Tiga hari sudah bayi malang itu berada di dalam gua yang menjadi tempat tinggal Nyi Rontek. Tiga hari pula sang pertapa wanita merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sepanjang ratusan tahun usianya. Rasa cemas.
Selama ini Nyi Rontek terbiasa dengan sunyi. Terbiasa dengan dinginnya batu gua, dengan suara air Segara Lintang yang berdebur membentur karang, dan dengan langkah kaki Mindu yang berjaga di mulut gua. Ia tidak pernah merasa kekurangan apa pun. Namun sejak bayi laki-laki itu ia baringkan di atas batu singgasananya, kesunyian yang selama ini menjadi sahabatnya berubah menjadi sesuatu yang menakutkan. Karena setiap kali bayi itu diam terlalu lama, Nyi Rontek justru bergegas memeriksanya, khawatir kalau napas mungil itu sudah berhenti.
“Menangislah, Ngger! Menangis itu tandanya kau masih ingin hidup,” gumam Nyi Rontek sembari menimang bayi yang wajahnya mulai terlihat pucat.
Nyi Rontek sudah mencoba segala cara. Ia menetesi bibir mungil bayi itu dengan air kelapa muda yang ia ambil dari pohon di tepi alas. Ia mencampur air hangat dengan madu hutan lalu meneteskannya perlahan menggunakan ujung daun yang ia bentuk menyerupai corong. Ia bahkan menumbuk beras merah hingga halus, memasaknya menjadi bubur yang sangat encer, lalu menyuapkannya sedikit demi sedikit. Bayi itu memang mau menelannya. Tetapi setelah itu, tangisnya kembali pecah. Tangis yang berbeda. Bukan tangis manja, melainkan tangis yang menuntut sesuatu yang tidak bisa Nyi Rontek berikan.
“Aku bisa menahan lapar selama empat puluh hari empat puluh malam. Aku bisa berdiri di atas air. Aku bisa membaca arah angin dan tahu hujan akan turun tiga hari lagi. Tetapi aku tidak bisa memberimu setetes pun air susu,” ucap Nyi Rontek dengan suara yang bergetar.
Mindu mendekat. Harimau putih itu menempelkan kepalanya ke lengan Nyi Rontek, seolah ikut merasakan kegelisahan majikannya. Nyi Rontek mengelus kepala Mindu dan mengembuskan napas panjang.
“Mindu, kau pun tidak bisa menolongnya dalam hal ini. Bayi manusia hanya bisa hidup dari air susu manusia. Kalau aku memaksakan bubur dan madu terus-menerus, perutnya akan sakit dan dia akan mati perlahan-lahan di tanganku sendiri.”
‘Duh Gusti ... Engkau yang menghanyutkan bayi ini ke arahku, tentu Engkau pula yang sudah menyiapkan jalannya. Tunjukkanlah jalan itu kepada hamba, sebelum bayi ini kehabisan tenaga,’ batin Nyi Rontek sembari menengadahkan wajahnya ke arah celah di langit-langit gua, tempat cahaya bulan menerobos masuk.
***
Malam itu Nyi Rontek mengambil sebuah keputusan. Ia harus mencari seorang perempuan yang baru saja melahirkan. Seorang ibu susu.
Namun keputusan itu memunculkan persoalan baru yang tidak kalah rumitnya. Desa terdekat dari alas Nggaranggati adalah desa Kuncen. Jaraknya harus ditempuh dengan berjalan kaki menyusuri punggung bukit, menyeberangi dua anak sungai, lalu keluar dari rimbunnya pepohonan jati. Bagi Nyi Rontek, jarak seperti itu bukan perkara berat. Yang berat justru dirinya sendiri.
Nyi Rontek sadar betul bagaimana rupanya di mata orang lain. Rambutnya panjang menjuntai hingga ke pinggang, sebagian sudah memutih dan sebagian lagi tetap hitam pekat. Kulitnya kusam terpanggang usia yang tidak masuk akal. Matanya sehitam obsidian, tajam, dan jarang sekali berkedip. Kalau ia masuk ke desa Kuncen di siang bolong, penduduk akan lari berhamburan sembari berteriak memanggil sesama. Bukan pertolongan yang akan ia dapatkan, melainkan kentung bambu yang dipukul bertalu-talu dan obor yang diarahkan ke tubuhnya.
