Waktu berjalan seperti air Segara Lintang. Tidak pernah berhenti, tidak pernah menoleh ke belakang, dan tidak pernah bisa diminta untuk melambat.
Bayi malang yang dahulu ditemukan mengapung di tepi Segara Lintang itu kini sudah bisa membalikkan badan, lalu merangkak, lalu berdiri sembari berpegangan pada bulu tengkuk Mindu. Harimau putih itu tidak pernah sekali pun menunjukkan taringnya kepada Arsakha. Sebaliknya, Mindu justru merendahkan tubuhnya setiap kali Arsakha kecil ingin berpegangan, seolah paham bahwa yang sedang belajar berdiri itu adalah anak dari majikannya.
“Ha ... Ha ... Ha ... Lihatlah, Kamini! Anak ini menjadikan harimau sebagai tongkat! Sudah aku katakan, dia bukan anak sembarangan!” Nyi Rontek tertawa terbahak-bahak sembari menepuk pahanya sendiri.
“Benar, Nyai. Jaka saja tidak berani sedekat itu dengan Mindu, padahal Jaka lebih dahulu bisa berjalan,” sahut Kamini sembari menyusui bayi laki-lakinya sendiri.
Ya. Kamini kini menyusui dua bayi. Arsakha dan Jaka.
Setahun setelah Kamini menjadi ibu susu bagi Arsakha, luka di hatinya perlahan-lahan mengering. Kliwon yang setiap hari bolak-balik dari desa Kuncen ke alas Nggaranggati, membawa beras, gula kelapa, kain, dan segala keperluan yang dititipkan Nyi Rontek, akhirnya memberanikan diri melamar Kamini. Nyi Rontek sendiri yang mendorong keduanya.
“Kliwon, sampai kapan kau akan berjalan bolak-balik seperti kerbau yang tidak punya kandang? Nikahi saja perempuan itu! Dia butuh sandaran, kau butuh teman. Dan aku butuh kalian berdua tetap berada di dekat anakku!” ucap Nyi Rontek waktu itu.
Kliwon hanya menunduk dengan wajah yang memerah. Namun ia menurut. Ia selalu menurut kepada perempuan yang dahulu ia panggil Eyang, lalu berubah menjadi Nyai, sejak malam Jumat Kliwon di bawah pohon randu itu.
Mereka menikah dengan sangat sederhana di rumah ibunda Kamini, di desa Kuncen. Tidak ada gamelan, tidak ada tarub, tidak ada tamu yang berjubel. Hanya beberapa tetangga dekat, dan seorang perempuan tua yang menutupi kepalanya dengan kain lusuh, duduk di sudut paling gelap, yang tidak seorang pun berani menanyakan siapa dia. Setahun kemudian lahirlah Jaka.
Sejak itu, alas Nggaranggati tidak pernah lagi benar-benar sunyi.
***
Nyi Rontek membesarkan Arsakha dengan cara yang tidak biasa.
Sejak Arsakha bisa berlari, Nyi Rontek sudah membiasakannya bangun sebelum fajar. Bukan untuk bermain, melainkan untuk duduk bersila di mulut gua, menghadap ke arah Segara Lintang, dan diam. Awalnya Arsakha kecil selalu mengeluh.
“Ibu, ini membosankan. Kapan aku boleh bermain dengan Jaka?” rengek Arsakha ketika usianya baru menginjak lima tahun.
“Duduk yang tenang, Ngger! Dengarkan suara ombak itu! Berapa kali dia menghantam karang sampai matahari terbit? Kalau besok pagi kau bisa menjawabnya, kau boleh bermain sepanjang hari,” jawab Nyi Rontek.
Arsakha kecil menuruti perintah itu sembari menggerutu. Ia tidak tahu bahwa yang sedang ibunya latih bukanlah kemampuan menghitung ombak, melainkan kesabaran, ketelitian, dan telinga yang mampu menangkap suara sekecil apa pun. Bertahun-tahun kemudian, telinga yang terlatih itulah yang berkali-kali menyelamatkan nyawanya.
Nyi Rontek juga mengajari Arsakha membaca dan menulis. Di atas batu pipih di dalam gua, sang pertapa menorehkan huruf-huruf Jawa kuno menggunakan arang. Ia mengajarkan hitungan dengan biji-biji sawo. Ia menceritakan nama-nama kerajaan, nama-nama gunung, arah mata angin, dan bagaimana membaca musim dari perilaku burung.
“Untuk apa aku belajar semua ini, Bu? Kita kan tinggal di dalam hutan,” tanya Arsakha ketika usianya sepuluh tahun.
“Karena hutan ini tidak akan menjadi tempat tinggalmu selamanya, Ngger,” jawab Nyi Rontek sembari menatap ke arah mulut gua. “Suatu hari nanti kau akan keluar dari sini. Dan di luar sana, orang yang tidak bisa membaca akan mudah ditipu. Orang yang tidak bisa berhitung akan mudah dirugikan. Orang yang tidak tahu arah akan mudah disesatkan. Ibu tidak ingin kau menjadi orang seperti itu.”
