya ide. Ya, dia kepikiran sesuatu. Dia harus membongkarnya. Soal om dan tantenya? Dia bisa membicarakannya baik-baik di belakang nanti.
Sementara di sisi lain, Adis sedang memandang foto Beno dengan air mata yang mengurai. Sama seperti Langit. Dia belum meminjamkan matanya sejak kemarin sore. Rasa kantuk seakan dicabut dari dirinya.
Dia sudah sekuat tenaga menguatkan hatinya. Dia sudah sekuat tenaga mencoba untuk ikhlas, membiarkan Beno melangkah sesuai dengan hati nuraninya. Mungkin, laki-laki itu memang bukan yang terbaik untuk dirinya. Karena seperti yang dia tahu, Allah selalu memberikan jodoh yang terbaik untuk kita. Jika dia bukan untuk kita, berarti dia bukan yang terbaik.
Kalimat itu selalu didengungkan di dalam hati supaya dia sadar dan sabar. Dia terus meyakinkan dirinya sendiri, Suatu saat nanti akan ada sosok yang mampu menggeser tempat Beno di hatinya, dan bisa jadi rasa itu akan lebih spesial nanti.
Adis mengusap air matanya, Entah untuk yang keberapa kali. Bisa jadi untuk yang ke ratusan kali. Karena air mata itu mengalir sejak kemarin sore.
Saat itu, terdengar suara handphone berdering. Langit. Ya, langit yang menelponnya. Adis segera mengangkatnya karena saat ini memang langit lah yang dia butuhkan.
"Halo, Tom? Tumben banget jam segini udah bangun dan gercep banget angkat teleponnya."
Adis tidak menjawab apa-apa. Tangisnya pecah. Hanya mendengar suara langit saja tangisnya sudah pecah dan tidak bisa dia tahan. Dia ingin cerita banyak. Dia ingin bicara banyak sama laki-laki itu untuk meluapkan apa apa yang membuat dadanya sesak. Dia ingin cerita banyak hal. Namun, ternyata dia belum kuasa untuk menceritakannya.
Terkadang, jika kita bertemu dengan orang yang tepat dan membuat kita nyaman, kita akan menangis sejadi-jadinya di hadapannya meskipun kita belum mengucap apa-apa.
Adis memang tidak mengucapkan apa-apa, tetapi bagi langit, tangis itu sudah menceritakan semuanya. Tangis itu sudah bisa mewakili perasaan hati saat ini yang langit mampu menterjemahkannya.