Bramantyo pradinata seorang CEO sekaligus pemilik sebuah perusahan yang sudah sangat terkenal di kalangan pebisnis di dalam maupun di luar negeri, dedikasinya yang penuh pada perusahaan telah membuat perkembangan yang sangat pesat dan sudah lebih dari satu cabang perusahaan yang di bangunnya dan berada di beberapa kota.
Saat perjalanan ke kantor aku masih saja merenungkan apa yang mayang katakan pagi ini,menopang dagu dan menatap ke luar jendela melihat padatnya lalu lalang kendaraan.
"Ku hempuskan nafas dengan kasar rasanya sesak d**a ini jika mengingatnya tapi benar kata mayang ada yang janggal,bodohnya aku baru menyadarinya aku akan menyelidikinya sendiri atau apa aku butuh bantuan orang lain." bergumam sendiri dengan memandangi salah satu kontak yang ada di layar pipih ini.
Sepertinya kali ini aku sangat butuh bantuannya,karena aku yakin dia tak akan menghianatiku,ku putuskan untuk menelfon nya.
"Halo,brother apa kabarnya,ku kira kau sudah melupakan sahabat kecilmu ini bram.!
Ku jauhkan layar pipih ini dari telingaku rasanya akan pecah gendang telinga ini,saat sapaan darinya.sepertinya aku memang sudah sangat lama tidak bertukar kabar dengan nya.
"Halo juga brother maafkan aku ya jika lama tak bertukar kabar denganmu,apa hari ini kamu sedang sibuk kawan kecilku.?tanyaku langsung to the point
"Bram,apa ada masalah?tanyanya pada bram.
Ku hembuskan nafas perlahan,dia selalu tau jika aku dalam masalah.
"Win,aku sedang butuh bantuanmu apa kamu bersedia membantuku.?
"Jika aku bisa aku sangat senang membantumu,bram katakan saja atau kau ingin bertemu denganku jika iya aku akan terbang ke Indonesia sekarang juga." aku tau bram dalam masalah apa mungkin dia sudah menyadari kejanggalan dari semua peristiwa naas yang menimpanya berkali kali,ya semoga saja dia menghubungiku karna hal itu.
"Apa aku tidak mengganggu pekerjaan dan waktumu Win,sungguh aku tak ingin menganggumu jika kau sedang sibuk.?"
"Kau tak pernah mengganggu waktuku bahkan aku selalu punya banyak waktu untukmu,tenang lah tunggu aku disana ya,kalau bisa jemputlah aku di bandara dan pesankan pada mayang untuk membuatkan aku kue kesukaanku ya." Dengan tertawa aku menggoda nya agar raut tegang itu hilang dari wajahnya.
"Kabari jika sudah mendarat ya, untuk kue mu aku tak dapat janji."
Jawabku karena aku tak mau mengganggu waktu istirahat mayang.
Tok..tok...
Ku dengar suara ketukan pintu dari luar,segera ku matikan telfon ini.
"Erwin,terima kasih ya kamu mau datang jauh jauh kemari,setelah sampai bandara segera hubungi aku ya."
"Oke bro sampai ketemu nanti."
"Masuk",perintahku dari dalam.
"Permisi pak,meeting akan segera di mulai semua tamu sudah berkumpul di ruang meeting pak,dan ini dokumen yang sudah saya siapkan untuk meeting kali ini pak."
"Iya terima kasih baiklah silahkan keluar terlebih dulu,saya akan membaca ulang dokumen ini."
Perintahku pada nindi seketarisku.
Akhinya meeting selesai dengan hasil yang memuaskan ku lihat pada pergelangan tanganku jam sudah menujukan pukul 11 siang sebentar lagi waktunya makan siang.
"Alhamdulillah ya kita memenangkan proyek ini semoga kita semua bisa memberikan yang terbaik untuk klien kita nantinya."Sapaku pada semua karyawan yang telah membantuku dan sesuai dengan nazarku jika memenangkan proyek ini akan memberikan bonus pada beberapa karyawan yang ikut andil dalam proyek ini.
