"Kamu sedang apa sayang? "
Aku terdiam cukup lama sebelum suara pacarku kembali membuyarkan lamunanku.
"Enggak kok sayang, gak lagi ngapa-ngapain, lagi mikirin kamu aja. kamu kapan pulang?"
Boleh kah aku bohong kali ini. Kalau sebenarnya aku memikirkan orang lain? Aku sama sekali tidak mengerti dengan diriku kali ini, semakin aku berusaha melupakan semakin kerasa ingatan itu akan membayangiku.
Menjadi demam sakit, kecewa dan rasa bersalah pada orang itu. Dan orang itu pernah mengisi hatiku tapi belum sempat aku raih. Dia pernah menjadi bagian lelaki yang aku favoritkan. Dan kini aku termenung di bawah pohon angan-angan sebab melamunkam sosok dirinya. Tapi aku sadar aku tak mungkin menemukannya lagi sejauh apa aku melangkah untuk mencarinya.
Bolehkah aku berharap dia kembali? Aku hanya ingin sekali melihat seperti apa wajahnya sekarang apakah ia masih tampan seperti dulu? Aku ingin memastikan dia baik-baik saja. Aku sungguh merindukannya!
"Kau merindukanku?"
Ya! aku merindukannya. Merindukan senyumnya yang lebar, senyum yang membentuk lengkungan garis pipinya yang putih.
"Aku akan pulang. "
Pulanglah kembalilah aku ingin bertemu walau hanya sekali.
"Sehat-sehat ya sayang, "
Bagaimana aku bisa sehat jika aku selalu memikirkan pertemuanku dengannya. Bagaimana bisa aku tenang jika aku selalu membayangkan sosoknya yang dulu sangat jahil dan lucu. Sungguh aku ingin mengulang kenangan itu kembali.
Sebuah pertemuan yang ku kira tuhan lah penyebabnya, dan karena takdir yang menjadi alasannya.
Pertemuanku dengan Selin dulu bukanlah pertemuan untuk pertama kalinya di kelas itu. Kelas yang dulu menjadi tempat yang aku banggakan karena mempertemukan aku dengan sosok laki-laki yang aku cintai.
X.7. hari itu ketika aku melihat namaku di kelas itu, saat semua siswa siap untuk menempati kelasnya masing-masing. Aku sendiri takut, aku bingung dan malu. Aku selalu berfikir apakah aku akan aman di sekolah yang bahkan satu siswa pun. Tak aku kenali. Semuanya terlihat risih ketika melihatku. Aku memang orang baru di kota ini.
Sekolah ini terbilang sangat luas. Sekolah satu 'atap' bentuknya segi empat, di tengah terdapat lapangan utama yang sangat luas. Tempat melaksanakan upacara. Disebelah lapangan upacara adalah lapangan basket. Di situ aku selalu melihat za' selalu bermain sendirian ketika bolos kelas.
Ketika pertamakali melangkah di sekolah ini aku sudah tersenyum kagum, aku bersyukur bisa menemukan sekolah yang rata dengan tanah. Maksudku semua bangunannya tak ada yang bertingkat, semua terdiri dari 20 bangunan yang terpisah. Bangunan yang jika di telisik kalian tidak akan percaya berada di atas bukit permukiman warga. Sekolah yang letaknya di atas bukit mangga Dua ini memang dihiasi pemandangan laut lepas. Kadang aku selalu mengucap syukur bisa menemukan sekolah seindah ini.
Langkah kakiku semakin jauh menulisuri sekolah yang unik ini. Kenapa aku memgatakan unik selain berada di atas bukit sekolah ini juga berada di pinggir teluk laut Kendari.
Hatiku tersentuh saat menemukan keindahan yang terletak di belakang sekolah ini. Kudapati seorang menatapku dari kejauhan. Tatapan penasan yang membuatku salah tingkah. Aku segera melangkah kedalam kelas baruku. Kelas yang pintunya di pasangi jeruji besi yang hitam karena karatan.
Kelas masih terlihat sepi ya tentu saja ketika aku melirik jam di pergelangan tanganku itu masih menunjukkan pukul setengah 7 dani hari.
Kupandang setiap sudut kelas yang sangat klasik foto-foto pahlawan yang tergantung di setiap sisi dinding. Gorden yang melambai -lambai, jendela beralaskan debu, bangku-bangku yang sebagian telah rusak. Kupikir pemerintah kurang memperhatikan kondisi sekolah ini. Papan tulisnya bahkan masih menggunakan kapur. Atau aku saja yang belum melihat semua kondisi di sekolah ini. Semua apa yang kulihat di luar itu tak seindah apa yang berada didalamnya.
Aku melipat kedua tanganku di atas meja yang penuh coretan yang entah tulisannya tak terbaca lagi saking banyaknya tulisan yang saling bertumpuk aku menggeleng prihatin dengan sekolah ini.
Prang....!!!
Tiba-tiba saja.
Aku terkejut saat bunyi jeruji besi pintu berbunyi keras aku menoleh mendapati seorang lelaki betubuh tinggi tertawa keras sambil menengok kedalam kelas aku terdiam cukup lama. Lelaki itu lama memandangku dengan senyum yang belum lepas. Dia tersenyum padaku? Tidak! Itu hanya sisa tawanya dan keterkejutannya yang mendapatiku sendiri di kelas.