“Kalau aku menampakkan diri di desa itu, mereka akan menganggapku siluman. Bukannya mendapatkan ibu susu, aku justru akan membuat gaduh satu desa. Sedangkan aku tidak boleh membuat gaduh. Semakin banyak orang tahu ada bayi di alas ini, semakin besar pula kemungkinan orang-orang yang membuang bayi ini mengetahui bahwa dia masih hidup,” gumam Nyi Rontek.
Nyi Rontek termenung cukup lama. Ia menyadari satu hal, bahwa dirinya membutuhkan tangan manusia lain. Tangan yang bisa keluar masuk desa tanpa dicurigai. Kaki yang bisa bolak-balik ke pasar tanpa ditanya-tanya. Mulut yang bisa bertanya kepada penduduk siapa saja perempuan yang belum lama melahirkan, tanpa membuat orang terkejut.
“Aku butuh seorang manusia. Bukan yang pandai, bukan pula yang gagah. Aku butuh yang polos, penakut, dan mudah aku genggam hatinya,” ucap Nyi Rontek. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Sebuah rencana mulai tersusun rapi di dalam kepalanya.
“Mindu! Malam ini aku akan pergi ke arah perbatasan. Jaga bayi ini! Jangan sampai ada seekor pun binatang yang mendekat ke mulut gua! Jika dia menangis, jilatlah punggung tangannya perlahan, biar dia merasa ada yang menemaninya! Aku akan kembali sebelum ayam hutan berkokok!” perintah Nyi Rontek.
Mindu mengaum pelan lalu membaringkan tubuhnya melingkari batu tempat bayi itu ditidurkan. Nyi Rontek menetesi bibir sang bayi dengan air madu untuk yang terakhir kalinya malam itu, lalu mengecup keningnya.
“Bertahanlah, Ngger! Ibu akan mencarikanmu air susu. Apa pun caranya.”
***
Nyi Rontek melesat menembus gelapnya alas Nggaranggati. Tubuhnya seolah tidak menyentuh tanah. Daun-daun kering yang berserakan pun tidak berbunyi ketika ia lewat. Ilmu meringankan tubuh yang ia tekuni selama ratusan tahun membuat perjalanan yang seharusnya ditempuh setengah malam, dapat ia selesaikan hanya dalam waktu yang sangat singkat.
Kabut turun tipis di antara batang-batang jati. Suara jangkrik bersahutan dengan suara burung hantu yang bertengger entah di dahan yang mana. Angin malam berembus membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Namun bagi Nyi Rontek, hawa seperti itu justru menenangkan.
Langkah Nyi Rontek terhenti di sebuah tanah lapang yang menjadi batas antara alas Nggaranggati dengan ladang-ladang penduduk desa Kuncen. Di tanah lapang itu berdiri sebatang pohon randu yang sangat besar. Batangnya berduri, dahannya menjulang dan melebar bagai payung raksasa yang menaungi tanah di bawahnya. Pohon randu itu sudah berdiri di sana jauh sebelum desa Kuncen memiliki nama.
Nyi Rontek melompat ringan dan hinggap di salah satu dahan yang paling besar. Ia duduk bersila di sana, memejamkan mata, lalu mengatur napasnya.
‘Duh Gusti, Sang Hyang Widhi. Hamba tidak meminta harta, tidak pula meminta umur. Hamba hanya meminta satu orang manusia. Satu saja. Kirimkanlah dia lewat jalan ini, agar bayi yang Engkau titipkan kepada hamba tidak mati kelaparan di tangan seorang pertapa yang tidak berguna,’ batin Nyi Rontek.
Semadi itu berlangsung lama. Bulan bergeser dari puncak langit ke arah barat. Embun mulai turun membasahi dedaunan. Sampai akhirnya, telinga Nyi Rontek yang tetap awas walau raganya diam, menangkap suara langkah kaki yang menginjak rumput kering.
