Udara di ruang B2 dingin seperti kamar mayat. Pendingin sentral mendesis pelan, menjaga ribuan map ungu itu dari lembap, dan kini menjaga pula keringat di pelipis Alga agar terasa seperti es.
Pintu baja sudah terkunci. Lampu menyala terang benderang. Di ambangnya berdiri tiga lelaki: dr. Wirya dengan jas putih tanpa setitik noda, Pak Damar dengan senyum kakek yang sama persis dengan poster "Pelayanan dari Hati" di lobi, dan Pak Gunawan—menunduk, memegang kartu akses kedua, bahunya gemetar.
"Selamat malam, Dokter Alga. Dokter Renjana." Suara Damar lembut. "Kalian rajin sekali."
Alga merasakan buku catatan kulit itu masih di tangannya, lalu—dengan gerakan yang ia harap tak terlihat—menyelipkannya ke balik punggung, ke dalam pinggang celana, ditutup jas.
"Pak Damar." Renjana melangkah maju setengah langkah, menutupi Alga. Suaranya datar, tanpa rasa takut yang seharusnya ada. "Ruang arsip jam tiga pagi. Bapak juga rajin."
"Saya selalu khawatir pada aset rumah sakit." Damar berjalan pelan di antara rak. Jarinya menyusuri punggung map-map ungu seolah membelai. "Tahu tidak, Dokter, akreditasi internasional itu seperti nyawa. Sekali angka kita jelek, dana hibah dua ratus miliar batal. Ribuan pasien miskin kehilangan rumah sakit ini. Kalian mau itu terjadi?"
"Yang Bapak sebut angka," kata Renjana, "punya nama. Bu Sulastri. STEMI inferior. Bapak pulangkan dengan diagnosis maag supaya dia mati di rumahnya, di luar statistik IGD."
Senyum Damar tidak goyah. "Bu Sulastri masih hidup. Kalian yang menyelamatkannya, kan? Berarti tidak ada korban. Tidak ada kasus." Ia berhenti. "Saya tawarkan satu hal, Dokter. Kesempatan diam. Lupakan ruangan ini. Kembali jadi dokter internsip yang baik. Dokter Alga, masa depanmu masih panjang—jangan dipendekkan sendiri."
Alga membuka mulut. Tangan Renjana menahan lengannya. Pelan. Ulur waktu.
"Sepuluh menit lagi shift saya selesai," kata Renjana. "Perawat Sekar akan mencari saya untuk serah terima. Kalau saya tidak muncul, dia akan tahu di mana saya. Bapak mau menjelaskan tiga dokter dan satu petugas hilang dalam satu malam? Setelah dr. Larasati 'kecelakaan tunggal'?"
Untuk pertama kalinya, kelopak mata Damar berkedut.
Wirya bergerak gelisah. "Pak, jangan diladeni. Kita—"
"Diam, Wirya." Damar tak menoleh. Matanya mengukur Renjana seperti seorang akuntan mengukur kerugian. "Kau pintar, Renjana. Seperti Larasati. Sayang sekali dia tidak cukup pintar untuk berhenti."
Itu pengakuan. Sehalus pisau, tapi pengakuan. Alga merasa darahnya berdesir.
Di belakang Damar, Gunawan mengangkat wajah. Hanya sekejap—matanya menemukan mata Alga. Lelaki tua itu tidak takut, sadar Alga tiba-tiba. Ia minta maaf. Lalu jari keriput Gunawan, yang sedari tadi bergetar, bergeser perlahan ke kotak merah di dinding samping pintu. Tuas alarm kebakaran.
Alga menahan napas. Jangan lihat ke sana. Jangan.
"Lima menit," gumam Renjana, sengaja, menarik semua mata padanya. "Lima menit selisih, Pak. Itu jarak antara hidup dan mati di IGD. Bapak tahu itu lebih baik dari siapa pun—karena Bapak yang mengaturnya."
"Justru karena itu," kata Damar, dan suaranya akhirnya kehilangan kelembutan, "saya tahu persis berapa lama waktu yang kalian punya. Tidak banyak. Wirya—"
Tangan Gunawan menyentak tuas ke bawah.
Sirene meraung. Lampu strobo merah berkedip menyilaukan di langit-langit beton. Di seluruh penjuru rumah sakit, di setiap pintu darurat, kunci elektromagnetik—yang dirancang membuka otomatis saat kebakaran—berdentang lepas.
Termasuk pintu baja B2.
"GUNAWAN!" Wirya menjerit.
Damar berputar, wajah ramahnya hancur menjadi sesuatu yang dingin dan tua. "Tutup pintu itu! TUTUP—"
Tapi Renjana sudah menarik Alga. "LARI."
Alga berlari, tangan menekan buku kulit di pinggangnya, jantung memukul tulang rusuk. Di ambang yang menganga, Gunawan menahan daun pintu baja dengan seluruh tubuh ringkihnya, menatap mereka, dan dengan suara yang nyaris tenggelam dalam raungan sirene, berkata:
"Tebus utang saya, Dok. Lari."