Woilah. Laki-laki itu memang pandai membuat Adis baper. Apalagi di saat-saat seperti ini. Sungguh. Langit benar-benar tidak sopan bagi hati Adis saat ini.
"Please jangan bercanda lagi langit."
Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Adis. Dia sedang dilanda baper akut. Apalagi setelah rambutnya dielus.
"Siapa yang bercanda sih?"
"Udah, aku nggak mau denger."
Adis menutup telinganya dengan kedua tangan dengan bibir mengerucut. Langit seketika tertawa. Sungguh, dia selalu gemes saat melihat Adis yang mengerucutkan bibir mungilnya. Rasanya ingin segera menempelkan bibirnya ke bibir mungil itu.
Tapi tunggu, sabar, harus nunggu halal. Kalau dia suka sama seorang wanita, dia harus menjaganya. Seperti dia yang selama ini selalu menjaga Adis.
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di danau. Tepat pukul 5 pagi, mereka berdua duduk di tepi danau sambil memandang hamparan air yang luas.
"Sudah sampai di sini nih. Terus kamu mau ngapain? Mau nyebur?"
"Cuma duduk di sini dong Aku udah bahagia, Langit. Kau keren. Mau menemaniku pagi buta begini. Kalau nyebur, kamu aja. Buaya emang suka di danau kan?"
"Enak aja. Kalau aku buaya, kamu dagingnya. Karena hanya kamu yang mau aku santap. Nggak mau yang lain."
"Ha ha ha lucu."
Adis tidak tertawa. hanya mengejeknya saja dengan mengeja kata ha ha ha. lanjut selalu begitu, bercanda tetapi melibatkan hati. Kesel sekali Adis.
"Tertawalah! Aku dari tadi nunggu tawa kamu loh."
Adis tersenyum. Dia tahu banget usaha Langit. Dia benar-benar orang terbaik yang ada di dalam hidupnya sekarang.
"Kalau ada nominasi orang terbaik dihidupku, pasti kaulah pemenangnya, Langit. Kenapa kau baik sekali padaku? kau bela-belain menghampiri aku padahal masih subuh."
"Aku tahu perasaan kamu sekarang seperti apa, jadi sudah sewajarnya Aku melakukan ini untuk sahabatku. Memang seperti itu kan gunanya sahabat?"
Adis tertawa kecil. Sahabat? Benarkah langit hanya menganggapnya sebagai sahabat? Adis pun bertanya-tanya, pernahkah laki-laki yang ada di sampingnya itu merasakan gemuruh di d**a saat mereka saling bertatap? Seperti apa yang biasanya dia rasakan
"Thank you."
"Tom, aku ada pertanyaan untuk kamu."
"Apa?"
"Kalau misalnya Beno gagal menikah dengan Rossi, apakah kamu akan kembali padanya?"
Langit memandang Adis, berusaha untuk mencari jawaban di sana. Di mata Adis yang selalu bisa memancarkan apa yang dirasakan.
"Jangan berbicara hal seperti itu, Langit. Ucapan adalah doa. Bicara yang baik-baik."
"Aku tanya serius. Pernikahan mereka hanya rencana kan sampai detik ini? Dan rencana itu bisa gagal sewaktu-waktu. Kalau pernikahan mereka gagal, apakah kamu masih mau kembali sama Beno? ini hanya perumpamaan saja."
"Aku nggak tahu."
Jawaban Adis seketika membuat Langit lemas. Aku tidak tahu. Itu berarti masih ada harapan di hati Adis. Kalau dia sudah tidak ada harapan lagi sama Beno, pasti dia akan berkata dengan tegas untuk tidak akan kembali kepada Beno apapun yang terjadi. Jika jawabannya masih seperti itu, berarti adis masih ada harapan untuk Beno, dan itu sangat menyakitkan bagi langit.
"Oke. Aku tahu jawaban kamu."
Raut muka langit seketika berubah. Dia selalu berusaha untuk membuat dirinya sendiri menjadi orang yang tulus. Menyayangi adis dengan tulus tanpa mengharapkan timbal balik. Seharusnya dia tidak bersedih jika di hati adis masih ada Beno. Memang seperti itu dari dulu? sejak pertama kali dia kenal dengan Adis, keadaannya memang seperti itu.
"Kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba murung?"
"Nggak apa-apa."
"Kamu nggak mungkin nggak apa-apa. Tadi kamu masih baik-baik aja dan sumringah. Kenapa tiba-tiba kesel dan murung begitu."
"Nggak apa-apa, Dis. Sudah kubilang nggak apa-apa."
"Kamu kesel ya sama aku?"
"Iya aku kesel. Sangat sangat sangat kesal sama kamu. Bagaimana bisa kamu masih berharap sama Beno padahal kamu sudah di fitnah dan disakiti berkali-kali. Kenapa hati kamu begitu bebal? Dia sudah menyakitimu. Kalau pernikahan mereka gagal, kamu masih mau kembali kepadanya kan? Jawaban kamu mengisyaratkan begitu. Kalau udah disakiti, sudah. Berhenti. Jangan terus mengejar."
Entah kenapa, tiba-tiba kali ini dia tidak bisa menahan emosinya. Dia memandang Adis dengan tatapan yang tajam. Suaranya sedikit meninggi. Tidak pernah dia bersikap seperti itu pada Adis sebelumnya.