Arsakha kecil mengangguk walau tidak sepenuhnya mengerti. Yang ia tangkap hanya satu, bahwa suatu hari ia akan keluar dari alas Nggaranggati. Dan setiap kali ia mengingat kalimat itu, dadanya berdebar oleh sesuatu yang tidak ia mengerti. Antara penasaran dan takut kehilangan.
***
Ketika Arsakha menginjak usia dua belas tahun, Nyi Rontek mulai menurunkan ilmu kanuragan kepadanya.
Latihan itu dilakukan di sebuah tanah lapang berbatu di bawah tebing, tidak jauh dari tepi Segara Lintang. Tempat yang sama dengan tempat Nyi Rontek dahulu menemukan bayi mengapung di antara buih ombak. Tidak seorang pun tahu bahwa Nyi Rontek sengaja memilih tempat itu.
“Berdiri di atas batu itu! Jangan bergerak sampai ombak ketujuh datang!” perintah Nyi Rontek.
Arsakha berdiri di atas sebongkah batu karang yang licin oleh lumut laut. Ombak pertama menghantam, tubuhnya oleng. Ombak kedua datang, ia terjatuh dan tercebur. Ia naik lagi. Jatuh lagi. Naik lagi. Sampai bibirnya membiru, sampai telapak kakinya berdarah tergores karang.
Kamini yang menyaksikan dari kejauhan tidak tega. Sekali waktu ia memberanikan diri berkata kepada Nyi Rontek.
“Nyai, apa tidak terlalu keras untuk anak sekecil itu?”
“Kamini, dengarkan aku baik-baik,” Nyi Rontek menoleh, dan untuk pertama kalinya Kamini melihat sorot mata itu berubah muram. “Anak itu dibuang oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya. Dia dihanyutkan ke laut ketika usianya belum genap sehari. Artinya, di suatu tempat di luar sana, ada orang yang sampai hari ini masih berharap dia sudah mati. Kalau aku membesarkannya dengan lembut, aku hanya sedang menyiapkan dia untuk dibunuh dua kali.”
Kamini terdiam. Sejak hari itu ia tidak pernah lagi mempertanyakan cara Nyi Rontek mendidik Arsakha. Ia hanya menyiapkan air hangat, ramuan daun, dan sepiring nasi jagung setiap kali Arsakha pulang dengan tubuh penuh lebam.
Kliwon punya cara lain. Setiap pulang dari Pasar Kuncen, ia selalu menyelipkan sesuatu untuk Arsakha dan Jaka. Kadang gula kelapa, kadang tape ketan, kadang hanya sepotong kain untuk ikat kepala.
“Paman, kenapa Paman selalu membelikan kami sesuatu? Bukankah Paman sendiri sering tidak makan siang?” tanya Arsakha ketika usianya lima belas tahun.
“Ah, Paman sudah tua, Ngger. Perut orang tua itu tidak rewel,” Kliwon tertawa sembari menggaruk kepalanya, kebiasaan yang tidak pernah hilang sejak malam di bawah pohon randu. “Lagi pula dahulu Paman ini cuma pencari madu yang penakut. Kalau bukan karena Nyai Rontek menghukum Paman, mungkin sampai sekarang Paman masih tidur di gubuk bocor bersama Emak. Jadi kalau Paman membelikanmu gula kelapa, itu bukan Paman yang baik hati. Itu Paman yang sedang membayar hutang budi.”
Arsakha tertawa mendengar jawaban pamannya. Ia tidak pernah bosan mendengar cerita tentang malam Jumat Kliwon itu, walau Kliwon sudah menceritakannya entah berapa ratus kali. Setiap kali diceritakan, jumlah buah randu yang jatuh menimpa kepala Kliwon selalu bertambah.
***
Waktu terus bergulir. Arsakha tumbuh menjadi pemuda yang tinggi, berdada bidang, dan berwajah bersih. Ada sesuatu pada wajahnya yang tidak dimiliki penduduk desa Kuncen. Garis rahangnya, sorot matanya, dan caranya berdiri ketika berbicara dengan orang lain. Setiap kali Kliwon memperhatikan hal itu, ia hanya bisa mengembuskan napas panjang dan menyimpannya sendiri.
Di usia tujuh belas tahun, Arsakha sudah mampu mengimbangi kecepatan Mindu ketika berlari di sela-sela pepohonan. Di usia delapan belas tahun, ia sudah mampu memukul batang jati sebesar pelukan orang dewasa hingga retak, tanpa melukai buku-buku jarinya. Di usia sembilan belas tahun, Nyi Rontek menurunkan ilmu pamungkasnya. Setelah itu sang pertapa duduk di atas batu singgasananya sembari termenung lama sekali.
“Ada apa, Bu? Apakah aku melakukan kesalahan?” tanya Arsakha waktu itu.
“Tidak, Ngger. Justru sebaliknya. Kau terlalu cepat menguasainya. Ibu yang dahulu membutuhkan waktu tujuh tahun, sedangkan kau hanya butuh tujuh purnama,” Nyi Rontek menatap putra angkatnya lekat-lekat. “Darah yang mengalir di tubuhmu bukan darah orang kebanyakan. Ibu semakin yakin akan hal itu.”
