8 bulan usai kejadian.
Kandungan Quin memasuki bulan ke-9 dimana dia akan segera melahirkan kedua bayi kembarnya yang semakin aktif seperti tidak sabar untuk menyapa dunia. Bukan waktu mudah bagi Quin untuk melewati bulan-bulan penuh cobaannya bersama kedua calon bayinya.
Setelah kehamilannya berada di bulan ke-4, Quin memutuskan untuk mengundurkan diri dari pegawai rumah sakit sebagai dokter tetap dan beralih menjadi dokter mandiri atau tidak tetap dengan kontrak mengikat hanya sebagai mitra kerja.
Tidak mau menyia-nyiakan pendidikannya, tidak mau menelantarkan pasiennya dan tidak mau menyiksa calon bayinya, Quin pun membuka tempat praktik sendiri di kediamannya di lantai 1.
Dr. Queenaia Roseanne, Sp.A
Dokter Spesialis Anak
Praktek
Pagi: 11.00 – 13.00
Sore: 18.00 – 20.00
Quin baru akan berkunjung ke rumah sakit pada pukul 09.00 sampai jam 10.00 pagi bila ada pasien mandirinya di praktik yang mengharuskan rawat inap di Reymundo Internasional Hospital.
Bersama 2 orang perawat yang akan membantunya, pagi ini praktek akan mulai buka seperti biasanya.
“Dokter, ini ada titipan ubi rebus dari ibu,” kata seorang perawat menyodorkan sebuah kotak bekal.
“Wah! Terima kasih, Aunty Nayra. Sampaikan juga terima kasih kami untuk Nenek Salma,” ucap Quin tulus.
“Permisi, Dok. Pagi ini ada 12 pasien yang mendaftarkan diri dan kita tetap membuka list pendaftaran sampai 20 orang seperti biasa.”
“Semoga tidak ada yang mendaftar lagi,” harap Quin setiap hari.
“Amin, Dokter.” Kalau ada yang mendaftar lagi, tandanya banyak anak-anak yang sakit dan dia tidak suka itu. Namun kalaupun banyak, dia akan dengan sigap dan senang hati membantu menyembuhkan anak-anak manisnya nanti.
Setelah pasien terakhir, Quin yang sedang melemaskan badannya itu tiba-tiba menegang merasakan kontraksi kencang di perutnya.
“Aw! Kenapa perutku sakit sekali?” rintih Quin mengelus-elus perutnya.
“Dok! Anda baik-baik saja?” Nayra dan 1 perawat lagi bernama Maura menghampiri Quin dengan panik.
“Sepertinya Dokter mau melahirkan!” kata Maura segera menghubungi 119 untuk tanggap gawat darurat.
“Dok, tahan sebentar. Tarik nafasnya pelan lalu buang.” Nayra membantu Quin untuk merilekskan badan yang sungguh tidak lagi bisa dipikirkan Quin.
Sekitar 8 menit menunggu, ambulans pun tiba dan dalam sekejap mereka tiba di rumah sakit tempat Quin bekerja dulu.
“Dokter Quin!” seru para perawat UGD yang mengenal Quin. Mereka langsung sigap bagi tugas memberi pertolongan dan menghubungi dokter kandungan Quin, Dr. Sella.
“Quin!” Sella selaku dokter kandungan Quin yang akan membantu Quin melahirkan.
“Sakit,” lirih Quin memejamkan matanya dengan kuat.
“Sudah bukaan 6. Kita tunggu sebentar lagi, Quin. Tetap tenang dan jangan melemah. Ingat kita akan menyambut 2 bayi kesayangan kita. Bayi yang Quin perjuangkan selama 9 bulan ini. Bayi yang akan menyempurnakan kebahagiaan kita semua. Okay, sayang?” Sella sendiri juga berusaha tenang agar tidak mempengaruhi Quin yang harus tetap rileks.
Meski kesakitan, wajah dan tubuhnya sudah basah akan keringat, Quin sama sekali tidak menangis dan tidak merengek mengeluh kesakitan. Sampai mati pun akan Ia perjuangkan kedua bayinya. Rasa sakitnya tidak seberapa dengan semangatnya untuk bertemu si buah hati.
‘Walau aku bisa menahan rasa sakit ini, namun aku tetap ingin ada kamu di sisiku. Menemaniku, menyemangatiku dan bersama menyambut kelahiran bayi-bayi kita. I wish you were here.’