Krosak ... krosak ....
Seberkas cahaya obor bergoyang-goyang mendekat dari arah ladang. Cahaya itu berhenti tepat di bawah pohon randu.
***
Pemuda itu bernama Parmin. Usianya belum genap dua puluh lima tahun. Tubuhnya kurus, kulitnya legam terbakar matahari, dan pakaiannya hanya kain lusuh yang diikatkan di pinggang. Ia adalah anak seorang janda miskin dari ujung desa Kuncen. Pekerjaannya serabutan. Kalau musim panen tiba, ia menjadi buruh ani-ani. Kalau bukan musim panen, ia mencari madu tawon, mengumpulkan kayu bakar, atau menyadap nira untuk dijual di Pasar Kuncen.
Malam itu Parmin memang sengaja keluar rumah. Sore harinya ia melihat gerombolan tawon hutan beterbangan mengitari dahan pohon randu besar itu. Menurut orang-orang tua di desanya, sarang tawon paling aman diambil pada malam hari, ketika tawon-tawon itu tidak seganas siang hari.
“Rejeki, rejeki .... Kalau sarangnya besar, bisa untuk makan Emak sebulan,” gumam Parmin sembari menancapkan obornya di tanah.
Parmin mendongak. Ia mengamati dahan-dahan yang menghitam tertutup gelap. Lalu, seperti kebiasaan orang-orang di kampungnya, sebelum memanjat pohon besar ia berdeham dan mengucapkan permisi seadanya.
“Permisi, sing mbaurekso .... Saya cuma mau mengambil madu. Tidak mau macam-macam,” ucap Parmin asal-asalan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Setelah itu Parmin mengangkat obornya tinggi-tinggi dan mengasapi dahan yang ia curigai menjadi sarang tawon. Asap tebal membubung ke atas. Bukan hanya mengusir tawon, asap itu juga naik menerpa wajah seseorang yang tengah bersila di dahan yang lebih tinggi.
Uhuk!
Nyi Rontek terbatuk. Semadinya buyar seketika. Matanya terbuka. Manik hitamnya berkilat menahan kesal karena diganggu asap obor pemuda di bawah sana.
Namun kekesalan itu hanya bertahan sekejap. Sebab, ketika Nyi Rontek menunduk dan melihat sosok kurus yang tengah kepayahan mengasapi dahan pohon, senyum tipis justru terbit di sudut bibirnya.
‘Ha ... Ha ... Ha ... Sungguh Sang Hyang Widhi memang tidak pernah tidur. Aku meminta satu orang manusia yang polos, dan Dia mengirimkan pemuda yang bahkan berbicara kepada pohon dengan suara gemetar. Inilah orangnya. Tidak perlu aku mencarinya sampai ke tengah desa,’ batin Nyi Rontek.
Nyi Rontek tidak langsung menampakkan diri. Ia ingin melihat lebih dahulu bagaimana watak pemuda itu. Maka ia menggeser tubuhnya perlahan, lalu menjatuhkan sebutir buah randu kering tepat di atas kepala Parmin.
Tuk!
“Aduh!” Parmin memegangi kepalanya sembari mendongak. “Angin apa ini? Tidak ada anginnya, kok ada yang jatuh?”
Nyi Rontek kembali menjatuhkan buah randu. Kali ini dua butir sekaligus.
Tuk! Tuk!
Wajah Parmin berubah pucat. Ia mundur selangkah demi selangkah sembari menatap ke atas. Tangannya gemetar hingga obor yang ia pegang ikut bergoyang, membuat bayangan di tanah menari-nari seperti hidup.
“Si—siapa di atas sana? Kalau manusia, turun! Kalau bukan manusia ... saya mau pulang saja,” ucap Parmin dengan suara yang nyaris tidak keluar dari tenggorokannya.
“Ha ... Ha ... Ha ....”