Tentu saja Adis gemetar saat itu. Ini pertama kalinya dia dibentak oleh Langit.
Tiba-tiba Adis diam. Menunduk dengan mata berkaca-kaca. Entah kenapa, dibentak Langit itu lebih menyakitkan dari apapun.
langit langsung membuang nafas kasar saat melihat raut muka Adis. dia yang membuat adis sedih, tapi dia sendiri juga tidak tega. Dasar!
"Iya iya … Sorry sorry. Aku nggak bermaksud membentak kamu, Tom. Aku cuma emosi sesaat aja tadi. Maaf ya? udah jangan berkaca-kaca begitu matanya."
Tuh kan? Dia khawatir sendiri saat tiba-tiba Adis diam dan berkaca-kaca. Dia berusaha untuk menepuk pundaknya, tetapi Adis mengibaskannya. Masih kesal dengan bentakan itu. Apakah dia tidak tahu kalau wanita di bentak 1 detik saja kesalnya bisa seharian?
"Sorry. Aku cuma kesel aja kalau kamu masih berharap sama dia. Aku mau yang terbaik buat kamu dan tidak mau kamu tersakiti. Itu aja Tom."
"Tapi kamu bisa kan bilangnya pelan-pelan aja nggak usah bentak-bentak. Aku tidak suka dibentak, Langit. Cukup Beno yang suka membentakku sekarang. Kamu jangan ikut-ikutan."
"Iya, iya. Maaf. Janji nggak bakal gitu lagi. Ayo baikan!" Langit melengkungkan kelingkingnya di depan Adis. Sebagai tanda Jika dia mau berjanji.
"Hmmm … "
"Dimaafin?"
"Hmmm … Asal jangan gitu lagi."
"Iya. Sini jarinya. Kita baikan kan?"
"Baikan sih baikan. Tidak harus seperti anak TK gitu juga kan?"
"Udah ikuti aja."
Adis mencebik, lalu ikut mengeluarkan kelingkingnya dan mengaitkan kelingking mulusnya ke kelingking langit.
"Nah, gitu dong. Maafkan aku yang suka emosi ya?"
"Maafin aku juga yang suka baperan ya?"
Adis ikut meminta maaf. Meskipun dia sama sekali tak salah. Mereka berdua sama-sama tersenyum, melupakan kesalahan kecil yang baru saja terjadi.
Langit lega, tapi juga kepikiran. Sebentar lagi dia akan membongkar semuanya. Kalau semua terbongkar, otomatis pernikahan mereka akan gagal. Kalau gagal, dia takut kehilangan Adis. Dia takut Beno menyesal dan kembali mengejar cinta Adis.
Laki-laki itu mencoba untuk menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ya, bismillah. Dia tidak boleh memikirkan itu dulu. Yang terpenting baginya saat ini, dia bongkar semua kebusukan Rossi. Dia kembalikan nama baik Adis.
Soal ke depannya akan seperti apa, lebih baik diserahkan pada Tuhan. Ya, seperti itu pasti akan lebih baik.
"Langit, antarkan aku ke salon ya?"
"Oke."
"Seperti apa yang kamu bilang, aku harus tampil secantik mungkin. Supaya dia menyesal sudah meninggalkan aku. Ya kan? Lagian perempuan cantik seperti Cinderella begini disia-siakan. Pasti menyesal tujuh turunan dia."
Langit tertawa kecil. Dia bahagia Adis mulai ngebanyol. Itu artinya hatinya sudah baik-baik saja sekarang. Meskipun matanya masih basah. Tapi disini dia lebih tenang, tidak lagi terus-terusan mengalirkan air mata seperti waktu berada di kos tadi.
Ya, kadang sesimpel itu. Kehadiran seorang sahabat, memang tidak bisa langsung menghapus rasa sakit, tetapi paling tidak mampu menghentikan tangis kita sementara waktu.
"Tentu saja, dia pasti akan menyesal."
"Semoga di sana nanti aku akan bertemu dengan pangeran."
"Pangerannya sudah ada di sini, Tom. Ngapain mau cari pangeran lagi?"
"Ish, kebiasaan deh langit. Jangan kayak gitu. Lama-lama aku bisa baper beneran nih."
"Memangnya kenapa kalau kamu baper?"
"Bisa-bisanya kamu tanya kenapa. Jangan suka baperin anak orang terus ditinggal. Dosa Dut!"
"Aku kan udah janji nggak akan ninggalin kamu."
"Udah ah nggak mau denger. Kebiasaan banget makhluk ini." Adis segera menutup telinganya dengan kedua telapak tangan.
"Beneran nggak mau denger?"
"Pokoknya aku nggak denger apapun." Adis memejamkan matanya masih sambil menutup telinga dengan kedua telapak tangan. Benar-benar menggemaskan ketika Adis bersikap seperti itu.
"I love you."
Deg deg deg deg deg deg …
Detak jantung Adis benar-benar tidak bisa dikontrol. Berdetak dengan sangat kencang. Pelan-pelan, Adis menurunkan kedua tangannya lalu menoleh ke arah langit yang ternyata saat itu juga sedang menatapnya.
"Kamu bilang apa?"