Mungkin karena si kembar juga sudah tidak sabar untuk segera bertemu ibunya, tidak lama bagi Quin untuk mendapatkan bukaan sempurna.
1 jam lebih, Quin berjuang melahirkan anaknya secara normal. Bayi pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki lahir dengan sempurna tanpa kekurangan apapun. Selang 5 menit kemudian, sang adik juga lahir dengan sempurna dengan jenis kelamin perempuan.
“Selamat, Quin. Kamu berhasil berjuang melewati segala kesakitan dan kegelisahan selama 9 bulan ini. Sekarang saatnya kamu bahagia, sayang. Kamu telah membuktikan kalau kamu sudah menjadi wanita dan ibu yang kuat dan pantang menyerah. We are so proud of you, Mommy!”
Melihat kehadiran kedua buah hatinya yang sudah dibersihkan. “Anakku!”
‘Anak kita sudah lahir. Mereka kembar. Kembar sepasang. Aku berharap kamu ada di sini melihat bagaimana manisnya anak-anak kembar kita,’ batin Quin tersenyum sedih dengan angannya yang sungguh tidak mungkin terjadi.
Barulah air mata Quin berlomba-lomba keluar. Bukanlah tangisan sedih, namun sebuah tangisan bahagia menyambut kedatangan 2 bayi kembarnya.
“Berikan ASI lebih dulu, Quin. Mereka membutuhkan asupan mahal itu dari mommynya,” kata Sella membantu Quin menyusui kedua bayinya secara bergantian.
‘Bahkan wajah si kembar benar-benar duplikatmu,’ batin Quin lagi masih tertuju pada si pria yang menidurinya, ayah dari anak-anaknya.
Quin tersenyum melihat anaknya minum ASI dengan lahap. “Mommy yang mengandung dan membawa kalian kemanapun, kenapa tidak ada yang meniru wajah Mommy, heum?”
Meski masih lemah, Quin masih belum mau istirahat karena terus memandangi kedua bayinya bak sebuah keajaiban dunia.
“Jadi Mommy, apakah sudah ada nama untuk kedua kembar manis ini?” tanya Sella yang baru selesai mengaterilkan dirinya lagi.
Quin tersenyum lemah dan mengangguk pelan.
“Untuk anak Mommy yang paling tampan ini, Mommy kasih nama Leonell. Dan untuk anak Mommy yang paling cantik ini, Mommy kasih nama Loreene,” kata Quin mengecup lembut pipi anaknya.
“Wow! Nama yang sangat bagus, Quin! Baby Leone dan Baby Loreene.”
‘Aku harap, suatu saat nanti kalau Tuhan mengizinkan kita bertemu, kamu akan suka dengan nama pemberianku. Maafkan aku yang tidak bisa menyematkan namamu di dalamnya.’
Leonell Roseanne dan Loreene Roseanne.
♥♥♥
Lahiran secara normal membuat Quin lebih cepat pulih dan bisa segera kembali ke rumah. Sebelumnya Quin sudah lebih dulu membuat pemberitahuan maaf atas ketidaknyamanan para pasien dimana Ia akan cuti dari segala kegiatan hingga 3 bulan ke depan.
Meski sudah kelihatan lebih segar, tetap saja seorang ibu baru lahiran tidak baik untuk tinggal sendiri apalagi bersama 2 bayi kembar. Harus ada yang menemani dan mengurus terutama untuk 40 hari ke depan.
Beruntung sangat beruntung. Kedua perawatnya, Maura dan Nayra dan ibunya Salma yang sudah sangat dekat dengannya pun menawarkan diri untuk mengurus Quin san si bayi kembar.
“Anak-anak Mommy belum ada yang mau tidur, heum?” Quin bermain dengan kedua anaknya yang mulai belajar menggenggam. Ia kecup kedua tangan anaknya yang menggenggam telunjuknya erat.
“Lihatlah bagaimana miripnya kalian dengan Daddy,” gumam Quin memainkan lembut gempalan tangan-tangan manis itu.
“Ayo kita tidur, sayang. Pakai lagi sarung tangannya ya.”
Benar saja. Tak butuh waktu lama bagi Quin untuk menidurkan kembar manisnya. Memang sudah ngantuk, tapi tidak ada yang menangis minta tidur atau minum s**u.