Suara tawa perempuan tua menggelegar dari atas dahan, memantul ke tanah lapang, lalu hilang ditelan gelapnya alas Nggaranggati. Parmin terlonjak. Obornya jatuh ke tanah dan hampir padam. Kakinya lemas seketika hingga tubuhnya jatuh terduduk.
Dari atas dahan, sesosok perempuan meluncur turun tanpa suara. Kakinya menapak tanah selembut kapas randu yang tertiup angin. Rambut panjangnya yang sebagian memutih berkibar pelan. Cahaya obor yang tergeletak di tanah menyinari wajahnya dari bawah, membuat sosoknya terlihat semakin menyeramkan di mata Parmin.
“Ampuuun! Ampun, Eyang Putri! Saya tidak tahu kalau tempat ini ada yang punya! Saya cuma mau mengambil madu! Saya tidak mencuri apa-apa!” Parmin langsung bersujud, menempelkan dahinya ke tanah, dan mengatupkan kedua telapak tangannya di atas kepala.
“Bangun! Jangan menyembah aku! Aku bukan berhala!” bentak Nyi Rontek.
Parmin mengangkat wajahnya sedikit, lalu buru-buru menunduk lagi ketika matanya bertemu dengan sepasang mata sehitam obsidian yang menatapnya tanpa berkedip.
“Siapa namamu, Anak Muda?” tanya Nyi Rontek dengan suara yang berat.
“Par—Parmin, Eyang. Parmin anaknya Mbok Rasminah, dari ujung desa Kuncen sebelah kidul,” jawab Parmin dengan gigi yang saling beradu.
“Parmin? Nama yang tidak enak didengar,” Nyi Rontek memiringkan kepalanya. “Malam ini malam apa?”
“Ma—malam Jumat Kliwon, Eyang.”
“Ha ... Ha ... Ha ... Bagus! Mulai malam ini aku tidak akan memanggilmu Parmin. Aku akan memanggilmu Kliwon! Supaya kau selalu ingat pada malam ketika kau mengasapi wajah seorang pertapa yang sedang bersemadi!” Nyi Rontek kembali tertawa terbahak-bahak.
“Ber—bersemadi?” Parmin menelan ludahnya susah payah. Baru pada saat itulah ia menyadari kesalahan apa yang telah ia perbuat. Asap obornya. Dahan yang ia asapi. Dan sosok yang duduk di atasnya.
“Ampun, Eyang! Sungguh saya tidak tahu kalau Eyang ada di atas sana! Saya kira itu cuma sarang tawon! Kalau saya tahu ada Eyang, mana berani saya mengasapi! Saya ini orang miskin, Eyang, tidak punya apa-apa selain Emak!” Parmin meratap sembari mengatupkan kedua tangannya di depan wajah.
“Sudah terlanjur, Kliwon! Yang sudah terjadi tidak bisa ditarik kembali. Mengusik ketenangan seorang pertapa itu bukan perkara kecil. Ada tebusannya. Ada hukumannya,” ucap Nyi Rontek dengan nada yang sangat datar. Justru nada datar itulah yang membuat bulu kuduk Parmin berdiri.
“Hu—hukuman?” Parmin mengulang kata itu dengan bibir yang bergetar hebat.
“Benar. Hukuman. Dan aku sendiri yang akan menentukan bentuknya,” Nyi Rontek melangkah setapak lebih dekat. Bayangannya jatuh menutupi tubuh Parmin yang masih terduduk di tanah.
Parmin merasa seluruh darah di tubuhnya seolah berhenti mengalir. Pikirannya melayang ke segala macam cerita yang pernah ia dengar dari orang-orang tua di desanya. Cerita tentang orang yang diambil penunggu hutan dan tidak pernah kembali. Cerita tentang penunggu pohon randu yang meminta tumbal setiap malam Jumat Kliwon. Semua cerita itu berkumpul menjadi satu di dalam kepalanya, lalu berubah menjadi ketakutan yang membuat sekujur tubuhnya semakin gemetaran.
***
Hukuman apa yang akan Nyi Rontek berikan kepada Parmin? Mampukah pemuda itu menjalaninya?
Bersambung ....