"Oia,ada kabar lain juga yang pastinya akan membuat kalian semua senang."
Dengan senyum ku katakan itu pada mereka dan serempak mereka menjawab.
"Kabar apa pak??"
meraka saling pandang dengan tatapan bingung.
Senyum ku lengkungkan di bibir ini.
"Sesuai nazar saya pribadi maka kalian yang tergabung dalam proyek ini akan mendapat bonus dari saya,semoga bonus itu bisa bermanfaat untuk keluarga kalian dan menambah kinerja kalian juga."Jelasku dan ku lihat senyum merekah pada wajah semuanya.
"Alhamdulillah terima kasih pak bram kami akan berusaha dengan baik untuk proyek ini."ucap salah satu karyawan dan di angguki oleh yang lainnya.
"Ya terima kasih,saya pamit keluar dulu ya."
Drttt...drtt...drttt...
Suara ponsel mengagetkan ku yang tengah merenung menatap keluar jendela,ku lihat nama Erwin yang tertera dalam layar.
"Ya ampun hampir saja aku lupa,mungkin kah dia sudah sampai cepat sekali si Erwin, iya halo win apa kamu sudah mendarat."sapaku saat telfonnya ku angkat.
"Cepatlah menjemputku,sebelum aku jamuran menunggumu disini."
Dengan berjalan tergesah menuju parkiran, "Oke siap aku meluncur kesana."
Untung jalanan sedang tidak macet jadi aku cepat sampai di bandara mencari sosok yang sudah lama aku rindukan teman kecilku yang selalu banyak omong itu.saat mata menemukan sosok yang aku cari tangan ini langsung melambai dan berlari kecil menghampirinya.
"Bram,mimpi apa aku semalam akhirnya kita bertemu juga aku sangat merindukanmu kawan."sapaku sambil memeluk teman kecilku itu.
"Maafkan aku karna sedikit terlambat untuk menjemputmu,ternyata kau masih saja ya tidak ada perubahan sama sekali dalam dirimu."Menilisik Erwin dari atas sampai kaki lalu kita tertawa bersama.
Sesampainya di mobil aku langsung mengantar Erwin ke rumahku,sesaat suasana hening tercipta karena aku melihat Erwin sedang sibuk dengan ponselnya hingga dia mengatakan sesuatu yang membuat aku kaget.
"Apa kau memanggilku karena sudah menyadari semua kejanggalan,bram teman kecilku."ku alihkan pandangan menatap bram yang tengah mengemudi itu,kini dia menatapku dengan penuh tanya.
"Kau,apa kau sudah tau apa memang kau baru tau.??"
Tanyaku pada Erwin karena aku sangat kaget dengan apa yang dia katakan,apa hanya aku yang baru saja menyadari semua ini.
"Fokuslah pada jalan,aku akan jelaskan jika sudah sampai di rumahmu,apa Mayang tau jika kau menghubungiku.?"
"Mayang tau karena tadi aku sudah mengabarinya,dia minta maaf karena tidak bisa membuatkan makanan kesukaanmu."senyumku pada Erwin.
Tak lama mobil ini sudah masuk ke halaman rumah ku parkirkan mobil ini dan mengajak Erwin untuk masuk kedalam,ku lihat di depan pintu sudah ada Mayang yang menyambut kedatangan kami.
"Hai,Erwin senang sekali aku bertemu denganmu sekarang,nampaknya tidak ada yang berubah dari dirimu ya."
Ku telisik Erwin dari atas sampai bawah dengan senyum ku ulurkan tangan ini.
Ku cebik kan bibir ini saat kata yang sama keluar dari mulut suami istri ini ya memang aku bukanlah cowok macco dengan badan tinggi,tapi aku masih terlihat gagah dengan tinggiku ini ya walau masih tinggian si Bram.
"Kau dan suamimu itu sama saja, apa kalian mengharap tinggiku ini bertambah kawan."
