RS Harapan Kita kecil, catnya mengelupas di beberapa tempat, IGD-nya hanya enam ranjang. Tapi malam itu, bagi Alga, tempat itu terasa seperti benteng.
dr. Anindita menyambut ambulans pinjaman di pintu belakang, sudah menunggu dengan brankar. Sigap, cekatan, tanpa banyak tanya—ia tahu apa yang dipertaruhkan.
"Bawa langsung ke ruang isolasi belakang," katanya. "Tak terdaftar di papan. Hanya tiga perawat saya yang tahu, yang saya percaya."
Gunawan dipindahkan, stabil, napasnya teratur kini. Di ranjang sebelah, di balik tirai, sosok yang sudah Alga kenal—Bu Sulastri, duduk bersandar, wajahnya jauh lebih segar dari terakhir kali. Di sampingnya, Nayla, putrinya, terjaga.
"Dok Alga." Bu Sulastri tersenyum lemah saat melihatnya. "Saya kira tidak akan ketemu lagi."
Alga mendekat. Inilah pasien stempel ungu pertama yang ia dan Renjana selamatkan—STEMI inferior yang dipulangkan jadi "maag". Saksi hidup pertama. "Bagaimana kabar Ibu?"
"Jantung saya masih di sini." Sulastri menepuk dadanya pelan. "Kata dr. Anindita, sudah dipasang ring. Sudah mendingan. Cuma..." Ia menoleh ke arah Gunawan. "Bapak itu kenapa, Dok?"
"Beliau membantu kami," kata Alga. "Sama seperti Ibu. Beliau juga korban orang-orang yang sama."
Sulastri terdiam. Nayla, yang sejak penjemputan di gang tumbuh jadi remaja yang lebih keras dan waspada, menatap Alga. "Mereka mengejar Ibu lagi, Dok?"
Alga tak ingin berbohong pada anak ini. "Mungkin. Karena itu Ibu di sini. Karena di sini kalian aman."
Di ruang dokter kecil Anindita, mereka berkumpul: Alga, Renjana, Anindita. Aliansi yang dua minggu lalu belum ada—kini terbentuk, lintas dua rumah sakit.
"Jadi sekarang kita punya dua saksi hidup," kata Anindita, menuang teh ke gelas-gelas plastik. "Sulastri dan Gunawan. Plus satu berkas kasus lengkap dari loker Larasati. Itu kuat."
"Belum cukup," kata Renjana. "Dua kasus bisa disebut anomali. Satu berkas bisa disebut salah administrasi. Pengacara Yayasan akan merobeknya dalam lima menit."
"Berapa yang kita butuh?" tanya Alga.
Renjana menatap dinding, berhitung di kepalanya seperti selalu. "Selusin. Minimal dua belas kasus terbukti, dengan diagnosis berat dicoret, distempel ungu, dipulangkan, lalu mati di luar dalam hitungan hari. Dua belas kasus dengan pola identik. Itu bukan lagi anomali. Itu sistem. Itu desain. Tak ada pengacara yang bisa menyebut dua belas mayat sebagai kebetulan."
"Dari mana dua belas?" tanya Alga. "Map ungu sudah dipindahkan sindikat. Kita cuma punya satu berkas utuh."
Anindita mengangkat tangan. "Mungkin saya bisa bantu." Ia membuka laci, mengeluarkan map sendiri. "Harapan Kita ini rumah sakit kecil. Tapi kami sering menerima pasien yang... datang terlambat. Pasien yang katanya 'baru dipulangkan dari Bumi Sentosa dengan diagnosis ringan', lalu tiba di sini sudah dalam kondisi kritis atau meninggal di perjalanan."
Alga menegakkan punggung. "Kalian punya catatannya?"
"Kami rumah sakit jujur, Dok. Kami catat semuanya." Anindita membuka map. "Dalam dua tahun terakhir, saya hitung kasar—ada belasan pasien rujukan tak resmi dari arah Bumi Sentosa yang polanya mencurigakan. Dipulangkan sehat menurut surat, tapi datang ke sini sekarat. Saya selalu merasa ada yang salah. Tapi tak pernah punya potongan puzzle yang lain."
Renjana mengambil map itu, membacanya cepat, matanya menyala.
"Inilah potongan yang hilang," gumamnya. "Larasati punya catatan dari dalam. Anindita punya catatan dari luar. Status asli Bumi Sentosa, ditemui lagi sebagai jenazah di Harapan Kita. Kita cocokkan tanggal, nama, diagnosis—"
"—dan polanya akan menjerit," sambung Alga.
Untuk pertama kali malam itu, ada keheningan yang bukan ketegangan. Melainkan tekad.
Di luar, fajar menyingsing di atas RS Harapan Kita yang kecil dan reyot. Di dalamnya, dua saksi yang bernapas, tiga dokter yang menolak diam, dan setumpuk kertas yang—jika disusun dengan benar—bisa meruntuhkan rumah sakit raksasa di seberang kota.