Kavi sembilan belas tahun, kurus seperti kakaknya, dengan mata yang sama lelahnya tapi masih bisa bercanda.
"Jadi aku diculik?" tanyanya dari atas brankar lipat di mobil Anindita, selang infus melilit lengannya yang tipis. Wajahnya pucat tapi senyumnya nakal. "Keren juga punya kakak yang main intrik rumah sakit."
"Diam dan jaga jalur infusmu," kata Renjana, tapi suaranya tidak setajam biasanya. Tangannya menahan kantong cairan agar tetap tinggi.
Mereka bergerak pukul dua dini hari, jam paling sepi. Anindita menyetir sendiri—mobil pribadinya, bukan ambulans, supaya tidak menarik perhatian sistem pelacakan rumah sakit. Alga duduk di belakang, memantau Kavi: nadi, napas, warna bibir.
"Tekanan?" tanya Anindita dari kursi depan.
"Seratus per tujuh puluh. Stabil," jawab Alga. "Tapi suhunya mulai naik. Tiga puluh tujuh delapan."
Renjana menegang. Suhu naik bisa berarti reject mulai. Bisa juga cuma stres perjalanan. Garis tipis antara dua kemungkinan itu adalah hal yang membuat dokter tidak bisa tidur.
"Dua hari cadangan obat," kata Renjana, lebih ke diri sendiri. "Kalau Anindita bisa mengakses jalur obatnya lewat jaringan independen, kita aman."
"Aku sudah telepon kenalan di RS pemerintah," kata Anindita, matanya tetap di jalan. "Mereka punya stok untuk pasien transplantasi. Bukan kuota Damar, bukan jaringan apoteknya. Begitu Kavi terdaftar sebagai pasien Harapan Kita, dia masuk sistem yang tidak bisa mereka putus diam-diam."
Renjana memejamkan mata. Alga melihat bahunya turun beberapa senti—beban yang ia panggul berbulan-bulan, sedikit terlepas.
Tapi belum semua.
"Begitu mereka tahu Kavi pindah," kata Renjana pelan, "mereka tahu aku memilih melawan. Bukan diam. Tidak ada jalan balik setelah malam ini, Alga. Kalau dulu aku masih bisa berpura-pura cuma menjaga pasien diam-diam, sekarang aku sudah menyatakan perang."
"Anda sudah menyatakan perang sejak Anda membawa saya menjemput Bu Sulastri," kata Alga. "Ini cuma membuatnya jujur."
Di lampu merah yang kosong, Anindita berhenti. Tidak ada mobil lain. Kota tidur. Hanya lampu yang berganti merah-kuning-hijau pada jalanan tanpa siapa-siapa, seperti aturan yang masih berlaku meski tak ada yang menonton.
"Kak," kata Kavi tiba-tiba dari brankar. Suaranya lemah tapi serius. "Aku tahu apa yang kakak korbankan. Karier. Keamanan. Mungkin nyawa. Untuk obat yang bisa kakak dapatkan kalau kakak cuma... diam."
Renjana menoleh ke adiknya.
"Jangan diam karena aku," kata Kavi. "Aku lebih malu punya kakak yang hidup tapi bukan dokter, daripada kakak yang dokter tapi—" ia berhenti, tidak menyelesaikannya.
Renjana meraih tangan adiknya. Untuk waktu yang lama tidak ada yang bicara.
Lampu berganti hijau. Anindita melaju.
Ketika mobil masuk ke pelataran RS Harapan Kita—kecil, catnya mengelupas, tapi lampunya menyala terang dan jujur—Renjana akhirnya bicara.
"Aku ingat sumpah itu," katanya, menatap pintu IGD kecil yang menanti. "Aku akan menjaga kesehatan pasienku sebagai pertimbangan utama. Aku mengucapkannya delapan belas tahun lalu, di gedung yang bahkan tidak kuingat lagi mukanya." Ia menelan ludah. "Aku tidak pernah berpikir suatu hari sumpah itu harus diuji di atas darah keluargaku sendiri."
Anindita mematikan mesin. "Dan?"
Renjana membuka pintu mobil. Udara dini hari masuk, dingin dan bersih.
"Dan aku memilih menepatinya," katanya. "Sekarang ayo turunkan adikku. Suhunya naik. Kita punya pekerjaan."
Mereka membawa Kavi masuk, brankar berderit di lantai keramik. Di belakang mereka, di kota yang gelap, jaring sindikat baru saja kehilangan satu simpul yang mereka kira paling kuat mereka pegang.