ICU RS Bumi Sentosa berbau antiseptik dan ketakutan. Sembilan ranjang, sembilan monitor berdenting tak serempak. Di ranjang tujuh, di sudut paling jauh dari pintu, terbaring Pak Gunawan.
Alga hampir tak mengenalinya. Kepala diperban tebal. Wajah kurus itu kuyu, ventilator memompa napas masuk-keluar dengan irama mesin. Monitor menunjukkan ritme yang masih ada, tapi lemah. GCS rendah. Koma dalam.
Alga datang dengan dalih sah: ia internsip, ICU bagian dari rotasinya, dan ia "ditugaskan" membantu—berkat Sekar yang menyelipkan namanya ke daftar jaga. Ia membawa stetoskop dan wajah setenang mungkin, padahal di dadanya jantung memukul keras.
Ia memeriksa lembar observasi di kaki ranjang. Lalu lembar terapi. Dan di situ tangannya berhenti.
Midazolam. Sedatif. Dosis tertulis di kolom—lebih tinggi dari yang lazim untuk pasien koma dengan napas yang sudah lemah. Diteruskan terus-menerus lewat syringe pump. Diparaf inisial yang ia kenali: W.
Wirya.
Alga menelan ludah. Pasien koma akibat cedera kepala tidak butuh sedatif sebanyak ini. Justru sebaliknya—dokter ingin menilai kesadaran, ingin pasien bangun. Memberi midazolam dosis tinggi terus-menerus pada pasien dengan napas rapuh sama saja dengan menekan pusat napasnya pelan-pelan. Lima menit demi lima menit. Tak ada satu momen yang bisa disebut pembunuhan. Hanya "perawatan". Hanya angka di kolom.
Kesalahan itu peti mati, pikir Alga, kalimat Renjana di hari pertama. Tapi ini bukan kesalahan. Ini pembunuhan yang menyamar jadi terapi.
"Membantu, Dokter Internsip?"
Suara itu membuat Alga nyaris menjatuhkan lembar. Wirya berdiri di ujung ranjang, jas putihnya kembali bersih sempurna, lengan kanannya tampak sedikit kaku—bekas pintu darurat semalam. Senyumnya tipis.
"Saya rotasi ICU minggu ini, Dok," kata Alga, menjaga suaranya datar. Bermain patuh. Seperti saran Renjana. "Kebetulan dapat pasien ini."
"Kebetulan." Wirya memandang Gunawan di ranjang. "Kasihan, ya. Petugas tua. Jatuh dari tangga. Sudah saya bilang berkali-kali tangga servis itu licin." Ia menatap Alga. "Pasien ini berat, Dokter Alga. Cedera kepala luas. Prognosis buruk. Jangan terlalu berharap. Kadang yang terbaik adalah membiarkan pasien... beristirahat dengan tenang."
Setiap katanya adalah ancaman berbalut belas kasih.
"Saya mengerti, Dok," kata Alga. Tangannya yang memegang lembar terapi tidak gemetar. Itu mengejutkannya sendiri.
Wirya pergi, pantofelnya berdecit di linoleum. Alga berdiri di samping Gunawan, mendengarkan ventilator memompa, monitor berdenting, dan di kepalanya satu kalkulasi dingin mulai berputar.
Dosis midazolam ini akan menghabisi Gunawan dalam dua, mungkin tiga hari. Diam-diam. Tercatat sah. Tak ada yang akan bertanya pada petugas tua yang "jatuh dari tangga".
Kecuali Alga memindahkannya. Keluar dari ICU ini. Keluar dari Bumi Sentosa. Tanpa membuat Wirya curiga, tanpa surat rujukan yang harus ditandatangani orang-orang Damar.
Alga menatap dada kurus yang naik-turun oleh mesin itu.
"Tahan, Pak," bisiknya. "Sekali lagi saya minta. Tahan."