"ZA KELAPANGAN YOK, "
kudengar suara teriakan cowok di luar, dan selanjutnya lelaki. Yang tadi menatapku langsungg melenggang pergi tanpa mengucap apapun, tanpa menyapa siapa diriku.
Aku memalingkan wajah perlahan. Ya tuhan! betapa malunya diriku ketika mata hitam itu menatapku dan aku hanya diam tanpa mau mengucap sekatapun padahal itu adalah pertemuan pertama Mu', pertemuan pertama kita.
Pipiku panas penuh rona ketika bayang wajahnya yang tersenyum masih tergambar jelas. Sungguh aku merasa bingung dengn diriku yang sangat memalukan pada waktu itu.
Sudah kubilang kan Selin, kau bahkan tidak tau aku bertemu Za untuk pertama kali saat menginjakkan kaki di kelas kita. Pertemuan yang tak terduga itu tanpa ada sepatah kata.
Apa kau tau sejak itu aku mulai penasan dengan pemilik senyum lebar itu Sel, senyum yang ketika ku lihat akan membuat jantungku berdebar. Manik hitamnya yang indah dan alis tebal yang selalu terangkat, bentuk bibir tebalnya sangat pas dengan kumis tipisnya. itu masih lekat teringat dan semua itu milik Za' aku sangat menyukainya. Tapi Bukan berarti aku menyatakan perasaanku saat itu aku belum tau tentang perasaan antara lawan jenis aku masih terlalu polos untuk itu bisa dibilang aku belum mengerti soal cinta atau lebih tepatnya aku masih penasaran.
Aku penasaran dengan pemuda bertopi SMA itu, aku penasaran dengan pria begitu sulit untuk bepakaian rapi, penasaran dengan sikapnya yang sulit untuk ditebak.
"Za' aku merindukanmu sungguh aku ingin tau kabarmu, "
Aku tidak bisa berbohong dengan perasaanku Za' aku tidak bisa lagi menyembunyikan semuanya. Egoisnya diriku yang dulu telah membuatku semakin bodoh, aku terlalu bodoh untuk mengharapkan semunya terung kembali.
Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku butuh mesin waktu untuk kembali dan memperbaiki kesalahanku dulu. Semuanya tidak akan pernah kembali seperti dulu. Aku tau semuanya sudah berubah, kau mungkin sudah melupakan semuanya. Kau sudah lupa bagaimana kau membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Kau mungkin pernah lupa memilikiku sebagai perempuan berhati batu yang tidak pernah peka dengan perasaan tulusmu Za'
Bagaimana aku sangat bodoh tidak menyadari bahwa kau juga menyukaiku Za' aku telalu gensi dan pemalu yang parah.
"Sayang? "
Za' siang ini di depan sebuah laptop aku menulis cerita kita yang mungkin sudah kau hapus hilang menjadi kenangan masalalumu. Jangan kaget jika cerita ini nantinya ada di depanmu. Aku berniat mengemasnya menjadi novel remaja hanya saja ini lebih menarik karena di angakat dari kisah nyata hahaha!
Tentu saja Za' bukankah ini kisah kita?
"Sayang apa kau masih disana?"
Astaga aku sampai lupa dengan suara telfon yang sengaja aku speaker karena kegiatan mengetikku.
Maaf sayang maaf
"Maaf tadi habis ke kamar mandi, " bohongku membuat pacarku mendengus di sebrang telfon. Aku terkekeh mendapati kebodohanku. Bagaimana aku melupakan kekasihku sendiri.
"Kamu ya kebiasaan diemin aku. " rengeknya lebih terdengar marah.
"Enggak sayang tadi kan kamu lagi ngobrol sama temen kamu jadinya aku diam." ya itu alasan tepat bukan? Karena nyatanya sejak tadi pacarku ini berbicara dengan temannya dan membiarkan sambungan telfon tetap berjalan.
Kudengar suara tawa pacarku yang ku pastikan dia memaklumi kesalahannya dan semoga dia tidak bertanya karena saat ini aku sangat sulit untuk mencari alasan. "Kau sedang memikirkan apa sayang, jangan terlalu banyak melamun. "
Tebakan yang tepat sayangku, "Aku tidak melamun, " kataku dengan nada kesal. "Aku sedang mengetik dan mendengarkanmu berbicara. " jelasku.
"Baiklah sekarang aku ada meeting, kamu jangan tidur malam ya sayang, besok aku telfon, " katanya.
"What?are you serious?" kejutku. Aku berhenti mengetik dan menatap layar ponselku, "Kenapa besok? Kenapa tidak malam saja, "
"Aku sibuk sayang, " bibirku langsung mengerucut manja aku lupa pacarku orang sibuk.
"Hufhht... Baiklah jangan lupa menelfonku besok, " kataku dengan nada sedikit malas
Kudengar kekehan pacarku. "Jangan cemberut ya sayang. "
Aku hanya menjawab iya dan setelah mengucapakan kata perpisahan pria itu memutuskan sambungan dan itu artinya aku terbebas. Aku bebas untuk menulis tanpa beban hati pada pacarku. Tanpa rasa bersalah lebih tepatnya.
Za kisah kita di MULAI!!!