Sekarang cerita kembali ke sudut pandangku. Aku saat itu tak tahu siapa yang berucap dengan sombong seperti tadi. Aku hanya bisa melihat bayang dan siluet orang-orang yang banyak sekali. Debu-debu itu juga tak kunjung selesai-selesai sampai mataku terbelalak kelilipan terkenanya. Tapi aku bisa mendengar nafas Marioth berhembus tepat di samping telingaku. Dia bernafas sangat panjang seperti lega akan sesuatu, dia berkata. “Akhirnya, ini semua berakhir Gavin”
Aku mencoba berjalan mundur, mencari tempat yang lebih teduh untuk duduk dan beristirahat sejenak sambil menunggu seluruh puing-puing itu turun dan habis. Sementara Gilbart dan Tompu, berada tepat di sampingku. Mereka menyentuh bahuku seakan-akan kami telah berhasil mengalahkan Alexy.
Aku bertanya kepada mereka, “Apa yang terjadi? Ap