“Darah apa maksud Ibu?”
Nyi Rontek tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, lalu mengalihkan pembicaraan ke arah lain. Namun pertanyaan itu tidak pernah benar-benar hilang dari kepala Arsakha.
Ada banyak hal yang mengganjal di hati Arsakha selama bertahun-tahun. Mengapa ibunya tidak pernah menua sedikit pun, sementara Bibi Kamini dan Paman Kliwon sudah mulai beruban? Mengapa ibunya melarangnya pergi terlalu jauh dari alas Nggaranggati, sementara Jaka bebas berjalan-jalan ke Pasar Kuncen? Mengapa setiap kali ia bertanya tentang ayahnya, ibunya selalu menjawab dengan kalimat yang sama, bahwa waktunya belum tiba?
Beberapa kali pertanyaan itu hampir meluncur dari bibir Arsakha. Namun setiap kali melihat wajah ibunya, ia selalu mengurungkan niat. Ia takut pertanyaannya akan melukai perempuan yang telah membesarkannya.
***
Sementara itu, di dalam hati Nyi Rontek, pergolakan justru jauh lebih dahsyat.
Setiap kali bersemadi, sang pertapa selalu melihat hal yang sama. Seberkas cahaya yang membungkus aura Arsakha, lalu cahaya itu bergerak ke arah timur laut, menuju gugusan pegunungan Batur. Wangsit itu datang berulang-ulang. Semakin sering, semakin terang, dan semakin mendesak.
‘Sudah dua puluh tahun aku menyimpan rahasia ini. Setiap tahun aku berkata kepada diriku sendiri, tahun depan saja, tahun depan saja. Sampai akhirnya dua puluh tahun berlalu dan aku masih saja menjadi pengecut,’ batin Nyi Rontek.
Nyi Rontek turun dari batu singgasananya. Dari sela batu di dinding gua, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang sudah dua puluh tahun tidak pernah ia sentuh. Debu menutupi seluruh permukaannya. Ia mengusap debu itu perlahan, lalu membukanya. Sebilah keris pusaka berukuran kecil dan sebuah gelang berukir burung garuda yang mengepakkan kedua sayapnya masih tersimpan rapi di dalam sana.
“Kalian berdua yang akan mengantarkannya pulang,” gumam Nyi Rontek. Matanya berkaca-kaca.
Malam itu, ketika purnama menggantung bulat di atas Segara Lintang, Nyi Rontek meminta Kliwon dan Kamini datang ke gua. Ia juga meminta Jaka ikut serta. Arsakha yang baru pulang dari berlatih merasa heran melihat seluruh keluarganya berkumpul di dalam gua pada malam hari.
“Ada apa ini, Bu? Kenapa Paman dan Bibi datang malam-malam? Apakah ada sesuatu yang terjadi di desa Kuncen?” tanya Arsakha sembari mengeringkan rambutnya yang basah.
Nyi Rontek tidak segera menjawab. Ia hanya menepuk batu di sampingnya, memberi isyarat agar Arsakha duduk. Kliwon menunduk dalam-dalam. Kamini sudah lebih dahulu menahan air mata sembari meremas ujung kembennya. Jaka menatap bergantian ke arah kedua orang tuanya, kebingungan.
“Ngger,” suara Nyi Rontek terdengar berat. “Malam ini usiamu genap dua puluh tahun. Sama persis dengan lamanya Ibu menyimpan sesuatu darimu.”
“Menyimpan apa, Bu?” Arsakha mengernyitkan dahinya.
“Ibu ingin kau mendengarkan sampai selesai. Jangan memotong. Jangan pula membenci Ibu sebelum semuanya selesai Ibu ceritakan,” Nyi Rontek menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. “Dua puluh tahun yang lalu, pada malam bulan purnama seperti malam ini, Ibu sedang berjalan menyusuri tepi Segara Lintang. Ibu menemukan sesosok jenazah perempuan yang terdampar di antara batu karang. Dan tidak jauh dari jenazah itu, ada sesuatu yang mengapung di atas air, terbungkus selimut tebal, terapung-apung dibawa arus mendekat ke arah Ibu.”
Suasana di dalam gua menjadi sangat hening. Bahkan Mindu yang berbaring di sudut gua mengangkat kepalanya.
“Yang mengapung di atas air itu adalah seorang bayi laki-laki. Bayi itu masih merah. Umurnya belum genap sehari. Dan bayi itu ... adalah kamu, Ngger,” ucap Nyi Rontek. Air mukanya tetap tegar, tetapi suaranya bergetar hebat. “Ibu bukan ibu kandungmu. Ibu hanyalah seorang pertapa yang dipertemukan oleh takdir denganmu. Kamu bukan anak dari alas Nggaranggati. Kamu adalah anak dari orang lain, dari tempat yang sampai hari ini pun Ibu tidak tahu di mana letaknya.”
***
Bagaimana reaksi Arsakha setelah mengetahui kenyataan yang selama ini disembunyikan darinya?
Bersambung ....