Ah rupanya aku sudah membuat jengkel tamuku ini,ku rangkul pundaknya dan berjalan masuk ke dalam rumah menuju ruang keluarga.
"Sudahlah jangan ngambek maafkan kami jika salah bicara."
Sesalku pada Erwin saat kami sudah duduk di sofa.
Kami duduk bertiga dan mulai membahas soal ke janggalan yang aku rasakan itu dan ternyata Erwin sudah menyadari itu semua sebelum aku dan Mayang.
"Lalu apa yang ingin kau lakukan selanjutnya,apa kau akan membiarkan mereka bernafas lega di atas tangisan anak anak kalian yang lenyap di tangan mereka begitu saja,bahkan anak kalian belum terlahir ke dunia."
"Maka dari itu aku memanggilmu karena aku tau kau paling ahli dalam masalah mengintai bukan."
"Bantulah kami Erwin."
Suara Mayang terdengar begitu sedih saat meminta bantuan pada Erwin.
"Kau tau kini aku sedang mengandung dan aku yakin anak ini seorang bayi laki laki aku tak mau bayi ini seperti kakak kakaknya yang meninggal saat masih dalam kandungan,aku tak mau itu terjadi lagi Erwin sungguh sakit rasanya hati ini jika harus kehilangan calon anakku lagi."
Air mata sudah memenuhi pipi ini,tangan ini pun setia mengelus perut yang masih ramping ini.
"Apa,kamu hamil.??"
Sontak aku kaget mendengarnya,ku tatap secara bergantian sepasang suami istri ini ternyata Tuhan menyayangi mereka.tapi keserakahan akan tahta dan harta telah membutakan hati keluarga Bram aku pun tak ingin melihat mereka bersedih lagi.
"Iya Win,Mayang hamil tapi entah apa yang di pikirkan Mayang hingga dia meminta aku menyembunyikan kabar ini."ku jelaskan semuanya pada Erwin dengan lesu.
Ku tepuk pelan pundak sahabatku ini aku merasakan beban berat dalam dirinya, Bram seorang yang sangat baik sejak dulu hanya saja menjadi pewaris tunggal dari orang tuanya ternyata sangat membuat hidupnya di landa kesedihan.
"Tenang bro,mari kita pikirkan jalan keluarnya,menurutku Mayang benar dengan menyembunyikan kehamilannya pada semua keluarga kalian,ya anggap saja akan jadi sebuah surpise gitu."
"Kau ingin aku menyelediki pamanmu Bram.?"
Setelah meneguk minuman yanh tersaji di meja aku lanjut bertanya pada Bram.
Aku sangat bimbang dan bingung apa iya paman ku sendiri tega melakukan itu padaku,tapi aku sangat percaya pada Mayang istriku dia tak akan mungkin membohongiku,baiklah tidak ada salahnya ke selidiki paman dan mengumpulkan semua bukti bukti itu.
"Silahkan selidiki paman beserta keluarganya,jika memang dia sanggup melakukan itu padaku maka aku pun sanggup membalasnya."
Kataku dengan menatap dalam manik istriku dan menggenggam erat tangan yang sudah mulai dingin itu.
"Baiklah,tapi tolong adegan romantisnya jangan di depanku dong apa kalian lupa jika aku jomblo ngenes."ucapku jujur pada mereka."
"Apa...? kami saling tatap mendengar pengakuan Erwin kemudian tertawa dengan kencang.
"Ya puaskan lah kalian berdua tertawa."
Ku denguskan nafas kasar ke arah mereka dan memakan cemilan ini dari pada mendengar mereka tertawa.
Matahari sudah berubah menjadi bulan, ku tawarkan agar Erwin menginap di rumah ini saja dari pada di hotel,rumah ini cukup luas dan ada beberapa kamar tamu yang kosong,ku istirahatkan tubuh ini dalam pambaringan ku lihat istriku sudah terlelap dalam mimpi semoga mimpi indah sayang,ku kecup kening itu dengan dalam dan mata ini ke pejamkan untuk menyusul mimpi indah yang sama.